Pemuda Menawarkan Masa Depan

Gerakan Sekolah Menulis Buku

Sudah sekian lama pemuda-pemuda kita disuguhi dengan berbagai macam kabar yang begitu menyedihkan. Kabar-kabar tentang minat baca, kekayaan alam, kondisi, dan keadaan sosial di masa depan seolah menjadi garis panjang perjalanan yang begitu suram. Televisi, surat kabar, dan pemberitaan di media dalam jaringan, seolah mengedepankan kabar keprihatinan dari pada semangat perubahan.

Kabar-kabar keprihatinan terus bertebar bagai bencana alam tsunami yang siap menerjang siapa saja. Baru-baru ini tentu sangat populer tentang bagaimana rendahnya moralitas bangsa, seorang guru yang dipukuli oleh orang tua siswa dan berbagai pemberitaan yang menunjukkan degradasi moralitas anak-anak kita. Hal ini lebih populer dibandingkan prestasi anak bangsa yang berhasil membuat film pendek mengangkat tema ondel-ondel atau usaha pemuda bangsa yang berencana membuat tutwuri.id.

Rehatlah sejenak dan mari tengok ke belakang, betapa dahulu pendiri kita selalu mengedepankan semangat-semangat pembangunan dari pada kabar-kabar suram. Kata-kata semacam: Beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia, lebih banyak menghiasi pengkabaran di berbagai lingkungan daripada: Sembilan dari sepuluh anak-anak bangsa Indonesia memiliki masalah buta aksara. Betapa baiknya pemasukan pola pikir yang dikumandakan para pembangun bangsa ini.

Sudah saatnya pemuda-pemuda kita menawarkan masa depan. Sudah saatnya pemuda-pemuda kita diajari mengendalikan bahtera bangsa ini. Pemuda selalu dijejali dengan sejarah yang dimaksudkan sebagai pembelajaran, namun alangkah baiknya mereka juga diberi pemahaman optimisme tentang masa depan.

Sudah saatnya kita membersamai pemuda-pemuda lain untuk belajar, berkembang, dan merencanakan. Kerja keras akan selalu datang ketika sudah mendapatkan ilmu dan perencanaan yang matang. Generasi muda adalah cerminan masa depan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Sapta Arif’s story.