Memulihkan Diri

Luka mengejutkan kita di tengah jalan tanpa permisi dan basa-basi. Kita terpelanting dan hancur. Tulang-tulang kita patah-patah, hati kita apalagi.

Luka sempat pergi dan kita sudah bisa berdiri. Kemudian, ia bertamu lagi. Kali ini ia lebih kuat, sedang tubuh kita masih patah-patah.

Kita berusaha meneteskan obat merah, perban, plester pada luka yang entah berapa banyak. Kita belajar untuk memulihkan diri kita sendiri, meski air mata dan dada sesak ikut mampir. Kita kemudian perlahan-lahan pulih.

Hidup kita kemudian kita rumuskan sebagai sehat-sakit-pulih-sakit lagi-pulih lagi-sakit lagi-pulih lagi-pulang.

Jadi, selain hidup rangkaian luka, Ia adalah rangkaian kita memulihkan diri. Suatu saat jika luka kembali bertamu dan membanting kita kuat-kuat, kita akan menerima pukulan dan bantingannya, kemudian kita akan belajar untuk pulih lagi. Terus begitu, hingga kita berpulang.

Mari kita bersepakat untuk meyakinkan diri bahwa kita lahir bukan hanya terlatih untuk patah hati, tapi juga terlatih untuk memulihkan diri.