Tentang Terserah

Diambil dari: https://www.behance.net/gallery/12455321/TERSERAH

Berawal dari sebuah kebiasaan umum yang dipelihara dan digemari sekaligus dibenci oleh banyak orang, kata “Terserah” menjadi sebuah primadona.

“Kapan kita kumpul?”

“Kalau aku sih terserah.”

“Yah, kapan dong. Minggu depan?”

“Wah, aku ada acara”

“Okay, kalau kita jadi kumpul. Pergi kemana?”

“Aku sih ikut aja”

“Ke Bandung?”

“Jangan ke Bandung dong, ke tempat lain aja”

Kemudian pembicaraan hanya sekedar basa basi busuk yang memenuhi ruang obrolan di media sosial. Kata “Terserah”, “Ikut aja”, “Enggak tahu”, “Abstain” adalah kata-kata yang dimuntahkan sebagai alasan atas pendirian yang melambai-lambai. Dan lawan bicara kata “Terserah” kemudian akan kebingungan setengah mati mencoba memecahkan kode “Terserah”. Dihitung secara matematispun, nampaknya masih akan membuat orang kebingungan. Ini bukan artinya lawan bicara kita tidak peka, loh ya. Ini bisa jadi karena kita yang mengeluarkan kata “Terserah” belum punya pendirian yang kuat.

Mungkin itu hanya sebuah mekanisme perlindungan diri atas kebingungan dan tidak punya pijakan, tapi dalam kehidupan, kita memang dihadapi dengan kebingungan-kebingungan, bukan?

Ya, memang kebingungan-kebingungan kerap menghadang kehidupan yang sudah carut marut ini. Ketakutan dalam mengambil tindakan dan takut disalahkan adalah modal utama kata “Terserah” menjadi primadona. Tapi, kebingungan dan rasa takut bukankah tanda bahwa kita masih punya rasa. Dan bukankah dengan menikmati bingung dan takut itu adalah esensi yang memanusiakan? Maka, bukankah kita harus melatih diri untuk mengambil kendali utama hidup kita daripada menyandarkan segalanya pada orang yang bahkan juga tak tahu harus bagaimana?

Memutuskan sesuatu yang bahkan kita tidak tahu dan penuh dengan potensi baik buruk mungkin akan memberikan sentuhan yang mendebarkan, bukan?

Selama itu baik, putuskan saja segera langkah mana yang mau kita ambil. Masih bingung? cari informasi, konsultasi, baca buku, introspeksi, lakukan apa saja yang membuatmu yakin dan menghindari kata “Terserah”.

Tak terhitung seberapa banyak kata terserah yang aku ucapkan. Hingga pada pergantian tahun baru 2017 ini, aku merenungi betapa hidup penuh dengan “Terserah” dan rasa takut dalam mengambil keputusan. Hal ini membuatku lelah dan justru terperangkap dalam pilihan yang kadang tidak sesuai.

Maka, resolusi tahun ini aku tambahkan sebuah tekad,

Tidak mengatakan “Terserah” dan tidak menerima orang yang bilang “terserah” kepadaku.

Sungguh, meski baru dua bulan, hidup tanpa ‘Terserah’ adalah sebuah petualangan tersendiri. Ada senang, sedih, dan takutnya. Ada masa membahagiakan, dan ada masanya juga ketika akhirnya disalahkan oleh orang-orang yang tidak bisa memberikan pilihan dan menyandarkan padaku.

Aku menemukan situasi-situasi baru dan bahkan aku sempat beberapa kali bilang ‘Terserah’ dan meralatnya.

Maukah kau mencobanya?

Nanti kita jabarkan kisah kita bersama-sama tentang sebuah petualangan tanpa ‘Terserah’ yang sungguh,

Mendebarkan.