Yang Sudah Lalu

Seberapa aku ingin lari. Dan dari begitu banyak wajah datang silih berganti, aku tidak bisa melepaskan semua yang sudah lalu. Yang sudah membentuk aku sehancur ini meski hanya separuh. Butuh seumur hidup untuk melekatkan separuh aku yang remuk. Namun belum selesai Ia sembuh, tubuhku hancur lagi. Yang lalu hadir lagi dalam bentuk yang baru, menghancurkan aku hingga luluh. Dan aku hancur namun tak kunjung gugur. Betapa gugur terasa begitu indah dibandingkan kehancuran yang mengenaskan. Aku lari dengan tubuh yang patah-patah, namun yang lalu terus mengejar. Kemudian kebisingan membisik ke dalam rongga-rongga telingaku, “Sekali kau merasakan aku, meski sudah lalu, suatu saat aku akan kembali, terus menerus, hingga kau terbiasa hancur sehancur-hancurnya”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.