BANYAK URUSAN PRIBADI

Sebagai mantan mahasiswi, saya merasakan betapa impian bisa sekali dirangkai setiap hari, harapan bisa menjadi bagian dari perubahan, membantu kesejahteraan masyarakat, menjadi otak di segala kesempatan bersaing untuk membangun negeri.

Namun harapan ideal itu sirna seketika tugas kuliah menghantui, dosen pembimbing serasa nyi kunti yang datang tak kunjung pergi menakuti, ujian semester yang serasa uji nyali, akhirnya hanya bisa bermimpi, semoga usaha siang malam mengurung diri menghadapi realita kampus bisa menyelamatkan ipk kami.

Iya, impian membangun negeri, akhirnya sirna hanya karena takut digantung anggota keluarga ketika pulang-pulang bawa ipk seujung jari.

Impian besar untuk orang banyak, kalah dengan impian bisa berbangga dengan IPK sebagai angka keramat.

Ketika kami mulai bangkit kembali di akhir-akhir masa kuliah, harapan bisa mengembalikan peradaban yang lebih baik di masyarakat, menciptakan SDM yang kuat serta mampu bersaing di dunia internasional, membantu kaum menengah ke bawah membangun ekonomi, akhirnya harus kalah hanya dengan impian bisa menjadi sarjana dengan selamat dari bantaian dosen penguji. 
Impian besar yang maha ideal itu, lalu sirna sudah karena lagi-lagi impian yang diharapkan hanya untuk diri sendiri.

Lulus cepat agar tak malu bertemu saudara ketika lebaran tiba.

Lalu ketika persiapan wisuda menjelang, hati riang bukan kepalang, harapan bisa semakin bermanfaat bagi orang banyak semakin melekat, namun nyatanya bisa hancur dengan impian kerjaan cepat didapat. Cepat dapat penghasilan karena diri ini sudah terlalu banyak keinginan. Beli ini, beli itu agar hidup lebih bermakna. 
Lagi-lagi, prinsip hidup bermanfaat sirna hanya dengan keinginan pribadi.

Terkadang, impian mengenyam pendidikan yang tinggi, hanya sebatas kepuasan pribadi. Saya perlu akui, saya adalah salah satu dari alasan-alasan yang saya sebut tadi. Saya amat curang ketika berbicara harapan bagi bangsa padahal hanya untuk kepentingan pribadi semata.

Setelah lulus kuliah, justru keinginan mendapatkan pencapaian pribadi lebih menangih daripada keinginan mendapatkan kepuasan hati atas kebermanfaatan bagi orang banyak.

Diri ini mengharapkan peningkatan kemampuan diri agar bisa terlihat hebat, namun lupa bahwa yang paling penting adalah manfaat. Bagi diri sendiri, apalagi bagi orang banyak.

Maka, bagi insan pecinta indomie dan golongan MSG sekalian, marilah kita singsingkan lengan kita, agar pencapaian yang kita dapat bukan sekedar untuk kepentingan pribadi semata, sekedar menambah followers instagram untuk berbangga-bangga, menyombongkan aktivitas minim manfaat yang tak lebih dari sekedar narsisme semata, bukan hanya sekedar ingin dianggap hebat manusia, namun justru melupakan hakikat penciptaan kita sesungguhnya- menjadi pemimpin di muka bumi, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi sesama makhluk Tuhan yang lain.

Semoga, semakin kita banyak mendapatkan ilmu di bangku, tidak serta merta membuat impian kita semakin mengerdil, semakin mementingkan diri yang kemudian lupa, bahwa hidup adalah untuk berbagi. Bukan untuk sekedar berbagi kebahagiaan semata untuk berbangga dengan aib yang sedang Tuhan tutupi.

SA,

Benar-benar catatan untuk diri sendiri.

26 Oktober 2017

©Sarah Nurul Aini

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.