Namanya Agnes. Aku bertemu dengannya kemarin di stasiun. Dia mengulurkan tangannya padaku dan menarikku karena kereta akan segera berangkat. “Baik sekali,” Pikirku. Namun beberapa saat ketika kereta mulai meluncur, dia mendorongku keluar pas ketika rintik hujan pertama turun mengenai hidungku. Aku terhempas ke tanah. 
“Hei!” Aku berteriak memanggil namanya. Iya, aku tahu dia bernama Agnes karena seragam sekolah yang dikenakannya terdapat nama yang menempel disana.

Dan hari ini dia sedang makan Es Krim di taman. Aku menghampirinya dengan nada kesal, “Kau! kenapa kemarin mendorongku keluar?”

“Kau siapa? Aku tidak mengenalmu. Kenapa tiba-tiba berteriak padaku?” Dia menatapku seolah baru pertama kali melihatku.
“Kau kan Agnes! kemarin kita bertemu di stasiun.” Nafasku terpotong-potong. Aku marah.
“Agnes? kau kemarin bertemu Agnes?”
“Kau kan Agnes?” Aku semakin heran. Kenapa dia malah balik bertanya.
“Agnes itu saudara kembarku yang meninggal setahun yang lalu di stasiun. Dia terlindas kereta karena terdorong oleh seorang ibu-ibu dengan tas belanjaan.” Gadis itu menatap Es Krimnya. Dia melanjutkan, “Dia memang selalu muncul kadang-kadang, menemuiku. Dan menghilang begitu saja ketika hujan pertama turun.” Wajah gadis itu murung. Es krimnya mencair.

Sarah Astro

2 Oktober 2016

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.