69 Colebrooke Row #6

Sarahkasme
Nov 6 · 4 min read

“Tunggu saja di sana. Aku sampai sekitar 3 jam dari sekarang.”

Belum pernah aku terjebak di stasiun dan diminta menunggu lama, tapi sesenang ini.

Mendadak memang. Awalnya aku tidak berharap banyak untuknya datang dan menjemputku. Namun sungguh, aku tak punya pilihan. Terjebak di stasiun dan dikelilingi massa pendemo, jalanan ditutup sana-sini, hujan deras, tak membawa payung. Padahal biasanya hanya membutuhkan waktu 15 menit jalan kaki dari stasiun menuju hotel itu.

Lama ya.

Namun tidak ku coba tanyakan keberadaannya. Karena aku tahu, Sabtunya terusik karena permintaanku yang amat sangat mendadak. Lagipula percuma, ia sebutkan sudah sampai mana pun aku tak banyak tahu soal tempat di kota ini.

“Ting.”

“Aku di busway.”, bersama pesan itu terlampir gambar kakinya dengan latar belakang pemandangan di dalam busway.

Aku tersenyum. Seakan ia tahu aku bertanya-tanya.

Akhirnya hari ini datang juga.

Aku berusaha membunuh waktu dengan membaca novel. Tiga setengah bab terlewati.

“Ting.”

“Kamu sebelah mana stasiun?”

Ku kirimkan gambar kakiku dan pemandangan hiruk-pikuk khas stasiun di depanku.

“Di sini.”

Ku lanjutkan lagi bacaanku. Tanggung, beberapa lembar lagi empat bab.

Terasa getaran dari kursi tunggu sebelahku. Tak aku gubris. Aku tetap asyik membaca. Setelah bab itu tamat, aku mulai mencari lagi keberadaannya. Kiri…. Ke depan…. Ku tolehkan kepalaku. Mana dia ya? Kan…. Lho ternyata dari tadi dia di sini, di kursi tunggu sebelahku.

“Dari kapan di sini? Kok ga bilang?” Pipiku hangat, memerah.

“Ga mau ku ganggu kayaknya lagi seru.”

Pakaiannya basah kuyup. Badanku mendekat, ku raih lengan bajunya.

“Basah. Bawa baju ganti ga?”

“Aku ga bawa apa-apa. Cuma HP, dompet, sama payung.”

Tak sadar, rupanya bajuku mengenai bajunya yang basah.

“Tuh baju kamu ikutan basah jadinya kan.”

“Yah gimana dong.”

“Ini sweater kan? Ada baju lagi di dalemnya? Buka, nanti masuk angin lho.”

Karena baju di balik sweater itu pendek, khawatir terangkat saat ku buka sweaternya, aku meminta izin ke toilet untuk melepas sweaterku.

Terlanjur basah, sweaterku ku jadikan handuk untuk menyerap air di bajunya yang basah kuyup.

“Tunggu sampai hujannya reda ya.”

“Iya.”

Kami terdiam untuk beberapa saat. Hujan cukup deras sehingga yang terdengar hanya suara rintik hujan yang menghujam atap stasiun. Dalam keheningan batinku…

Matanya berhenti saat menatap lantai.

“Serius kamu mau pake itu buat jalan? Jauh lho. Muter-muter. Bisa sejam kita nyampe. Bawa sendal ga?”

Tak kuduga ia mengomentari wedges shoes yang ku kenakan.

“Ngg… Ngga sih. Tapi kalo flat shoes ada.”

Ku buka ranselku, mengorek-ngorek dalam, dan… Dapat!

“Ini gimana?”

Ia mengamati sepatuku.

“Hmm better lah, dibanding yang tadi. Engga capek kan kalo pake itu?”

“Ini sepatu regulerku untuk kuliah kook.”

“Mulai reda, pergi sekarang?”

“Yuk.” ku gendong ransel merah mudaku. Aku nampak kikuk dengan tasku yang besar.

“Tasnya harus sebesar ini? Haha. Sini aku bawain.”

“Eeeh jangan, berat.”

“Justru karena berat.”

Kami mulai berjalan dan memutuskan arah mana kami memulai. Ia tanya petugas keamanan sekitar, jalan mana saja yang tidak terblokade pagar berduri. Aku mencoba membantu.

“Udah, ga usah. Biar tour guide yang tangani. Turis diam saja.”

Kami berjalan beriringan. Membicarakan hal-hal kecil namun berarti besar bagiku. Maklum, ini kali pertama kami bertemu setelah ia hilang jejak. Beberapa kali jalan kami buntu karena tertutup barikade-barikade petugas keamananan, tentunya kami harus memutar bahkan masuk ke gang-gang sempit di antara bangunan.

Aku membuka ponselku untuk mencari jalan untuk pejalan kaki terbaik.

“Ga perlu. Tadi udah aku coba.”

“Udah? Jangan bilang….?”

“Ya, tadi aku jalan kaki dari Victoria Station sampai stasiun. Halte bus terdekat ditutup karena aksi demo itu, kan.”

Ia rela berjalan kaki sejauh itu demi menjemputku ke stasiun, di tengah kegaduhan aksi demonstrasi seperti ini. Aku merasa terlalu berlebihan untuk meminta bertemu dengannya dan meminta tolong untuk membawaku keluar dari stasiun menuju hotel di mana aku dan teman-temanku akan staycation.

Beberapa kali kami berhenti untuk duduk beristirahat. Duduk dan berbagi minum. Sesekali ku periksa ponselku. Teman-temanku masih dalam perjalanan, masih cukup jauh.

“Lihat di depan. Sebentar lagi kita sampai. Temen-temen kamu udah sampai mana?”

“Masih jauh katanya, mungkin sekitar 1 jam lagi baru sampai stasiun.”

Tidak terasa, 1 jam sudah kami berjalan. Entah berapa kilometer, karena jalan yang berliku-liku dan banyak putar balik tentunya. Akhirnya tibalah kami.

Ternyata hotelnya terletak di lantai 6 sebuah mall. Untuk membunuh waktu, ia pun mengajakku menunggu sambil beristirahat di salah satu kafe di sana.

Tepat di depan pintu kafe, ia menghentikan langkahku lalu sedikit mendahuluiku. Kemudian tiba-tiba ia membukakan pintu kafe itu untukku. Sejenak aku terdiam. Entah, tapi hal kecil ini tak pernah ku dapatkan dari pria lain. Bahkan mantan pacarku. Aku sudah terbiasa mandiri, melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan. Aku merasa sangat diapresiasi olehnya sebagai wanita. Sampai suaranya menyadarkanku, “Ayo.”, serunya. Kemudian kami masuk dan menempati meja dekat jendela, lalu memesan 2 gelas cappuccino hangat.


Aku dan tangan sabunku.

Tak sengaja ku jatuhkan sendok, entah bagaimana ceritanya sendok itu terpental jauh ke bawah kursinya. Dengan sigap n̶a̶m̶u̶n̶ ̶c̶e̶r̶o̶b̶o̶h̶, akupun mengambil sendok itu. Ku gapai-gapai sendok itu namun tak juga terjangkau oleh tanganku. Ia hanya terkekeh lalu menyilangkan kakinya. “Udah, udah. Aku mintain sendok bersih.” Aku tengadah di atara kedua kakinya yang menyilang. Ia tersenyum. Lalu mengusap puncak kepalaku. “Ayo duduk lagi.”. Kolong meja yang gelap rasanya mendadak cerah. Sepertinya pupilku melebar. Layaknya anjing peliharaan yang diusap majikannya di kepala setelah lama tak berjumpa.

“Kalau temen kamu datang, tugasku selesai ya?”

“Yaaah kenapa?”

Ditekannya kedua pipiku dengan satu tangan. “Perjalanan pulangku 3 jam lho. Jangan lupa.”.

“Ada deadline ya?”

“Hmm? Ngga kok. Kamu kan judulnya ke sini staycation sama temen. Jangan sampai lah malah berduaan, ngerusak agenda. OK?”

Satu jam berlalu. Beberapa perempuan menggendong tas ransel berjalan melewati muka kafe.

“Itu temen kamu bukan?”

“Hah mana?”, aku menoleh ke arah jendela sambil mencari keberadaan mereka.

“Mereka ke sana.”, ujarnya sambil menunjuk

“Sebentar.”, akupun lari ke arah itu.

Ya ternyata benar, itu teman-temanku. Mereka akan naik ke atas dan check in. Aku meminta mereka pergi terlebih dulu, nanti aku akan menyusul. Saat aku kembali ke kafe, ia telah merapikan meja dan barang-barang bawaanku serta membayar bill-nya. “Saatnya berpisah, kurasa?”

Sontak ku peluk tubuhnya. Erat. Takut kehilangan jejaknya lagi.

“Setelah ini, kita akan bertemu lagi kan?”

Hening.

Dingin. Ku dengar degup jantungnya melaju.

Ia berbisik.

“Pasti.”

    Sarahkasme

    Written by

    Tentang pemikiran sehari-hari yang dituangkan ke dalam tulisan, curahan hati terbalut fiksi, dan sesuatu untuk dikenang dalam rangkaian kata seorang sarkastis.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade