Solo. The spirit of java, demikian branding yang dikenalkan oleh Joko Widodo, saat kala itu beliau menjabat sebagai walikotanya. Solo yang sekarang adalah solo yang dahulu. Konservasi budaya, bangunan dan peninggalan-peninggalan masa lalu berusaha dibangkitkan kembali.

Ingin merasakan suasana masa lalu kota-kota di Jawa, Solo jawabannya. Kota yang terus tumbuh bersanding dengan tradisi jawa. Terus berbenah mengikuti modernnya negeri, tetapi Kota ini tetap menjaga lestari budaya lokalnya.

Teringat 15 tahunan yang lalu saat saya menjajal bis tingkat di Semarang yang sudah punah. Di Solo, justru bangkit melayani wisata kota. Kerata api kuno tidak kalah selalu melintas rel lama membelah Kota.

Tidak hanya itu HIK atau angkringan juga terus lestari dengan ragam dagangan yang terus berevolusi. Tidak hanya nasi kucing, nasi bungkus dengan lauk seadanya dan serupanya. Tetapi banyak pula hidangan modern yang mulai dijajakan. Kopi manis, Caffee Latte, Cappucino dan hidangan cafe modern lainnya mulai ‘turun tahta’ dari hidangan middle class menjadi hidangan rakyat.

Kuliner malam, hmm…tidak kalah ragamnya dengan kuliner Bandung. Dari Gudeg yang bukanya jam 1 malam hingga susu Jack yang antrinya memanjang tanpa henti.

Yah..inilah Solo kota yang bangkit tanpa menghilangkan budaya aslinya.