Dokter Muda dan Kucing Malang

Karbondioksida pertama dari tubuhku hari ini tak tuntas kulepaskan. Abangku yang seharusnya sudah pergi bekerja tiba-tiba saja masuk kembali dengan tergesa-gesa, diikuti istri dan keponakanku.

“Ada kucing mati di bawah mobilku. Carikan kain atau kertas!” katanya terburu-buru.

Aku sudah saja ingin menghantamnya dengan segala caci maki karena kupikir itu semua karena kecerobohannya tak melihat kolong mobil sebelum menjalankan mobil.

“Kucing itu masih sempat lari setelah terlindas ban mobil dokter muda berkacamata yang baru pindah ke belakang itu. Kupikir memang dia tak sadar ban mobilnya melindas kucing.” kata istrinya lalu menyambung.

Setelah aku dapatkan kain bekas untuk membungkus bangkai si kucing malang itu kemudian terdengar Ibu berbincang dengan seseorang, suara laki-laki tapi bukan abangku. Si dokter muda berkacamata. Kutangkap percakapannya dengan Ibu, dia meminta maaf karena benar-benar tak sengaja melukai bahkan membunuh kucing itu. Aku sibuk membungkus bangkai si kucing sambil menggerutu dalam hati.

“Maaf ya, Mas. Saya lihat ada kucing lari tapi saya nggak tau dia lewat bawah mobil saya, apalagi sampai kena dan malah mati di bawah mobilnya Mas.” dokter muda itu menjelaskan kronologinya kepada abangku.

Kali kedua dokter itu kembali, dia berterima kasih padaku atas kain bekas untuk menutup bangkai si kucing malang. Kutanya dia apa sedang tidak buka praktik. Dia jawab sedang istirahat makan siang sekalian ambil dokumen.

“Rasanya tidak adil buat kucing-kucing ini hanya karena mereka kucing.”

Dokter muda perokok ini barusan memperkenalkan diri sebagai Herman.

“Manusia bebas memenuhi Bumi atas nama regenerasi atau melestarikan keturunan. Tetapi mereka begitu membenci kucing-kucing liar dan suka mengeluh jumlah mereka semakin banyak. Harusnya mereka sadar hak hidup manusia dan kucing itu sama di atas Bumi. Kalau mereka pikir kucing-kucing ini merugikan, mereka pikir yang merusak hutan dan buang sampah di kali itu siapa? Kucing?”

Asap rokok dia hembuskan lalu. Aku hanya mengangguk-angguk. Aku terka Dokter Herman ini seorang dokter hewan.

“Bukan, saya bukan dokter hewan. Saya dokter THT baru di RSU, almarhum bapak saya sangat menyayangi kucing.”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.