KLARIFIKASI KISAH PUNGGUK MERINDUKAN BULAN

Akhirnya setelah bergenerasi-generasi, Si Pungguk buka suara mengapa rindunya tak pernah sampai pada Bulan. Kurang lebih begini pernyataannya,

"Saya Pungguk, hitunglah umur saya sekian purnama, saya menghitung purnama karena penantian saya kepada Bulan. Jikalau mereka memahami, mereka tak akan menyamakan kisah saya dan Bulan dengan kisah harapan-harapan tak kesampaian atau mustahil. Begini, saya ajak kawan-kawan berpikir. Saya ini Pungguk, walau punggung saya tidak tegak tapi saya manusia, saya terjaga dan bekerja dari pagi hingga sore hari. Sedangkan Bulan, oh Bulan, dia hanya akan terbangun pada malam hari. Ini hanya masalah waktu. Mengapa waktu? Karena saya, si Pungguk dan Bulan itu lagi LDR. Saya akan bangun ketika Bulan tertidur lelap, dan Bulan akan bangun ketika saya tertidur pulas. Saya di Bumi, Bulan entah dimana tapi saya masih bisa melihatnya ketika saya sedang kerja lembur dan bertepatan Bulan sudah terbangun. Lihat kan? Kami sedang LDR, bukan harapan yang mustahil. Saya dengar-dengar, belakangan manusia punya rencana mengunjungi Bulan. Mungkin saya akan ikut untuk melamarnya. Jadi, apanya yang mustahil?"

Begitulah Si Pungguk.