Sarkub Share:

Facebook
Twitter
Google+
WhatsApp
Telegram
LinkedIn

Ada hikmah mengapa kita diperintahkan untuk ikut ulama dan dilarang langsung bersandar langsung pada Al-Qur’an dalam mengamalkan agama dan perlu perangkat selainnya yaitu hadits, ijma dan qiyas. Sedangkan semua ilmu tentang Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma dan Qiyas itu tiada yang mengetahuinya selain ulama yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah SAW.

Contoh kasus, ada satu ayat yang sering dijadikan hujjah dalam menolak tahlilan, sedekah untuk mayit, dzikir untuk mayit, berkirim bacaan Al-Qur’an kepada arwah seperti yang biasa dilakukan kaum Aswaja. Ayat itu adalah surat An-Najm ayat 39, yang berbunyi :

وَأَن لَّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاَّ مَا سعى

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,”

Yang jadi titik tekan dalam ayat ini adalah bahwasanya manusia tidak akan memperoleh sesuatu (dalam hal ini pahala dan ampunan) selain apa yang sudah diusahakannya ketika hidup. Dari situ ada orang yang berkesimpulan bahwa manusia kalau sudah mati maka putus semua hubungan, manusia tidak akan bisa menerima hadiah pahala dari amal yang disedekahkan oleh orang yang masih hidup. Lalu dikuatkan dengan hadits yang berbunyi :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Namun kalau kita bisa lebih membuka mata lagi, ternyata banyak tafsiran terhadap surat An-Najm ayat 39 tersebut dari para shahabat Nabi SAW maupun dari para ulama. Dan tafsiran shahabat Nabi SAW dan para ulama ini justru bertolak belakang dari anggapan orang yang menolak itu.

Sayyidinaa Ibnu Abbas r.a. dawuh kalau ayat itu sudah tergantikan hukumnya (dinasakh) oleh ayat Ath-Thuur ayat 21.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka (QS. ath-Thuur 52 : 21)”.

Sehingga kesimpulannya, dimasukkanlah anak-anak kedalam surga kerena keshalihan (kebaikan) ayah-ayah mereka.

Sedangkan Sayyidinaa Ikrimah r.a. dawuh bahwa ayat tersebut merupakan ayat yang ditujukan pada umat Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, maka bagi mereka apa yang mereka usahakan dan apa yang diusahakan untuk mereka oleh orang lain. Sedangkan khusus umat Kanjeng Nabi Muhammad yang telah meninggal, akan tetap mendapat pahala dari amal ibadah yang dikirim oleh orang yang masih hidup. Kesimpulan beliau berdasarkan hadits-hadits berikut :

لما روي أن امرأة رفعت صبيا لها فقالت: يا رسول الله ألهذا حج؟ قال: نعم ولك أجر

“Telah diriwayatkan bahwa seorang wanita mengangkat seorang anak kecil, kemudian berkata : wahai Rasulullah, apakah ini boleh berhaji ? Rasul menjawab : iya, dan bagimu ada pahala”.

وقال رجل للنبي — صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: إن أمّي قَتَلَتْ نفسها فهل لها أجر إن تصدّقت عنها؟ قال: نعم

“Seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam : sesungguhnya ibuku telah wafat, maka apakah ada pahala baginya jika aku bershadaqah untuknya ? Nabi menjawab : iya”.

Ada lagi pendapat Sayyidinaa Rabi’ bin Annas r.a. yang menyebut bahwa ayat itu ditujukan kepada orang meninggal yang non-muslim, sedangkan untuk muslim yang sudah meninggal masih bisa mendapat pahala dari amal yang dikirimkan oleh orang yang masih hidup.

Ada lagi penjelasan dari Ulama Nusantara, KH. Muhyiddin Abdus Shomad, bahwa ayat tersebut justru membenarkan orang yang mengirim pahala kepada orang mati. Karena pada hakikatnya pahala yang dikirimkan kepada ahli kubur yang dimaksud merupakan bagian dari usahanya sendiri. Seandainya ia tidak berbuat baik ketika masih hidup, tentu tidak akan ada orang yang mengasihi dan menghadiahkan pahala untuknya.

Contoh ceritanya begini, Pak Ahmad bergaul dengan baik, sehingga punya teman banyak, tetangga dan handai taulan yang akrab sekali. Lalu menikah dan mempunyai keluarga besar yang juga mencintainya. Nah, ketika Pak Ahmad itu meninggal, banyak orang mengirim pahala dan doa untuk Pak Ahmad karena saking sayang dan cintanya teman, tetangga, handai taulan, akibat usaha (berupa pergaulan yang baik) dari Pak Ahmad ketika dia hidup. Maka atas usaha Pak Ahmad itulah, pahala sedekah amal kebajikan dan doa dari orang yang masih hidup terus mengalir walau Pak Ahmad sudah mati.

Maka dari penjelasan dari berbagai sumber tersebut, jelas bahwa sebenarnya orang yang mati masih bisa memperoleh manfaat berupa pahala amal baik yang dikirimkan oleh orang yang masih hidup akibat usahanya ketika hidup. Orang masih bisa mengirim berbagai amalan untuk ahli kubur. Dalam I’anatut Tholibin, ada nukilan perkataan Syaikh Muhib At-Thabry yang secara tegas mengatakan, akan sampai pada mayit setiap ibadah yang disedekahkan orang hidup baik berupa ibadah wajib ataupun sunnah.

Sedangkan orang yang menolak sebenarnya tidak masalah, hanya saja itu seperti mempersulit agama, mempersempit diri dan menolak kemurahan yang diberikan Allah SWT. Sedangkan menolak kemurahan Allah SWT, dalam hadits shohih Rasulullah SAW bersabda, merupakan tanda orang yang kurang bersyukur atas nikmat.

Maka sebagai hikmah terbesar mengikuti dan menuntut ilmu dari ulama adalah kita menjadi umat yang pandai bersyukur atas nikmat dan karunia Allah SWT. Dengan tulisan ini, kami mengajak, mari menimba ilmu kepada ulama yang ilmunya bersanad hingga Nabi Muhammad SAW, agar membuka cakrawala kita tentang apa kebesaran dan kemurahan Allah SWT yang sudah dijelaskan dalam firman-firman-Nya dan dijelaskan oleh Rasuullah SAW beserta pengikutnya, sehingga kita mampu bersyukur.

Wallahua’lam.

Penulis : Tim Sarkub

http://www.sarkub.com/hikmah-mengikuti-ulama/

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.