Rukhshoh Musafir Dalam Sholat

Rukhshoh atau keringanan syariat dalam menjalankan ibadahnya atas keadaan seseorang yang tidak mungkin dihindari dengan syarat-syarat tertentu. Konsep rukhshoh ini membuktikan bahwa sebenarnya Islam adalah agama yang tidak kaku, mudah dan sesuai dengan perubahan zaman. Konsep ini berhasil membawa agama Islam sebagai agama yang menawarkan jalan tengah dan sesuai fitrah manusia dibandingkan agama yang datang sebelumnya. Sehingga konsep ini membuktikan bahwa sebenarnya Islam membenci perilaku seseorang yang berlaku terlalu ekstrim maupun terlalu bebas.
 
 Konsep ini tentu tidak lepas dari sumber hukum utama agama Islam, Al-Qur’an dan Al-Hadits, namun sangat dibutuhkan pula penjelasan para ulama yang telah dijelaskan di berbagai kitab. Penjelasan ini perlu diketahui agar kita mengerti bahwa konsep rukhshoh yang diterapkan itu masih di atas rel agama dan yang paling mengerti tentang agama tentu ahlinya, yaitu ulama. Sehingga penjelasan para ulama itu menjadi pemandu kita untuk lebih jeli, teliti dan hati-hati dengan segala urusan ibadah kita, baik yang mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh.
 
 Ada yang menuduh bahwa konsep rukhshoh ini adalah bid’ah. Maka tulisan ini akan menunjukkan bahwa konsep rukhshoh ini bukan konsep yang tanpa dalil. Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits yang memberi petunjuk tentang legalitas rukhshoh. Tinggal kita mau teliti atau tidak.
 
 Dalil-dalil Tentang Rukhshoh
 
 Berikut ini dalil-dalil tentang rukhshoh yang diambil dari berbagai sumber hukum utama :
 
 Dalil Al-Qur’an :يريدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
 
 Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah: 185)
 
 يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
 
 Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah (QS. An-Nisaa’: 28)
 Dalil Al-Hadits :عَنْ أَنَسٍ اِبْنِ مَالِكٍ عَن النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تَنَفَّرُوْا وَكَانَ يُحِبُّ الْتَخْفِيْفِ وَالتَّيْسِرِ عَلَى النَّاسِ (رواه البخارى)
 
 Dari Anas bin Malik R.A. dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda : Permudahkanlah dan jangan kamu persulit, dan bergembiralah dan jangan bercerai berai, dan beliau suka pada yang ringan dan memudahkan manusia (H.R Bukhori)
 Atsar Shahabat :عن ابن مسعود ايضا قال نا صيحا هذه الامة وهو الرجل المعلم : إياكم والتعمق وعليكم بالعتيق
 
 Dari Ibnu Mas’ud R.A. beliau berkata : Paling bagusnya umat ini adalah orang berilmu yang punya sifat : mau bergaul dengan kalian, luas wawasannya dan kepada kalian dia meringankan.
 Qaidah Fiqihiyyah :المشقة تجلب التيسير
 
 Kesempitan berimplikasi kemudahan
 
 Dalil-dalil tersebut membuktikan bahwa rukhshoh itu diperbolehkan dalam Islam, bahkan dianjurkan bila telah memenuhi syarat-syaratnya. Sebagaimana pembahasan tentang rukhshoh musafir dalam tulisan ini. Rukhshoh yang diberikan syariat pada musafir ini berupa : 
 
 Musafir dizinkan tidak melaksanakan sholat Jum’at.
 Musafir diizinkan tidak berpuasa di bulan Ramadhan.
 Musafir diizinkan melakukan sholat qoshor (meringkas) atau sholat jamak (menggabungkan) atau sholat jamak qoshor.
 
 
 
 Sholat Qoshor
 
 Sholat 5 waktu adalah ibadah yang diwajibkan baik laki-laki maupun perempuan yang mukalaf (sudah dewasa). Dalam keadaan apapun, bila waktu sudah memasuki waktu sholat, maka hukumnya wajib melaksanakannya. Berkali-kali Allah SWT memperingatkan pentingnya sholat dalam Al-Qur’an, hingga tercatat 55 kali kalimat الصلاة difirmankan oleh Allah. Rasulullah SAW pun mengingatkan umatnya, bahwa amal yang akan menjadi pertimbangan utama di hari kiamat kelak adalah sholat. Bila sholatnya baik, maka baik seluruh amal yang lain, sebaliknya bila sholatnya buruk, maka buruklah semua amal lainnya.
 
 Dikarenakan pentingnya sholat, di saat musafir melakukan perjalanan, Islam tetap mewajibkan ibadah sholat namun dengan keringanan (rukhshoh). Rukhshoh sholat yang pertama adalah qoshor atau meringkas sholat yang semula 4 rokaat menjadi 2 rokaat, dengan dalil sebagai berikut :
 
 Dalil Al-Qur’an :وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا
 
 Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.
 Dalil Al-Hadits :حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ ، عَنْ عُبَيْدِ اللهِ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : سَافَرْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ ، وَعُمَرَ ، وَعُثْمَانَ فَكَانُوا يُصَلُّونَ الظُّهْرَ وَالعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ
 
 Hadits riwayat Yahya bin Sulaim dari Abdullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar R.A., beliau berkata : Aku melakukan perjalanan bersama Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar R.A., Umar bin Khatab R.A. dan Utsman bin Affan R.A. Maka ketika masuk sholat dhuhur dan ashar, kami sholat dengan meringkasnya, dua rokaat, dua rokaat.
 
 Meskipun rukhshoh, namun ada syarat yang harus dipenuhi agar diperbolehkan qoshor, antara lain :
 
 Perjalanan yang dilakukan bukan perjalanan untuk tujuan maksiat. Dalam hal ini ulama’ mengklarifikasi hukum suatu perjalanan menjadi lima macam.
 
 Perjalanan Wajib. Dalam hal ini tujuan untuk melakukan hal hal wajib seperti melaksanakan haji, melunasi hutang dan lain-lain.
 Perjalanan sunnah. Perjalanan yang disunahkan semisal melakukan perjalanan haji sunnah, silaturahmi dan lain-lain.
 Perjalanan mubah. Termasuk dalam perjalanan yang diperbolehkan adalah perjalanan yang dihukumi mubah menurut syara’ semisal berdagang dan lain-lain.
 Perjalanan makruh seperti perjalanan yang dilakukan sendirian tanpa teman, dalam kategori ini masih dilegalkanya menqoshor shalat.
 Perjalanan Haram adalah perjalanan yang disertai tujuan untuk berbuat maksiat, seperti perjalanan dalam rangka merampok, mencuri, membunuh dan lain-lain. Maka hal ini tidak diperbolehkan mengqoshor sholat.
 
 
 Sholat yang empat rakaatMenqoshor shalat hanya berlaku untuk sholat yang empat rakaat sperti dluhur, ashar, isya’. Menurut Al Nawawi dan Al Rofi’i tidak boleh menqoshor shalat subuh menjadi satu rakaat. Meski begitu ada satu keterangan dari pendapat yang menyebutkan boleh hukumnya menqoshor sholat subuh menjadi satu rakaat saat keadaan khauf (takut) sebagaimana pendapat madzhab Ibnu Abbas.
 Shalat yang di-qashar adalah ada’ (sholat yang sudah waktunya dan bukan qadla’)
 Jarak tempuh sudah 16 farsakhPerjalanan yang boleh untuk menqhosor shalat adalah perjalanan yang telah mencapai jarak 16 farsakh (mayoritas ulama’ mengkonversikan 16 farsakh = 199.999,88 m sedang menurut versi kitab Tanwirul Qulub = 86 KM).
 
 Tata cara menqoshor shalat :
 
 Niat menqoshor shalat bersamaan dengan takbiratul ikhrom
 
 Contoh Niat yang dilafadzkan ketika menqoshor shalat :
 اصلى فرض الظهرركعتين قصرا لله تعالى
 Ushalli fardhahd dhuhri rok’ataini qoshron lillaahi ta’ala
 “Aku niat Shalat Dhuhur dua rakaat dengan Qashar karena Allah Ta’alla”
 
 
 Tidak boleh bermakmum kepada orang yang mukim (orang yang tidak menqoshor)
 
 
 
 Sholat Jama’
 
 Bentuk rukhsoh atau keringanan sholat yang kedua dalam Islam adalah diperbolehkannya mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu bagi seorang musafir.
 
 Adapun diantara dasar yang menjadikan hujjah diperbolehkanya menjama’ adalah hadist :
 
 (عن أنس قال ” كان النبي صلي الله عليه وسلم إذا أراد أن يجمع بين الصلاتين في السفر أخر الظهر حتى يدخل أول وقت العصر ثم يجمع بينهما ( رواه مسلم
 
 Dari Anas, beliau berkata :
 
 Nabi Muhammad SAW ketika hendak menjamak (mengumpulkan) antara dua sholat ketika dalam perjalanan, beliau mengakhirkan dhuhur hingga masuk waktu ashar lalu kemudian beliau mengumpulkan kedua sholat tersebut (H.R. Muslim)
 
 Sholat yang boleh dijama’ adalah sholat ashar, dhuhur, maghrib dan isya’. Sholat jama’ dilakukan dalam satu waktu dengan cara mengumpulkan sholat dhuhur dengan ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya’. Tidak diperkenankan memasangkan sholat dengan selain yang disebutkan tadi.
 
 Dalam sholat jama’, ada 2 macam dan kita diberi pilihan dalam melaksanakannya.
 
 
 
 Jama’ Taqdim
 
 
 
 Adalah mengumpulkan shalat pada satu waktu yang pertama di antara 2 sholat. Misalnya sholat dhuhur dan ashar dikerjakan di waktu dhuhurnya atau sholat maghrib dan isya’ dikerjakan di waktu maghribnya.
 
 Tata cara pelaksanaan jama’ taqdim ini adalah :
 
 Dilakukan dengan urut. Misalnya dhuhur dengan ashar, maka niat sholat dhuhur dulu baru niat sholat ashar, tidak boleh sebaliknya.
 Niat Jama’ taqdim pada shalat yang pertama atau selama masih dalam keadaan shalat yang pertama.Adapun contoh niat sholat jama’ taqdim adalah sebagai berikut :
 
 اصلى فرض الظهر اربع ركعات جمع تقديم لله تعالى
 
 Ushallii fardhodh dhuhri arba’a roka’aati jam’a taqdiimi lillaahi ta’ala
 
 (Aku niat Shalat Dhuhur empat rakaat dijama’ dengan jama taqdim karena Allah Ta’alla)
 Muwalah yaitu dilakukan tanpa jeda yang lama menurut ukuran kelaziman.
 
 
 
 
 
 Jama’ Ta’khir
 
 
 
 Adalah mengumpulkan shalat pada satu waktu yang terakhir di antara 2 sholat. Misalnya sholat dhuhur dan ashar dikerjakan di waktu asharnya atau sholat maghrib dan isya’ dikerjakan di waktu isya’nya. Dalam jama’ takhir, tidak disyaratkan tertib, sehingga semisal ketika sudah masuk ashar, dibolehkan sholat ashar dulu baru dhuhur atau dhuhur dulu baru ashar.
 
 Tata cara pelaksanaan jama’ takhir ini adalah :
 
 Niat Jama’ taqdim pada shalat yang pertama atau selama masih dalam keadaan shalat yang pertama.اصلى فرض الظهر اربع ركعات جمع تأخير لله تعالى
 
 Ushalli fardhudh dhuhri arba’a roka’aati jam’a ta’khiri lillaahi ta’ala.
 
 (Aku niat Shalat Dhuhur empat rakaat dijama’ dengan jama ta’khir karena Allah Ta’alla).
 Tdak diwajibkan adanya tertib maupun muwalah
 
 Sholat Jama’ Qoshor
 
 Bentuk rukhsoh atau keringanan sholat yang ketiga dalam Islam adalah diperbolehkannya mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu bagi seorang musafir sekaligus meringkasnya dalam satu waktu yang disebut jama’ qoshor. Pelaksanaannya misal sholat dhuhur dan ashar dilakukan pada waktu sholat dhuhur, maka melaksanakan sholat dhuhur 2 rokaat salam lalu 2 rokaat salam. Adapun syaratnya sama dengan sholat jama’ dan qoshor.
 
 Tata cara pelaksanaannya sebagai berikut : 
 
 Mendahulukan sholat yang memang wajib didahulukan, ini khusus jama’taqdim yang disertai qoshor.
 Sholat yang diqoshor adalah sholat yang berjumlah 4 rokaat, sehingga ketika menjama’qoshor maghrib dan isya’, maghrib tetap 3 rokaat lalu isya’ 2 rokaat.
 Jarak yang ditempuh sudah memebuhi 2 marhalah lebih atau 16 farskhah.
 Tujuan bepergian bukan untuk maksiyat.
 Niatnya dilakukan di tiap takbiratul ihram, contoh niat jama’ qoshor sebagai berikut :
 
 اصلى فرض الظهر ركعتين جمع تقديم / تأخير قصرا لله تعالى
 Usholli fardhodh dhuhri rok’ataini jam’a taqdiimi/ ta’khiri qoshron lillaahi ta’ala.
 (Aku niat Shalat Dhuhur dua rakaat dijama’ dengan jama ta’khir/ ta’khir dengan qoshor karena Allah Ta’alla)
 Demikian tulisan tentang rukhshoh bagi musafir, semoga bermanfaat.
 
 Wallahua’lam.
 Penulis : Tim Sarkub

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.