Syaikh Quro Karawang

Jawa Barat merupakan propinsi di Pulau Jawa yang penduduknya mayoritas beragama Islam dan sangat kuat memegang teguh ajaran Islam. Hal itu dibuktikan dengan berbagai situs peninggalan makam waliyullah dan ribuan pondok pesantren tua yang sudah berdiri ratusan tahun dan masih berjalan. Pelopor pondok pesantren di Jawa Barat adalah Syaikh Quro Karawang yang merupakan guru besar agama Islam di Cirebon pada khususnya dan Jawa Barat pada umumnya.
 Syaikh Quro, atau lengkapnya Syaikh Qurrotul ‘Ain mempunyai nama lain yaitu Syaikh Hasanuddin atau Syaikh Mursahadatillah, seorang ulama bermadzhab Hanafi. Ada juga yang berpendapat bahwa nama Syaikh Quro disematkan padanya karena beliau adalah guru agama Islam yang merupakan hafidz (penghafal Al-Qur’an), suka membaca Al-Qur’an dan beliau ketika membaca Al-Qur’an, suaranya indah. Menurut manuskrip Purwaka Caruban Nagari, beliau adalah putra ulama besar dari negeri Champa yang bernama Syaikh Yusuf Siddiq. Syaikh Yusuf Siddiq merupakan keturunan Syaikh Jamaluddin Al-Husaini serta Syaikh Jalaluddin yang merupakan ulama besar di Makkah. Sedangkan di pihak ibu, Syaikh Quro mempunyai ibu bernama Dyah Kirana yang jika ditarik garis ke atas, masih keturunan Sayyidinaa Husein bin Ali bin Abi Thalib. Selain itu, Syaikh Quro juga masih satu keturunan dengan Syaikh Nurjati Cirebon dari generasi ke 4, Amir Abdullah Khanuddin.
 
 Berdakwah di Karawang
 Satu sumber mengisahkan, Syaikh Quro berasal dari Champa, pertama kali mendarat ke tanah Jawa pada tahun 1338 Saka atau tahun 1416 Masehi, tepatnya di Pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sumber lain mengatakan, pada tahun 1418 Masehi, Syaikh Hasanudin datang ke tanah Jawa. Beliau menumpang armada Laksamana Cheng Ho yang berlayar menuju Jawa dalam ekspedisi menjalin persahabatan dengan kerajaan Jawa. Syaikh Hasanudin turun di pelabuhan Pura Dalem Karawang sedangkan Laksamana Cheng Ho meneruskan perjalanannya menuju Pelabuhan Muara Jati Cirebon.
 Di Karawang, Syaikh Hasanudin mendirikan pesantren sekaligus masjid. Beliau tinggal di Pelabuhan Bunut Kertayasa, posisinya sekarang berada di Kampung Bunut Kelurahan Karawang Kulon Kecamatan Karawang barat Kabupaten Karawang. Pondok pesantrennya dinamakan Pondok Quro yang berarti tempat belajar Al-Qur’an. Dari situlah, Syaikh Hasanudin digelari Syikh Quro.
 
 Syaikh Quro datang ke tanah Jawa didampingi santri-santrinya antara lain : Syaikh Abdurrahman, Syaikh Maulana Madzkur. Syaikh Quro kemudian menikah dengan Ratna Sondari, putri Ki Gedeng Karawang dan dari pernikahan itu, lahir seorang putra yang bernama Syaikh Ahmad yang kelak menjadi penghulu pertama di Karawang.
 
 Di Karawang, beliau berhasil menarik minat masyarakat karena beliau menyebarkan Islam dengan cara yang damai, tidak menggunakan paksaan dan kekerasan. Sehingga Pondok Quro pun tidak lama dipenuhi para santri yang menuntut ilmu. Syaikh Quro mempunyai santri bernama Syaikh Abdiullah Dargom atau Syaikh Darugem bin Jabir Modafah alias Syaikh Maghribi keturunan Sayyidina Utsman bin Affan r.a., Syaikh Darugem ini kelak dikenal sebagai Syaikh Bentong alias Tan Go dan dijadikan anak angkat Syaikh Quro. Syaikh Bentong ini memliki istri yang bernama Siu Te Yo dan mempunyai putri yang bernama Siu Ban Ci.
 
 Ketika Syaikh Ahmad beranjak dewasa, Syaikh Quro berwasiat kepada anak-anaknya dan santri-santrinya untuk menyebarkan dakwah agama Islam. Syaikh Abdurrahman dan Syaikh Maulana Madzkur di tugaskan berdakwah ke selatan Karawang, tepatnya di Kecamatan Teluk Jambe, Ciampel, Pangkalan dan Tegalwaru. Sedangkan Syaikh Ahmad ditugaskan untuk meneruskan Pondok Quro menyebarkan dakwah Islam di Karawang dan sekitarnya.
 
 Sedangkan Syaikh Quro akan menyebarkan Islam ke bagian utara Karawang didampingi istrinya, Ratna Sondari, dan santrinya Syaikh Bentong. Di Pulo Bata, Syaikh Quro sempat membuat sumur yang bernama Sumur Awisan yang sampai sekarang masih dipergunakan.
 
 Berdakwah di Cirebon
 Syaikh Quro datang ke Cirebon sebagai ulama penyebar agama Islam dan disambut baik oleh Syahbandar Pelabuhan Muara Jati Cirebon bernama Ki Gedeng Tapa. Pada mulanya, ajarannya disambut antusias oleh penduduk Cirebon sehingga banyak warga Cirebon menjadi santri Syaikh Quro. Namun Prabu Angga Larang, Raja Pajajaran, tidak suka kehadirannya, maka diutuslah seorang utusan untuk mengusir Syaikh Quro.
 
 Untuk menghindari pertumpahan darah, akhirnya Syaikh Quro pun setuju meninggalkan Cirebon. Namun Syaikh Quro pun bersumpah bahwa kelak keturunan dari Raja Pajajaran akan jadi waliyullah dan menjadi penguasa serta penyebar agama Islam di tanah Cirebon. Peristiwa pengusiran ini sangat disayangkan oleh penduduk Cirebon karena belum tuntas seluruh ilmu agama Islam diserap oleh para santrinya. Ki Gedeng Tapa yang sempat jadi murid Syaikh Quro pun menitipkan putrinya yang bernama Nyi Subang Larang untuk ikut menjadi santri Syaikh Quro. Syaikh Quro beserta rombongan pun kembali ke Pondok Quro.
 
 Sebagai langkah antisipasi, Prabu Angga Larang kemudian mengirimkan utusan untuk menutup pesantren ini. Utusan ini dipimpin oleh putera mahkotanya yang bernama Raden Pamanah Rasa. Namun baru saja tiba ditempat tujuan, hati Raden Pamahan Rasa terpesona oleh suara merdu pembacaan ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkan Nyi Subang Larang. Putra mahkota yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Prabu Siliwangi itu dengan segera membatalkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Ia justru melamar Nyi Subang Larang yang cantik. Lamaran tersebut diterima oleh Nyi Santri dengan syarat maskawinnya haruslah Bintang Saketi, yaitu simbol “tasbih” yang ada di Mekah. Sumber lain menyatakan bahwa hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu haruslah masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam. Selain itu, Nyai Subang Larang juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan kelak haruslah ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut rupanya disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa. Pernikahan antara Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Subang Karancang pun kemudian dilakukan di Pesantren Quro atau yang saat ini menjadi Masjid Agung Karawang.
 
 Waktu terus berlalu, Syaikh Quro pun semakin berusia lanjut, akhirnya Syaikh Quro berwasiat kepada santi-santrinya “ Ingsun titip masjid langgar lan fakir miskin anak yatim dhuafa”. Akhirnya Syaikh Quro pun meninggal dan penerus Pondok Quro diteruskan oleh Syaikh Bentong.
 
 Makam Syaikh Quro sempat menghilang. Kesultanan Cirebon memerintahkan Raden Soemaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri bersama Syaikh Toha untuk mencarinya. Akhirnya pada tahun 1859 Masehi, makam Maha Guru leluhur Cirebon, Syaikh Quro, ditemukan.
 
 Sunan Kanoman Cirebon, Pangeran Haji Raja Adipati Jalaludin, memperkuat temuan makam Syaikh Quro di Pulo Batang, Karawang, saat berkunjung ke makam tersebut. Hal ini diperkuat lagi dengan surat pernyataan dari Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII, Nomor : P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 pada tanggal 5 Nopember 1992.
 Lahu Al-Faatihah
 Penulis : Tim Sarkub

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.