Suatu Malam di Kota Tua

Photo by Gede Suhendra on Unsplash

Malam itu, sehabis kuliah, saya iseng saja menuju ke arah Jakarta Kota. Selain karena sudah tidak ada lagi keperluan di kampus, saya juga harus mengerjakan tugas mata kuliah Etika Enjinering/Etika Terpuji.

Hujan telah reda, pukul 19.00 malam saya bergegas menuju stasiun UI dan langsung mengambil kereta tujuan Jakarta Kota. Kereta tidak terlalu penuh, maklum arah yang saya ambil memang berlawanan dengan arah pulang para pekerja ibukota yang pulang malam itu.

Saya sampai di Stasiun Jakarta Kota pukul 21.30. Suasana stasiun saat itu tidak terlalu ramai karena memang sudah cukup malam. Saya mencoba mencari target yang harus saya wawancarai namun suasana di dalam stasiun tidak memungkinkan saya untuk menjalankan aksi saya.

Keluar dari Stasiun Jakarta Kota, saya langsung berjalan menuju Kota Tua. Tampak banyak pedagang yang menjajakan dagangannya. Sementara beberapa pekerja bergegas menuju stasiun.

Setelah sekitar 500 m berjalan, pandangan saya tertuju kepada seorang pedagang kacang rebus di pinggir jalan. Karena kebetulan cuaca cukup dingin karena seusai hujan, saya langsung menuju ke gerobaknya untuk membeli kacang rebus. Uang 5000 rupiah saya belanjakan kacang rebus. Gerobak pedagang kacang rebus ini cukup sederhana. Terdapat lampu yang menerangi gerobak, serta tak lupa kacang rebus yang mengepul hangat karena dipanaskan oleh uap.

Sehabis membeli, saya langsung duduk di pinggir trotoar dan mengajak berbincang bapak penjual kacang rebus tersebut. Beliau bernama Pak Tarmadin. Dengan logat jawanya yang kental, saya menebak beliau merupakan pendatang.

Beliau berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Sudah 31 tahun beliau berjualan di Jakarta. Kondisi ekonomi di kampung yang tidak memungkinkan membuat beliau terpaksa berjualan di Jakarta. Sebelum berprofesi sebagai pedagang kacang rebus, beliau pernah berjualan sebagai tukang sayur keliling di daerah Depok. Namun karena penghasilan sebagai tukang sayur keliling tidak seberapa, beliau berpindah profesi menjadi pedagang kacang rebus.

Beliau tinggal di daerah Angke bersama ketujuh rekannya. Mereka juga berasal dari Pekalongan. Dan semuanya berjualan kacang rebus.

Dengan mengontrak sebuah rumah sederhana, Pak Tarmadi dan kawan-kawan mencoba untuk bertahan di tengah kerasnya ibukota.

Keseharian beliau adalah mengumpulkan kacang dari pemasok di siang hari, memilah-milahnya lalu berangkat dari Angke pukul 16.00. Jarak rumah kontrakan beliau menuju lapak dagangan di Kota Tua kira-kira 3 km. Beliau berjualan sampai malam, namun tidak menentu, tergantung cuaca. Namun biasanya pukul 12 malam beliau sudah pulang. Demikian keseharian Pak Tarmadi. Monoton. Pendapatan yang beliau dapat pun tidak seberapa. Hanya cukup untuk hidup sehari-hari dan bekal sekadarnya saat pulang kampung.

Berbicara soal pulang kampung. Beliau paling lama dua bulan berada di ibukota. Dua bulan berjualan di ibukota, dua bulan pulang ke Pekalongan. Biasanya juga beliau pulang menggunakan kereta api. Namun akhir-akhir ini beliau lebih suka untuk pulang kampung menggunakan bus selain karena beliau tidak suka untuk memesan tiket kereta api, tiket bus lebih mudah untuk dipesan dadakan.

Beranjak ke keluarga Pak Tarmadin. Beliau memiliki seorang istri dan 3 orang anak. Si sulung duduk di kelas 11 SMK jurusan otomotif. Anak nomor 2 duduk di kelas 7 SMP, dan si bungsu masih berumur 3 tahun. Istri beliau hanya sebagai ibu rumah tangga yang notabene tidak memiliki penghasilan tetap. Hal itulah yang menyebabkan beban Pak Tarmadi semakin bertambah. Beliau juga tidak memiliki tanah untuk digarap di kampung.

Sesaat ada keheningan di antara kami. Saya berusaha untuk mencari topik. Mulai dari kondisi di tahun 1998 di sini sampai pembahasan tentang kayu jati.

Saya lalu membeli kacang lagi karena kacangnya benar-benar enak (serius, saya tidak bohong). Selain untuk bahan obrolan, kacang juga untuk menghangatkan badan Malam itu hanya ada 2 pembeli setelah saya yang membeli kacang rebus Pak Tarmadi.

Malam semakin larut. Beliau sesekali menanyakan tentang saya, kuliah saya, dan mengapa saya berjalan sendirian di malam hari. Dari nada obrolannya, Pak Tarmadin adalah orang yang tulus. Hanya seorang lelaki yang berusaha berjuang di tengah kerasnya kehidupan ibukota.

Tiba-tiba hujan turun. Pak Tarmadi bergegas untuk menutupi kacang dagangannya dengan plastik. Beliau juga mengambil payung dari gerobaknya untuk berteduh.

Karena malam sudah larut, saya memohon izin untuk pulang kepada beliau. Tak lupa saya menjelaskan bahwa saya sedang mendapatkan tugas kuliah yang mengharuskan saya untuk berfoto dengan beliau,

Saya pun langsung pulang ke Depok. Satu hal yang saya ingat dari beliau adalah beliau mendoakan saya supaya menjadi orang yang sukses dan dimudahkan kehidupannya. Terima kasih, Pak Tarmadi.