The Butterfly Effect

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Pagi itu rekan kerja saya menceritakan tentang kejadian tidak mengenakkan yang pernah menimpanya beberapa tahun lalu di tempat saya bekerja. Rekan saya yang lain pun, dengan bercanda, menimpali bahwa sebenarnya kecelakaan itu dapat membuat saya bisa ada di sini karena ada keterkaitan secara tidak langsung antara kejadian tersebut dengan saya.

Oke, jadi katakan sequence-nya seperti ini; kelainan proses di pabrik — baut longgar — kejadian — pemindahan tugas/jabatan — rekan saya menginterview saya di Jakarta — saya datang di sini — (entah mungkin ketemu jodoh di sini) — dll. Walaupun tentu saja faktor yang membuat saya di sini tidak nggak hanya satu tapi tetap saja nggak kebayang kalau ternyata sebuah kelainan kecil pada proses di masa lalu dapat mempengaruhi sesuatu yang besar (bagi saya setidaknya) di masa depan. Hal ini disebut The Butterfly Effect atau Chaos Theory. Ide awal dari teori ini adalah bahwa sebuah kepakan sayap kupu-kupu di pedalaman Brazil dapat menginisiasi tornado di Amerika Serikat. Kelihatannya memang mustahil namun secara teknis hal ini dapat saja terjadi. Kelainan variabel yang kecil dapat mempengaruhi kondisi akhir sesuatu secara signifikan.

Menyadari semuanya saling berkaitan membuat saya tidak mempunyai alasan lain lagi kecuali untuk bersyukur atas hal-hal baik (dan mungkin juga hal-hal yang tidak mengenakkan) yang terjadi kepada saya. Terpikir pula oleh saya bahwa mungkin inilah yang dimaksud dengan “nggak ada sesuatu yang terjadi tanpa alasan.”

Bontang,

10.45 WITA