Travelling to Timor Leste — Part 1

Menulis memang membutuhkan niat. Setelah hampir setahun perjalanan ini, baru sekarang saya bisa menulisnya, dan itu pun masih part 1 hahaha. Anyway, ini adalah sekelumit cerita tentang solo backpacking pertama saya ke luar negeri yang sebenarnya sudah saya rencanakan sejak lama sekali. Setelah tiga bulan magang buat mengais uang tambahan dan akhirnya terkumpul saya beranikan untuk menjelajahi Timor Leste seorang diri. Pada awalnya saya sebenarnya tidak berencana untuk jalan-jalan seorang diri, namun bersama seorang teman saya. Tetapi tiba-tiba dia terkena musibah dan akhirnya saya memutuskan untuk berangkat seorang diri.

Mengapa Timor Leste? Well, pertama karena saya kurang suka dengan destinasi mainstream macam Singapura, Thailand, dll. Kedua karena saya memang sebegitu penasarannya sama mantan provinsi di Indonesia ini.

Hari Pertama, Senin 14 Agustus 2017

Setelah selesai segala urusan skripsi, wisuda, dan daftar-daftar kerja, saya berangkat pagi-pagi dari rumah saya di Blitar ke Bandara Juanda Surabaya untuk naik Lion Air ke Kupang. Mengapa nggak nyari penerbangan langsung ke Dili? Saya berpikir karena tiket langsung ke Dili mahal sekali (buat kantong mahasiswa), hampir 2 juta dan itupun transit dulu di Ngurah Rai. Saya memutuskan untuk singgah di Kupang terlebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat dari Kupang ke Dili. Singkat cerita sekitar pukul 8 WIB berangkat, dan tiba pukul 11 WITA di Bandara El Tari.

Gersangnya Kupang. Di atas adalah tugu di dekat Universitas Nusa Cendana.

Kesan pertama begitu sampai di NTT adalah: Gersang! Gila, di mana-mana warna coklat. Mana lautnya biru banget lagi. Sesampainya di Kupang, langsung ke Hotel Ledetado yang tarifnya lumayan murah buat kantong backpacker, cuma 75k semalam. Jalan-jalan sore berkeliling Kota Kupang merupakan agenda yang saya lakukan untuk mengisi waktu luang. Tak lupa saya sempatkan berkunjung ke Pantai Oesapa, di mana banyak aktivitas warga ditemui.

Pantai Oesapa

Setelah puas berkeliling Kota Kupang, saya kembali ke hotel untuk bersiap-siap bangun pagi esok hari karena Timor Travel akan menjemput saya pukul 05.30 WITA.

Hari Kedua, Selasa 15 Agustus 2017

Timor Travel menjemput saya di pagi hari sekali. Kendaraannya berupa minibus yang muat untuk sekitar 15 orang. Saya masih satu-satunya penumpang. Setelah menjemput penumpang lain, kami menuju pool Timor Travel di Jl. Oesapa untuk selanjutnya berangkat menuju Dili pukul 07.00 WITA. Perjalanan menuju Dili akan panjang sekali, and this is the part that I love from travelling.

Secara garis besar perjalanan akan melewati beberapa kota seperti Kupang — Soe — Kefamenanu — Atambua — Batugade — Dili. Dijadwalkan sampai di Dili pukul 20.00 Waktu Timor Leste

Jarak yang cukup jauh

Bus melaju melewati hamparan sawah, kebun, hutan-hutan gersang, menaiki gunung dan melewati lembah. Landscape NTT nggak akan pernah membuat siapapun bosan. Mengamati aktivitas masyarakat menunjukkan bahwa pembangunan di sini masih memang belum dapat dibandingkan dengan pembangunan di Pulau Jawa. Jalan raya mulus semakin mempernyaman perjalanan dan bus pun terus melaju melewati teriknya matahari.

Sekitar pukul 13.00 bus sampai di Atambua dan berhenti untuk makan siang di sebuah RM Padang. Harga yang ditawarkan di sini luar biasa mahal. Dengan lauk tempe dan sayur daun ketela saya harus merogoh kocek sebesar 20 ribu rupiah. Namun karena sudah terlalu lapar saya tidak keberatan untuk makan. Setelah semua selesai makan siang, perjalanan pun dilanjutkan kembali.

Satu jam berjalan dan akhirnya bus sampai di pos perbatasaan Republik Indonesia — Timor Leste di Mota’ain, Atambua. Pos ini adalah salah satu dari tiga PLBN antara Indonesia dengan Timor Leste. Pertama-tama saya dan seluruh penumpang bus diharuskan turun dan membawa semua barang bawaan untuk kemudian mengisi form imigrasi di PLBN. Tidak lupa saya ditanya oleh salah seorang petugas imigrasi Indonesia apa tujuan ke Timor Leste, dengan siapa, dan menginap di mana. Setelah lolos pengecekan barang, saya berjalan menuju pos imigrasi Timor Leste.

Sesampai di sana, saya diharuskan untuk mengisi form imigrasi lagi. Setelah itu form diserahkan kepada petugas di loket untuk mendapatkan VoA. Biaya untuk VoA di pos perbatasan darat ini adalah sebesar 40 USD dan hanya berlaku bagi WNI saja. Saya sempat ditanya oleh petugas imigrasi ada keperluan apa ke Timor Leste dan dianjurkan untuk berhati-hati selama di sana.

Bem Vindo a Timor Leste!
Dapet visa 30 hari!

Perjalanan pun saya lanjutkan dengan menaiki shuttle bus milik Timor Travel yang telah diparkir di sisi Timor Leste. Jalanan di sini tergolong ekstrim karena harus melewati medan yang naik turun dan membelah gunung. Namun hal yang asyik adalah kebanyakan jalan raya berada di tepi pantai sehingga sepanjang perjalanan saya bisa menikmati deburan ombak dan laut yang biru.

Jalan Batugade — Dili yang gersang. Sebelah kiri adalah laut.

Saya tiba di Dili sekitar pukul delapan waktu setempat dan langsung menuju ke Hostel Dili Central Backpackers. Saya langsung memesan kamar tidur untuk 2 hari sebesar 15 USD per malam. Kamarnya berisi dua buah tempat tidur tingkat, jadi total satu kamar dapat muat empat orang. Di dalam ada seorang bule Taiwan yang besoknya juga akan menuju ke Lospalos.

Ini daleman hostelnya!

Malam saya habiskan untuk mengobrol bersama pemilik penginapan yang bernama Kym bersama dengan teman-temannya. Kym asli orang Australia namun dia mendirikan penginapan ini bersama teman-temannya. Banyak yang ia keluhkan tentang keadaan di Timor Leste mulai dari mental pemudanya hingga masalah tentang politik dan agama. Teman-teman Kym pun heran kepada saya karena saya hanya berpergian seorang diri dan dari Indonesia (sebegitu jarangnya kah hahaha). Mereka cukup seru, bahkan ada yang sampai menawarkan pekerjaan di perusahaan tempat ia bekerja di Wartsila yang tentu ternyata omong kosong belaka. Malam semakin larut, saya pun tidur untuk persiapan menjelajah Dili besoknya.

Hari Ketiga, Rabu 16 Agustus 2017

Pagi-pagi sekali setelah sarapan saya sudah siap untuk menjelajah Kota Dili dengan berjalan kaki, ya berjalan kaki, karena budget tidak saya anggarkan untuk menyewa sepeda ataupun sepeda motor, selain itu Dili adalah kota kecil seukuran Blitar yang tentu tidak susah untuk ke mana-mana. Destinasi pertama saya adalah Taman Makam Pahlawan Seroja. Di sini terbaring para tantara yang gugur selama pendudukan Timor Leste oleh Indonesia dari tahun 1976–1999. Sayangnya saya tidak dapat masuk ke dalam karena ada rombongan dari Kedubes Indonesia yang juga sedang melakukan kunjungan sehingga saya terpaksa hanya melewatinya saja.

Sepi kan, ini ibukota negara loh. Foto diambil di Rua de Santa Cruz

Selanjutnya saya menuju ke Taman Makam Santa Cruz, di mana terjadi pembantaian mahasiswa yang berdemo menuntut kemerdekaan secara damai oleh TNI pada tahun 1991. Merasakan kekejaman yang pernah dilakukan kepada sesama anak bangsa membuat saya sedikit merasa sedih. Cuaca panas di Dili membuat saya berteduh sejenak di makam ini beberapa saat. Satu hal yang saya dapati bahwa orang-orang di Dili sangat rajin beribadah, paling tidak itu yang saya temukan di Gereja Katedral Dili setelah dari Taman Makam Santa Cruz.

Taman Makam Santa Cruz
Katedral Dili

Museum Perjuangan Timor Leste atau Bahasa Portugisnya Arquivo Museu Resistencia Timorense menjadi destinasi saya selanjutnya. Museum ini dibangun untuk mengingat perjuangan rakyat Timor Leste untuk merebut kemerdekaan dari Indonesia. Di sini dijelaskan sejarah perjuangan Nicolau Lobato, Xanana Gusmao, Mari Alkatiri, dan kawan-kawannya mulai dari tahun 1975 hingga referendum tahun 1999 (walaupun Lobato akhirnya gugur di tangan TNI dan diabadikan menjadi nama bandara dan jalan utama di Dili). Di sini saya benar-benar menyadari bahwa sungguh banyak kekejaman yang TNI lakukan kepada rakyat Timor Leste. Di dalam museum ini juga terdapat perpustakaan dan movie theater. Waktu saya datang, banyak turis dan rombongan anak sekolah yang berkunjung ke museum ini.

Mahasiswa berjalan di depan Arquivo Museu Resistencia Timorense. Mereka sering berkumpul di sebelah gedung ini.

Siang saya habiskan untuk makan di warung Indonesia di samping istana gubernur Dili. Di sini banyak sekali masakan nusantara, mulai dari ayam goreng, mie, sampai nasi goreng. Harganya pun lumayan murah. Satu porsi nasi goreng dan es teh manis harganya cuma 1,75 USD. Sembari menunggu pesanan matang, saya sadar bahwa channel TV yang disetel di warung ternyata menanyangkan FTV Indosiar, dan orang-orang Timor Leste sangat antusias untuk menontonnya hahaha.

Warung tempat saya makan
Jalan utama di Dili, Avenue dos Direitos Humanos. Berbatasan langsung dengan laut. Di sebelah kanan merupakan Kantor Gubernur.

Perjalanan pun saya lanjutkan menuju Cristo Rei, patung Yesus yang terletak di ujung tanjung di bagian timur Kota Dili. Cristo Rei ini sendiri adalah hadiah dari pemerintah Indonesia yang diberikan pada masa pendudukan Timor Leste oleh Indonesia. Tangga yang banyak memang membuat capek, tapi pemandangan di atasnya keren banget sih. Saya bisa melihat Kota Dili di kejauhan bersama dengan kapal-kapal yang ada di pelabuhan. Pulau Atauro juga kelihatan di kejauhan. Banyak orang lokal yang berolahraga di sekitar kompleks Cristo Rei ini, sesuatu yang baru saya sadari kalau mereka ternyata suka sekali dengan olahraga. Sore menjelang dan saya pun kembali ke pantai sambil duduk-duduk dan menikmati pemandangan sekitar.

Cristo Rei!
Pantai di belakang Cristo Rei

Tak terasa malam sudah datang, mungkin juga karena waktu di Timor Leste sama dengan WIT jadi tiba-tiba nggak terasa saja kalau sudah malam. Saya pun kembali ke hostel dan beristirahat. Perjalanan besok akan berat karena saya harus berangkat pagi-pagi sekali menuju ke Maubisse supaya dapat sampai di kaki Ramelau sebelum malam.

Hari Keempat, Kamis 17 Agustus 2017

Pagi-pagi sekali saya bangun dan menyantap sarapan yang telah disediakan. Rencananya saya akan berangkat sendirian dengan naik angkutan umum dari pasar Taibesi menuju Maubisse, sebelum dilanjutkan jalan kaki ke Hatu Builico, desa terakhir di kaki Ramelau. Saat saya menuju resepsionis untuk check out, tiba-tiba ada seorang bule yang kebetulan akan ke Ramelau juga. Saya lupa siapa namanya, panggil saja Mark. Si resepsionis ini menyarankan supaya saya berangkat bersama Mark. Langsung saja kami berangkat bersama-sama naik taksi menuju pasar Taibesi. Pasar Taibesi ini berfungsi juga sebagai terminal di mana semua angkutan umum di Dili menuju semua daerah di Timor Leste berhenti. Kami lalu mencari angkutan menuju Maubisse. Angkutan yang kami naiki masih ngetem selama kira-kira setengah jam untuk menunggu penumpang. Bentuknya mirip seperti truk tetapi ada atap di atasnya.

Pasar Taibesi
Ini yang namanya Mark

Setengah jam kemudian, angkot pun berjalan menuju Maubisse. Penumpang hanya sedikit dan kebanyakan merupakan orang-orang kota yang berbelanja di Dili untuk kemudian dijual di desa. Jalanan masih mulus dan terus menanjak. Kota Dili sendiri seperti terperangkap oleh pegunungan sehingga setelah 30 menit kami langsung dapat melihat Kota Dili dari ketinggian. Jarak dari Dili ke Maubisse sekitar empat jam.

Menuju Maubisse

Kami sampai di Pasar Maubisse sekitar pukul 11 siang. Sialnya, angkot yang saya tumpangi tidak melanjutkan perjalanan hingga ke pertigaan menuju Hatu Builico. Terpaksa kami oper ke angkot lain yang menuju ke Ainaro. Angkot ini jenis bak terbuka, isinya ibu-ibu dari Ainaro yang berbelanja ke Maubisse. Ada pula kuda yang entah kenapa masuk juga di angkot ini. Mark dan saya pun harus berjejalan di angkot tersebut sambal berpegangan dengan erat agar tidak menginjak tahi kuda. Tak lama kemudian kami berangkat.

Satu truk sama kuda

Jalanan semakin susah untuk dilalui, panas dan sangat berdebu serta sebagian besar belum beraspal. Terlihat banyak kendaraan berat, yang hampir pasti digunakan untuk proyek, diparkir di bahu jalan. Sepertinya pemerintah Timor Leste sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur negaranya. Satu hal yang membuat saya bersyukur bahwa kondisi Indonesia masih jauh lebih baik daripada di sini.

Jalan menuju pertigaan ke Hatu Builico

Bermodal Bahasa Indonesia untuk bertanya pada ibu-ibu sesama penumpang maka kami dianjurkan untuk berhenti di pertigaan menuju Hatu Builico. Jalannya berbatu, sehingga tidak mungkin dilalui mobil biasa kecuali 4 WD/truk. Menurut informasi Google Maps, jalan berbatu ini hanya dekat saja sampai kaki gunung, sekitar 2–3 km, hal yang nantinya tentu saja akan saya sesali. Kami pun terpaksa berjalan kaki menuju Hatu Builico dimulai dari pukul 11.30. Jalannya berbatu, menembus bukit, hampir setipe dengan jalan makadam kebun teh di Puncak.

Kami harus berjalan di jalanan ini untuk menuju Hatu Builico

Mark, dengan santainya terus berjalan, benar-benar seolah tak mempunyai rasa lelah. Saya berulangkali mengusulkan untuk berhenti di rumah warga dan meminta warga untuk mengantarkan kami ke penginapan di kaki gunung namun dia tetap bersikukuh untuk tetap berjalan karena tanggung. Saya pun hanya bisa menelan ludah dan terpaksa mengikuti bule satu ini untuk terus berjalan. Beberapa kali kami bertemu warga setempat dan menanyakan masih jauhkah Hatu Builico dan mereka selalu menjawab bahwa desa itu masih jauh dan terletak di balik bukit yang saya pun tidak tahu di mana. Sekitar pukul 5 kami yang sedang berjalan bertemu dengan suster yang sedang bertugas dan akan pulang menuju rumahnya. Beruntung beliau bisa berbicara Bahasa Indonesia. Beliau dulu pernah ditugaskan di Atambua namun pindah untuk melayani desa-desa sekitar sini. Keramahan suster membuat saya sadar bahwa ternyata masih banyak orang baik di dunia ini. Sungguh indah sekali pemandangan sore itu. Padang rumput kecoklatan yang disinari matahari senja, kuda liar yang dibiarkan begitu saja, hingga candaan anak-anak local yang selalu tertawa melihat kami berdua, telah berhasil menebus kelelahan saya yang berjalan hampir 12 kilometer.

Masih ada kuda liar!
Swafoto dengan akamsi, anak kampung sini

Sekitar pukul 6.30 kami sampai di tempat yang sepertinya merupakan pemukiman terakhir sebelum pintu pendakian. Kami pun langsung mencari warga sekitar untuk mencari penginapan. Tak lama kami bertemu dengan Pak Albert. Beliau memiliki dua rumah, namun hanya menempati satu rumah saja, dan rumah yang satunya digunakan sebagai penginapan untuk para wisatawan yang akan mengunjungi Ramelau. Beliau juga bercerita bahwa pada saat tertentu Ramelau akan ramai oleh peziarah yang napak tilas. Kami datang di waktu pendakian sedang sepi. Beliau bisa berbicara Bahasa Indonesia dengan cukup baik. Anaknya dulu merupakan anggota POLRI dan memutuskan untuk tinggal di Indonesia sedangkan ia dan anaknya yang lain tetap tinggal di kaki Gunung Ramelau. Tak lupa beliau mengucapkan selamat Hari Kemerdekaan RI yang jatuh tepat hari ini kepada saya. Lagi, keramahan Pak Albert membuat saya kagum kepada negara ini. Walaupun sebagian besar masyarakatnya hidup di ambang kemiskinan, tetapi tidak membuat mereka kehilangan kehangatan kepada pendatang.

Akhirnya sampai di Hatu Builico

Saya kemudian menuju toko Pak Albert untuk membeli bahan makanan untuk perjalanan mendaki gunung besoknya. Tak lupa saya meminta tolong beliau untuk memasakkan makan malam berupa mie sedap. Kami akan ditemani oleh cucu beliau yang bernama Diego untuk pendakian besok. Jika kondisi bagus maka kami bisa tektok dan sampai puncak sebelum matahari terbit. Setelah makan malam, kami pun langsung tidur karena harus bangun pukul 3 pagi besok.

Penginapan Pak Albert terletak persis di samping bangunan kosong ini. Gunung Ramelau sebagai latar belakang.

bersambung di Part 2