Danau dan Sekelumit Cerita Tentangnya
Danau seperti sebuah cerita tanpa jeda. Disanalah saya berbagi cerita tentang kehidupan yang maya namun nyata. Sebuah cerita yang kadang tak dimengerti dengan logika. Logika yang selalu ingin memberontak karena tak pernah mengerti tentang dunia lain di hadapannya.
Danau seperti sebuah cafe atau restaurant mahal yang tak henti-hentinya meminjamkan kesan romantisnya terhadap dua insan yang sedang mabuk kepayang.
Namun ini bukanlah tentang cerita rumit percintaan yang sering terjadi. Ini adalah cerita sederhana tentang cinta, danau dan kedua anak manusia. Kedua kekasih itu menitipkan cinta mereka kepada danau. Mereka menyerahkan segala tata tertib dan hukum apa saja kepada danau.
Hingga pada akhirnya semesta tak menyerahkan hak kepemilikan cinta kepada keduanya. Namun danau dengan setia masih mneyimpan cinta yang telah mereka titipkan sebelumnya. Danau masih dengan ikhlas menunggu kedatangan mereka meski kini hal itu akan mustahil terjadi. Danau yang tak bosannya mengingatkan bahwa cinta mereka masih tersimpan dengan aman pada dirinya.
Namun, penyakit lupa akan kenangan menjadikan keduanya tak pernah mendatangi danau itu lagi. Danaupun menunggu karena semesta pun tak memberi tahu. Semesta hanya menjalankan yang telah tersurat. Hingga mungkin sesuatu yang disebut rindu pun datang. Danau sekali lagi hanya “menunggu”.