Sayuti Tan Malik
Sep 9, 2018 · 1 min read

Akses Ekonomi Bagi Perempuan.

Dibalik serangkaian kekerasan secara fisik dan sikis terhadap wanita. Sangat jarang dibahas dalam hal pembatasan akses terhadap ekonomi. Padahal ini membuat wanita tidak memiliki daya hidup mandiri dan ketergantungan kepada laki-laki.

Sehinga seringkali seorang wanita rela diperlakukan kasar karena sulit membayangkan hidup tanpa nafkah laki-laki. Sehingga sering kita dengar wanita meski mengalami kekerasan tetapi tidak mau berpisah.

Serangkaian pemutusan akses ekonomi terhadap wanita tentunya dimulai dari pembatasan pertemanan. Mulai, larangan berteman dengan laki-laki hingga teman-teman wanita. Sehingga tidak pernah mendapatkan masukan dan nasihat terkait permasalahannya.

Belum lagi, pemutusan akses ke keluarga dengan dalih setelah menikah wanita merupakan tanggung jawab suami. Hal inilah secara tidak sadar membentuk pola nafkah suami satu-satunya sumber kehidupan bagi wanita.

Sehingga banyak wanita yang merasa tidak ada kehidupan baginya dan anaknya kalau tidak ada nafkah suami. Jangan heran kalau ditemui walau babak belur dipukul ada wanita yang tidak mau berpisah.

Namun, budaya pemutusan akses ekonomi juga bukan hanya karena laki-laki. Banyak juga wanita yang mengejek wanita lain yang punya karir moncer. Mulai dari hanya bilang jadi ibu lebih baik dari pada karir. Hingga disebut tidak peduli terhadap keluarga.

Apa yang mesti dilakukan, pertama adalah menyadari bahwa ketergantungan apapun bentuknya merupakan penyakit jiwa yang perlu diobati dengan serius.

Setelah itu, persiapkan dirimu menghadapi segala kemungkinan. Karena wanita dan laki itu sama-sama terbukti tangguh dan mampu beradaptasi dengan selamat dari zaman es hingga zaman milenial seperti saat ini.

Perluasan jaringan komunikasi juga penting, sehingga ketika dalam keadaan darurat kita memiliki orang-orang yang siap membantu.