Kau.

Dalam namamu adalah semesta. Bumantara. Mega.

Engkau karantalatelapak sarat doa.
Dalam rengkuhmu adalah hangat selembut susu dan madu. Kau nalam yang ku kidung dalam bisu. Kau annelies. Nestapa ialah kosmonaut amatir yang mairat dalam pekertimu.

Sementara aku,
adalah bunga liar yang akar-akarnya menjalar hendak menggapai kolosal kastil enigmamu.

Kau elusif. Indah tuturmu sesak akan madah-madah cinta dan kasih. Subtil jemarimu bagai semangkuk klementine pada hari-hari yang kemarau. Namun, tilikmu begitu dingin, dan diammu begitu kejam.

Kau jantung yang tumbuh bunga layu.
Anyelir. Sepirau langit kuyu, sepirau terungku. Kau rindu. Kau rindu. Kau rindu.

Bahkan meski tubuhku dilempari jemparing berpuluh-puluh perih, akan tetap kuburu asmamu hingga belantara.

Karantala: telapak tangan.
Annelies: anugrah.
Mairat: mati.
Enigma: teka-teki.
Elusif: sukar dipahami.
Madah: kata-kata pujian.
Pirau: berwarna abu-abu. Kabur.
Kuyu: muram.
Jemparing: panah.
Belantara: sangat luas (tentang hutan, padang, dsb.)

--

--

Kalabendu

Sesak memadati sudut ruang. Tilik memicing mencari surai legam di antara rembulan dan malam.

Kunarpaku telah lama marat oleh bising dunia. Langkah berulang dipenuhi pretensi akan hasrat mengenai hidup, dusta mencekik tenguk; mati.

“Berkenankah Nona berdansa dengan saya?”

Jagat begitu jemu bak terungku — kalabendu — dan Tuan terlampau mampu merayu daksa kuyu.

Kepalaku ini bak sengkarut; kaotis nan cendala. Namun Tuan pun tak jauh lain. Benak sepah atas tirani distopia, tergagap berjalan memecah pesta.

Indah nan hangat romantika garis tangan pada sela jemari. Damai raga berdansa di bawah pelita purnama. Coretan merah di atas telapak, merdu pekikan duka bak musik pengiring romansa.

Andaikata dunia merupakan panggung tarian mimpi buruk, maka Tuan dan Nona berupa magnum opus; penari paling sani dalam tangis.

--

--

Pendar.

Andai kata pendar pawaka menusuk rancah kelopak mu, kelak akan ku undang Apollo ke dalam penjamuan ambrosia. Lantas akan ku lempar jemparing pada mahkotanya, menyisakan merah membanjiri singgasana.

Andai kata langit tidak lagi abu-abu, dan yang biru telah dimakan waktu, kelak akan kutemui engkau di puncak jayastamba. Kubawa redup-remang serta aman ke atas kepala, supaya astungkara menemani kelam malammu.

--

--

Garis uripnya dirajut oleh kelindan romantika.

Garis uripnya dirajut oleh kelindan romantika, kepak kukila-kukila dari kaki bumantala selatan melalui langkah mestika.

Daksa awanama, sibuk berkidung asa dibawah padang bulan, "astungkara, astungkara!" gegaokan hingga menjadi kunarpa.

Merona bucu kulit-kulit pipi, tiba pada lumbung padi nadir. Menyanggam sukma───lelah berdikari sepanjang urip, berpijak pada sengkarut petak-petak mayapada.

Setelahnya mangkir purna, sabur dalam kekosongan sepi, gugur, niskala.

--

--

Stormy night, jet black sky.

Blood between my legs, red drip down the pale yellow cloth I wear. The window blind burbled in the breeze. The fire crackle on the candle; 18.

“Look, you’ve finally become a woman!” mother beamed. Her smile is really wide, ear to ear.

My sight is blurry with tears. My vision starts to dim.

The door thumped open. There come father, the man mother hates the most. I caught a glimpse of his blurry-panting face, strolling around the table.

“Mary, what have you done to him?”

Photo by Xu Minghao.

--

--