11.

Surat

Banten, 30 Juli 2018

Kepada Laki-laki berkacamata yang berada di tempat Istimewa; Apa kabarmu malam ini? Semoga kau sedang bermimpi indah. Semoga kau baik-baik saja, seperti doa yang Saya pinta pada-Nya. Sudah sekian purnama Saya tak melihat senyum dan tawa dari bibirmu, yang senantiasa menawarkan bahagia tanpa diminta.

Malam ini begitu berisik, kesunyian terlalu bising, isi kepala ini hanya namamu, mungkin kenangan sedang bertamu. Saya memang pelupa, namun jika perihal tentangmu Saya pengingat segala. Karena untuk mengingatmu, Saya tak perlu diingatkan.

Saya tahu, setiap awal pasti ada akhirnya. Dan Saya sudah mengira ini tak akan bertahan lama, bukan prasangka tapi Saya hanya menduga, tapi memang benar adanya.

Dulu, kita terlalu percaya pada kekuatan kata semoga. Dipersatukan atau dipisahkan adalah hasil akhir. Kita hanya harus menjalani proses dan mempertahankan, serta meyakinkan Tuhan. Tapi, nyatanya kita kalah. Saya memang pesimis, padahal Saya hanya ingin menciptakan kisah yang manis, tapi justru malah berakhir ironis, dan membuat Saya menangis.

Kelak, kita akan menjadi dewasa melalui proses kehidupan, bersabar saat tertekan, tetap tersenyum ketika hati menangis, diam saat terhina, dan kita akan bertambah kuat dalam doa serta pengharapan.

Saya hanya berpesan; jangan lupa bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan padamu, dan jangan pernah bosan mengucap amin, karena kata itu yang mengabulkan semua ingin dan akan selalu membuatmu aman.

Maaf, jika ada salah kata saat Saya mempertahankan kita.