12.

-

Dari kejauhan matamu aku menemukan perasaan paling biru yang tak bisa kukatakan.

Mungkin bagai laut, kelak menenggelamkan aku seban duka dan luka yang tertahan, begitu palung; deras dan tak berpayung.

Dan tetap kutemukan kau memandangku, tanpa seucap suarapun. Ketika aku, perlahan, tersedak kata-kataku sendiri.

Jika bisa kuucap tanpa suara, di depanmu yang melumatku dengan sepasang pandang, mungkin kau memahami, lebih dari puisi, aku ingin kau miliki.

Katakan waktu, berlalu tak menyisakan aku, mungkin saja kau masih menjadi keinginan yang berdebar dijantungku, menengadah doa-doa, ke langit; sisakan aku tempat dihatimu.

Sepasang matamu tak lagi memandangku. Dan kusadari kesempatanku tak mungkin datang lagi. Kau berlalu, sedang aku mengejar sebagai masa lalu…

Aku kalah.


Banten, Mei 2016