Ku Titipkan Rasa Bersalah di Dalam Dompetmu

RIRI NUR
RIRI NUR
Nov 6 · 3 min read

Seandainya meletakan rasa bersalah semudah menyelipkan materai 6000 di sela buku. Di bawah taplak meja. Di kotak perhiasan yang jarang dibuka. Di dalam dompetmu yang penuh struk belanja. Di mana pun tempat yang mudah terlupa, mungkin rasanya tidak akan semenyiksa ini. Mungkin tidak lagi kepalaku kekurangan oksigen hanya karena teringat akan hal yang membuatku lupa bagaimana cara bernafas dengan benar. Perlahan dan damai, bukannya malah terengah-engah seolah ada yang menggantung di dada hingga membuat sesak.

Photo by DANNY G on Unsplash

Aku tahu, aku butuh bicara. Mengungkapkan rasa yang terus menuntut untuk dikeluarkan. Namun, rasanya tidak sanggup. Seluruh kosakata yang kupelajari seolah lenyap terserap sari-sari makanan yang masuk ke dalam tubuh dan keluar menjadi kotoran. Tiap kali mereka bertanya apa yang membuatku terlihat hilang padahal saat ini aku memiliki segalanya, aku sungguh ingin mengatakan: aku tidak baik-baik saja dan aku butuh pertolongan.

Namun hal terbaik yang bisa kulakukan hanya tersenyum kemudian pergi.

Meninggalkan mereka dengan keyakinan bahwa aku hanya kurang istirahat saja. Bahwa tidak ada yang membebani diriku selain pekerjaan ini. Bahwa jiwaku tidaklah retak meski terlalu banyak tekanan tak kasat mata. Bahwa segalanya aman terkendali, seperti gerakan SKJ 2000. Teratur dalam irama.

Aku sebenarnya tidak tahu, harus bangga atau malu? Membawa perasaan bersalah ini dengan yakin di atas pundakku namun tetap tersenyum bahagia di hadapan mereka. Kadang kala ada saatnya aku ingin menangis, mengeluarkan seluruh amarah juga rasa bersalah dari dalam diriku. Menunjukan bahwa luka tak kasat mata ini menyiksa. Dan mungkin, mungkin saja, mereka dapat memahami perasaanku. Memaklumi apa yang sudah kulewati. Atau setidaknya berhenti berekspektasi tinggi akan diriku. Tapi, semua itu rumit. Boro-boro memahami, mereka hanya tahu benar dan salah jika itu menyangkut tentang orang lain.

Dan jelas sudah, bagi mereka aku bersalah.

Walau semua ini bukan keinginanku. Meski kenyataannya aku — kamu — kita semua tidak punya kuasa atas apapun yang datang dan pergi di kehidupan ini. Tetap saja, aku yang dianggap bersalah. Bahkan ketika luka yang kurasakan lebih dalam dan nyata dibanding nalar mereka. Semua tidak akan merubah apapun. Semua sudah terjadi dan menjadi bagian dari diriku sampai tuntas tugasku di dunia ini.

Dan seandainya rasa bersalah memang dapat diselipkan di antara tumpukan koran yang tidak akan dibaca lagi, mungkin semua akan lebih mudah. Mungkin tidak akan ada lagi mimpi merengkuhnya dalam pelukku. Ku dengar tangisnya. Ku lihat bola matanya yang hitam. Ku rasakan begitu lembut dan rapuh dirinya dalam dekapan.

Dan jika memang rasa bersalah bisa kutitipkan di tempat penitipan barang, kemudian kuhilangkan tanda bukti penitinpannya agar tidak lagi aku menuntut untuk dikembalikan apa yang sudah kutitipkan. Mungkin rasa percaya diri akan pantasnya jiwa raga ini mendapat kesempatan untuk memilikinya lagi hadir seiring hari berganti. Tanpa ada lagi rasa ragu bahwa aku mampu melindunginya.

Namun sementara, izinkan aku titip rasa bersalah ini dalam dompetmu. Satukan dengan struk belanja penuh penyesalan itu, lalu buang dan lupakan. Karena aku tidak bisa melakukan ini sendiri. Aku terlalu pemikir untuk menyelesaikan rasa sesak ini sendiri. Aku terlalu lemah untuk mendorong pagar yang kubangun sendiri.

Dan yang paling penting dari semuanya: aku rindu merasa lepas dan bahagia.

Jadi, bolehkah kutitip rasa bersalah ini di dalam dompetmu?

****