Tentang Kamu dan Aku yang Tidak Butuh Ruang Sendiri

RIRI NUR
RIRI NUR
Nov 8 · 4 min read
Photo by Yuris Alhumaydy on Unsplash

Dari kisah ini berawal, semuanya selalu tentang kamu. Tidak pernah aku. Apalagi kita.

Minggu itu, dua tahun lalu, seperti hari minggu ketiga tiap bulannya, kita berdua duduk kekenyangan di ruang keluargaku setelah brunch bersama. Kamu yang Mas Daru bilang “Tidak Dijual Terpisah” dariku tidak pernah absen, apalagi kalau soal masakan rumahan ala Ibu. Kamu rela mengatur ulang semua jadwalmu untuk itu. Tidak heran kalau kamu jadi anak kesayangan ibu, bahkan mengalahkan Mas Daru.

“Dara,” panggilmu pelan.

Aku menoleh dan menemukanmu bersandar pada bean bag di ruang keluargaku tanpa daya karena kekenyangan — begitupun aku. Kamu menatapku dengan tatapan I-Know-You-Love-Me-Please-Help-Me-To-Get-What-I-Want. Kukira kamu ingin bilang kalau kamu masih ingin tambah es teler buatan ibu yang legendaris itu, namun kalimatmu selanjutnya membuat makan siang di perutku seperti diaduk-aduk. “Nikah, yuk! Terus kita pergi dari Jakarta.”

Selama beberapa detik, aku hanya terdiam. Yang terdengar di antara kita hanya suara tipas angin di langit-langit ruang keluargaku.

“Dara?” panggilmu sambil meraih tanganku. “Are you okay?”

Aku memukul pelan bahumu, “Bisa-bisanya kamu nanya ‘are you okay?’ Kamu tuh sakit, ya?”

Kamu tertawa dan kembali bersandar pada bean bag di belakangmu. “Cewek lain itu kalau di ajak nikah happy, excited, gembira, nangis bahagia! Atau meluk pacarnya bilang, ‘makasih sayang, iya aku mau’. Kamu malah ngatain aku. Yang sakit itu aku apa kamu, coba?” ejekmu dengan sepenuh hati.

Aku hanya geleng-geleng kepala menanggapimu. “Aku tahu ya, kamu nggak romantis. Tapi, ya, nggak begini juga kali. Mana aku cuma pake kaos rumahan, nggak lagi dandan, perut super kekenyangan, suara latar belakang daritadi yang kudengar cuma suara tahak kamu. Dan….” Aku mendekatkan diriku dan menghirup udara di sekitarmu, “Mana belum mandi pula kamu ini. Tadi habis jogging langsung ke sini kan?”

Kamu hanya nyengir tanpa rasa bersalah. “Tapi kamu mau kan?” tanyamu lagi.

“Emang kita mau pindah ke mana?” aku balik tanya.

“Manhattan.”

“Hah? Bercanda lo ya? Magetan kali maksudnya?”

Kamu melemparkan tatapan kesal kepadaku, “Mau ngapain di Magetan, Ningsih? Jadi Reog Ponorogo?”

Aku melempar bantal sofa ke wajahmu, kamu menepisnya kemudian tertawa. “Serius sedikit kenapa, sih, Go!” protesku lagi.

“Iya, ini aku serius, Sayang! Kita nikah terus pindah ke Manhattan. Kamu bisa tetap lanjut jadi beauty and fashion writer di sana. Aku bisa gabung dengan Morgan Legal Group — I wish. Nothing bad about that, right?

Kepalaku masih mengolah semua informasi yang kamu katakan. Nikah. Manhattan. Kita berdua. Kamu sudah kehilangan kewarasan ya?

“Lama kamu mah, udahlah aku minta izin ke Ibu aja,” katamu sambil bangkit dari duduk.

“EH, APAAN SIH HANGGO AKU BELUM BILANG IYA!” kataku panik sambil menahanmu.

Kamu berhenti. “Jadi, kamu nggak mau?” tanyamu dengan ekspresi sedih.

“Nggak gitu,” jawabku.

“Terus?”

“Duduk dulu, please?” pintaku.

Kamu pun kembali duduk.

“Aku bukannya nggak mau, tapi, Manhattan?” aku menarik nafas. “Go, emang kamu bisa hidup tanpa nasi padang?”

Kamu menatapku, seolah menunggu kalimatku selanjutnya. Namun karena aku hanya menatapmu penuh harap agar kamu segera menjawab pertanyaan super seriusku, akhirnya kamu tertawa.

“Dari begitu banyak hal, kamu mengkhawatirkan itu?”

Aku mengangguk.

“Kamu bahkan nggak khawatir kalau karir kamu nggak berkembang di sana?”

Aku menggeleng.

“Kamu nggak khawatir kita bakalan tinggal di apartemen kecil yang nggak ada apa-apanya dibanding rumah orang tua kamu?”

Aku menggeleng.

“Bahkan nggak khawatir jauh dari keluarga dan sahabat kamu?”

“Aku kan nggak sendiri di sana. Ada kamu.”

Kamu tersenyum. “I take that as a ‘Yes’ then.” Kemudian kamu bangkit berdiri.

“Ih, mau ke mana aku belum selesai!”

“Mau ketemu ibu sama ayah. Kan kamu udah setuju.”

“Hanggo apaan, sih!” aku menahannya. “Pulang dulu, mandi, ganti baju.”

“Repot banget, sih, Dara. Aku sekarang ini pakai baju loh, nggak telanjang.”

Aku mengencangkan genggamanku, “Aku nggak rela ya, kamu minta izin mau nikahin aku ke ibu dan ayah cuma pakai kaos belel dan kolor kayak gini.”

“Ya ampun namanya baju olahraga ya begini, Sayang,” kilahmu. “Kalau aku pakai jas namanya mau trial.”

“Makanya pulang dulu, dong, Ganteng. Ganti baju,” rayuku. “Lagian kita belum suwun sama Mas Daru kalau kita mau duluan.”

Kamu tersenyum, “Aku udah ngomong kok sama Mas Daru. Dia mengizinkan.”

“Hah? Kapan?” tanyaku panik.

Kamu melangkah meninggalkan ruang keluarga. Aku mengekor di belakangmu dengan tanganku masih memeluk tanganmu. “Hanggo, kapan kamu ngomong sama Mas Daru? Kenapa tiba-tiba begini, sih?”

“Minggu lalu waktu kondangannya Mbak Ira,” jawabmu sekenanya. “Udah kamu tenang aja, Dara. Aku udah nyiapin semuanya buat kita. Oke?”

“Nggak.”

Kamu berhenti. “Jadi, sebenernya kamu oke apa enggak nih?”

“Oke kita akan menikah, tapi nggak oke kalau kamu harus ketemu Ibu dan Ayah kayak gini.”

“Susah deh punya pasangan budak fashion.” Kamu melangkah lagi menuju ruang makan di mana Ibu, Ayah, dan Mas Daru masih asik berbincang di sana. “Tiap minggu juga aku begini kalau ketemu Ibu sama Ayah. Lagian Ayah itu dokter yang khitan aku waktu kecil dulu. Ayah udah liat semuanya.”

Oh my God! It was zillion times a go!

Tanpa dapat kucegah, kamu meminta izin kepada Ibu, Ayah dan Mas Daru dalam kaos belel dan kolor kebanggaanmu itu.

Begitulah kamu. Menyebalkan. Dan hanya memikirkan diri sendiri, seolah seluruh galaksi berputar mengelilingimu. Salahkah bila saat ini, setelah rasa bersalah yang kubawa kemana-mana sendirian, aku ingin kamu mengerti? Tidak semuanya tentang kamu. Ada aku yang butuh didengar walau kuakui lebih banyak air mata daripada kata yang kulontarkan akhir-akhir ini. Setidaknya tetaplah di sampingku, bukannya malah pergi meninggalkan aku sendiri di apartemen kecil yang terasa sangat sepi tanpamu.

Di tengah dinginnya Manhattan bulan November, aku tidak butuh ruang sendiri.

Aku butuh kamu.

Aku. Butuh. Kamu.

***

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade