SEBENARNYA, AKU PEMBOHONG .


Kita sudah membuat jam pertemuan sebelumnya . Dan akhirnya memang kita bertemu, mungkin waktu itu menunjuk kepada angka 4 saat hari sedang cerah . Seperti biasanya, kita saling bertukar pikiran .

“ Oyaa… sepertinya aku berbohong kepadamu “ ujarku sangat kaku, dan memang sudah bergumam dalam hati sebelumnya . “Maksudmu?” Ujarnya dengan muka yang tidak terlalu bersifat mengherankan terhadapku . “Sebelum aku berbicara seperti ini kepadamu, satu pertanyaan saja, bolehkah aku?” Bertanya dengan tetap sama dengan perasaanku yang tadi .

“ kamu tahu apa itu berbohong? “ Tanyaku lagi . “ Aku tidak memikirkan hal yang sebenarnya tidak harus aku pikirkan “ jawabnya dengan gagah berani . “ Berarti kamu tidak memikirkan keburukan dan kebaikan dalam perjalanan hidup ini ? “ , “ Tidak, aku memang sempat memikirkannya, namun setelah dipikirkan dengan nalarku sendiri, seharusnya kebohongan dan kejujuran itu sangat lebih baik untuk kamu rasakan “ .

Beberapa menit aku termenung dengan jawabannya . “ Lalu? Kamu tidak akan berbicara lagi sampai kita tiba dirumah kita masing - masing ? “ Tanyanya dengan tersenyum .

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Zakaria’s story.