Untuk yang terakhir kali .

Sekali lagi, aku tidak akan berbicara tentang kertas usangmu lagi . Sepertinya kamu akan memahami apa yang kuucapkan ini . Ialah tetesan air hujan yang memaksaku untuk sadar . “Ayo! Kamu tidak seburuk buah kurma yang terlentang begitu saja ditimbunan gersangnya gurun pasir” ucapnya .

Akhirnya, aku pun berdiri tanpa kompromi . Begitu agresif, kucoba merobek jalan yang berada disebelah kanan dan kiri . Meronta lah diriku ini . Bergejolaklah seluruh asa yang liar tidak bertuan .

Akan kuhancurkan irama yang sangat tidak beraturan ini . Miligram demi miligram kucoba satukan menjadi puluhan bahkan ribuan . Sel adrenalinku yang sebelumnya melebam kini memerah . Mengisyaratkan bahwa kali ini aku tidak hanya bisa berlari saja, namun melebihi kecepatan intensitas kimia yang cepat kilat menembus syaraf otak .

Langkahku kini tidak terhentikan oleh siapapun . Siapa yang berani menghentikanku ? Akan kurobek bagian dalam sel aktif didalam tubuhnya . Kuterbangkan nyawanya hingga terombang ambing pilu, diantara kehidupan dan kematian . Kusisipkan ditengahnya .

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Zakaria’s story.