Terlahir Sedih

Bayangkan bila Anda berada di dalam bus yang sesak, radio diputar dengan volume kencang, seseorang menyapa, tersenyum dan memberi tempat duduknya — namun Anda masih merasa kesal, tidak bahagia, dan dalam keadaan yang paling menyedihkan, menderita. 
Itulah yang mungkin dirasakan oleh para pengidap depresi. Sylvia Plath, Robin Williams, dan Teguh Karya merasakan bagaimana depresi menyerang — like a trainwreck waiting to happen.

Ketiganya adalah sosok yang sukses dan terlihat tidak ada kekurangan dalam hidup mereka. Tetapi, mari kita baca seksama bagaimana mereka meninggal:
* Sylvia Plath adalah penyair Amerika yang memenangkan penghargaan Pulitzer dan Glascock, ia menaruh kepalanya di dalam oven dan menghirup gas hingga tewas. 
* Robin Williams adalah aktor, dan komedian yang memenangkan sekian banyak penghargaan Oscars. Terkenal dengan kejeniusannya dalam membaurkan drama dan komedi di film tanpa terkesan norak, ia ditemukan gantung diri menggunakan ikat pinggangnya. 
* Steve Liem Tjoan Hok atau yang dikenal dengan Teguh Karya merupakan sutradara, ahli dalam pemeranan, desain, dan penyutradaraan film legendaris Indonesia. Seperti sudah takdir, Pulang menjadi karya terakhirnya sebelum ia terserang stroke akibat depresi pasca kerusuhan Mei 1998 yang kemudian membuatnya berpulang kepada Sang Pencipta pada 2001.

Mereka bertiga adalah sosok terakhir yang dapat terpikirkan untuk menderita depresi dan bunuh diri karenanya. Pada kenyataannya depresi tidak akan tebang pilih, sukarela menyerang berbagai kalangan, entah itu sang aktor maupun penontonnya, si kaya atau si miskin, yang tua dan yang muda.

Sebegitu mengerikannya penyakit ini, namun masih banyak yang tidak acuh untuk mengedukasi dirinya sendiri. Lantas, apakah depresi itu? 
Yang dapat saya simpulkan secara halus kata dari berbagai sumber (situs kesehatan, terapi, buku, koran, ilustrasi, dan kawan yang bersekolah kedokteran), depresi adalah penyakit suasana hati. Depresi ditandai dengan hadirnya perasaan sedih, murung dan iritabilitas yang dibiarkan bertahan terlalu lama. Pengidapnya mengalami distorsi kognitif seperti mengkritik diri sendiri tiada henti, timbul rasa bersalah akan semua hal, perasaan tidak berharga, hilang percaya diri, pesimis dan putus asa yang berlanjut pada retardasi psikomotor dan perilaku anti sosial.

Terlahir sedih, begitu judul dan spekulasi mentah saya terhadap ‘orang yang sedih tanpa sebab’ saat memulai tulisan ini. Memang, depresi dapat disebabkan oleh faktor genetis. Tim riset dari King’s College London menemukan kromosom 3p25–26 yang menjadi link kuat kemunculan depresi pada 800 lebih keluarga yang memang mengidap depresi. Yang mana 40% dari mereka dapat menurunkannya langsung secara genetis (baca disini). 
Kemanakah 60% sisanya? Non-genetis. Depresi lebih banyak disebabkan oleh lingkungan, kebiasaan yang aneh, ketidakseimbangan serotonin, dan faktor lainnya seperti gender. Jantung saya berdegup kencang saat membaca disertasi yang menunjukkan bahwa wanita cenderung mengidap depresi, sebanyak 42% (baca disini) ketimbang pria dengan 29%.

Depresi sungguh menghantui tidur saya, karena minimnya hal yang saya ketahui mengenai bagaimana depresi dapat terjadi. Saat berdiskusi dengan kawan kedokteran, kami tahu bahwa ada tiga kategori depresi, yaitu depresi ringan, sedang dan berat (menetap). Perbedaan ketiganya terletak pada penilaian klinis yang kompleks meliputi jumlah, bentuk dan keparahan gejala yang ditemukan. Tentu yang dapat menentukan kategori pada pengidap adalah psikolog dan psikiatris. Untuk itu ada baiknya memeriksakan diri lebih awal apabila sudah ada yang terasa ‘janggal’. Hal janggal seperti bila ada perasaan resah dan sulit untuk melakukan aktivitas keseharian namun masih menjalaninya adalah depresi ringan. Terasa sangat sepele bukan?
Namun bila kita abaikan, hal ini akan berlanjut kepada depresi sedang yang menyebabkan individu mengalami kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga. Hingga pada depresi berat, individu sudah menderita dan menunjukkan ketegangan, kegelisahan yang amat nyata, perasaan tidak berguna dan kehilangan percaya diri yang sangat mencolok dengan tindakan bunuh diri sebagai bahaya nyata.

Kawanku, bila tulisan ini telah membantu Anda mengenal depresi, tolong mulai perhatikan sekeliling Anda. Perhatikan orang orang terkasih Anda, ibu, ayah, kakak, dan adik. Depresi itu nyata, statistik dari WHO menyatakan bahwa depresi merenggut lebih dari 850.000 jiwa setiap tahun dan bunuh diri merupakan penyebab kedua tertinggi kematian di dunia pada usia 15–29 tahun. Lalu bagaimana dengan statistik depresi di Indonesia?
Sama nyatanya. Komisi Nasional Perlindungan Anak menyatakan pada 2014, ada 89 kasus rencana anak dan remaja bunuh diri. Dengan 39 kasus diantaranya terjadi pada usia 12–14 tahun. Pada 14 Januari tahun lalu, depresi terjadi sangat nyata dan menjadi tamparan untuk kita semua. Arangga Arman Kusuma, remaja 14 tahun ditemukan meninggal karena gantung diri di kediaman neneknya, Pancoran, Jakarta Selatan.

Arangga bahkan menulis detil perencanaan bunuh dirinya pada smartphonenya. Kawan, bayangkan bila Anda adalah Arangga yang mencoba kekuatan lemari, kemudian memperkuatnya agar dapat menopang seluruh tubuh tanpa terjatuh. Bayangkan bila Anda berpuasa selama seminggu agar saat ‘hari’ itu tiba, mereka tidak akan menemukan jasad Anda dengan kotoran yang keluar. Bayangkan betapa kukuh tekad Arangga untuk melakukannya. Semua konsentrasi dan kekuatan itu didapatnya dari depresi.

Bila ada yang merangkulnya lebih awal, tentu ia akan menyalurkan tekadnya untuk hal yang indah, yang bahagia. Koran nasional memberitakan bahwa Arangga diduga mengalami depresi sejak perceraian kedua orang tuanya enam tahun lalu. Saat saya mencoba untuk mengerti kepergian Arangga, mungkin perhatian dan cinta kasih yang tidak sepenuhnya ia terima dari orangtua, membuatnya memilih berpulang kepada pencipta-Nya yang pasti lebih mencintainya.

Depresi bukanlah gangguan yang homogen, melainkan fenomena yang kompleks. Namun bukan berarti tidak dapat ditolong. Pengidap depresi dapat disembuhkan melalui farmakoterapi dengan meminum obat anti depresan, psikoterapi dengan terapi kognitif/perilaku/psikodinamik dan terapi kelompok.

Pada akhir tulisan ini, yang saya pikirkan adalah pengidap depresi yang bunuh diri akan meninggalkan duka psikologis mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, karena mereka selamanya ditinggalkan mungkin tanpa tahu mengapa. Mereka yang ditinggalkan akan hidup dengan kenyataan pahit tersebut. Siapa dan apa masalahnya, penyesalan, dan kesedihan terus bersahut sahutan. Yang dapat menerima kenyataan dengan berusaha memahami depresi akan melanjutkan dan memiliki hidup yang lebih baik, sedangkan yang tidak — akan melanjutkan hidup dengan perasaan bersalah sepenuhnya dan dapat perlahan memiliki gejala depresi. Bila hal itu terjadi, maka tidak akan putus rantai setan ini. Kita harus sadar, nyalakan dan sebarkan kepedulian akan depresi dan pengidapnya. Gunakan indera kita untuk berinteraksi sosial secara nyata, langsung, tanpa perantara, bersentuhan, bergenggaman, saling memeluk dan mengecup. Berikan kasih sayang pada siapapun, terutama mereka yang terlihat sedih. Tidakkah kita hidup dalam kecurangan dengan murka Tuhan mungkin dalam genggaman, bila tidak berbagi kasih sayang dan membiarkan mereka — yang terlahir sedih hidup dalam kesedihannya ?