Photo story : Mega Longsor Bawakaraeng dan Kisah Nenek Lijah

Mega longsor Bawakareng terjadi beberapa tahun silam, tepatnya pada tanggal 26 Maret 2004. Peristiwa ini begitu menggemparkan hampir seluruh penduduk Sulawesi Selatan, termasuk Makassar. Salah satu pemukiman yang mengalami dampaknya adalah Desa Manimbahoi, terletak di Kab. Gowa, Kec. Parigi, Dusun Bawakareng, RW Lengkese.

Peristiwa ini terjadi tepat setelah dilaksanakannya Shalat Jumat, kurang lebih pukul 13:30. Menurut kesaksian dari beberapa orang di Desa Manimbahoi, sebelum kejadian terdengar bunyi dentuman keras seperti suara kilat saat menyambar. Pasir-pasir serta bebatuan berhamburan jatuh dari langit menuju genteng-genteng rumah warga. Longsor terjadi selama kurang lebih 5 menit, dan jangkauannya sangat luas.

Longsor ini tentunya meninggalkan bekas luka mendalam bagi mereka yang keluarganya telah menjadi korban perisiwa ini. Meskipun telah terjadi pada tahun 2004, namun trauma masih ada bagi keluarga korban. Bahkan hanya sekitar 32 orang yang dapat ditemukan dan beberapa lagi hilang tenggelam bersama longsor tersebut.

Nenek Halijah, biasa di sapa Nenek Lijah, salah satu warga yang keluarganya menjadi korban longsor tersebut. Nenek Lijah saat ini tinggal bersama anak bungsunya, Mama Rabi’ dan cucunya yang merupakan anak bungsu dari Mama Rabi’, bernama Aldi. Mereka adalah warga Desa Manimbahoi, yang sebelum kejadian tinggal bersama tiga orang keluarga mereka, namun kini telah menjadi korban longsor. Mereka adalah Almarhum Bapak Rahim, menantu dari Nenek Lijah dan Suami dari Mama Rabi’, Almarhum Inal dan Almarhum Udin yang merupakan anak pertama dan kedua dari Mama Rabi’, juga cucu dari Nenek Lijah serta Kakak dari Aldi.

Sebelum terjadinya longsor, Almarhum Inal yang merupakan anak pertama saat itu menempuh pendidikan di kelas 6 Sekolah Dasar, Almarhum Udin duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, dan Aldi masih berumur sekitar 2 tahun. Namun, sekarang Aldi cucu dari Nenek Lijah hanya seorang diri yang masih menemani nenek dan ibunya di rumah. Aldi saat ini kiranya berumur 18 tahun.
Nenek Lijah sangat trauma dengan kejadian longsor yang telah merenggut nyawa tiga orang keluarganya. Duka mendalam terus saja hadir, bahkan ketika beliau berbicara dengan saya mengenai kejadian tersebut, beliau sempat menitihkan beberapa tetes air mata, walaupun tidak saya abadikan dalam bingkai frame kamera.

Beliau mengakui sangat berat bagi dirinya, terutama jika harus kembali mengenang kejadian beberapa tahun silam itu. Bahkan di ruang tamunya, tak ada foto dari ketiga keluarga yang menjadi korban longsor. Namun itu bukanlah sesuatu hal yang memperlambat Nenek Lijah dalam menjalani hari-harinya, ia tetap beraktifitas seperti biasanya. Suatu ketika beliau sempat mengalamai stroke ringan, kakinya tidak dapat digerakkan selama beberapa minggu, tutur dari Mama Rabi’. Namun setelah itu ia kembali dalam kondisi sehat.

Beberapa hari setelah kejadian longsor, Nenek Lijah dan keluarga meninggalkan desa sekiranya untuk mengungsi, dan baru kembali sekitar kurang lebih 5 tahun. Beliau ingin menenangkan diri, serta masih khawatir akan terjadi longsor susulan. Nenek Lijah sekarang lebih baik kesehatannya dari beberapa waktu lalu, namun beliau sangat jarang untuk keluar rumah, mengingat ketakutan Mama Rabi’ akan kondisi serta usia Nenek Lijah.

Menurut cerita dari Nenek Lijah, sebelum terjadinya longsor dia masih sempat untuk bertemu dengan Almarhum Bapak Rahim, Almarhum Inal, dan Almarhum Udin. Pertemuan terakhir mereka yaitu ketika mereka pulang dari menunaikan ibadah Shalat Jumat. Sehabis makan siang, ketiga orang itu pergi ke sawah untuk memperbaiki sebuah pondok yang menjadi tempat mereka bernaung ketika lelah di sawah.

Selang kemudian, datanglah Mama Nia, sepupu dari Nenek Lijah. Beliau menawarkan rumput di sawahnya yang telah ia potong untuk di ambil oleh Almarhum Bapak Rahim, sekiranya untuk memeberi makan sapi Almarhum Bapak Rahim. Menurut penuturan Mama Nia, ada sekiranya 2 ikat rumput yang hendak di ambil oleh Almarhum Bapak Rahim. Beliau pun hendak mengambil rumput tersebut bersama kedua putranya, yaitu Almarhum Inal dan Almarhum Udin, sementara itu Mama Nia pulang ke rumah miliknya.

Sekitar 15 menit setelah Mama Nia tiba di rumahnya, peristiwa longsor tersebut terjadi. Longsor turun dari punggung Gunung Bawakaraeng. Menurut penuturan dari Nenek Lijah, ketiga keluarganya yang saat itu ke sawah dan mengambil rumput masih berada di sana saat longsor terjadi hingga berakhir. Mereka bertiga pun menjadi korban longsoran tersebut.

Penuturan-penuturan Nenek Lijah tentang kronologi tersebut sangat berat bagi beliau untuk diungkapkan, oleh karena itu saya selaku penulis dan fotografer berhenti menggali informasi yang lebih mendalam lagi, karena melihat tetesan air mata dari Nenek Lijah dan tidak ingin memperparah kondisi dari Nenek Lijah. Selayaknya kemudian mengalihkan pembicaraan kepada hal-hal yang tak membahas kejadian tersebut.

Maka untuk itu, dalam waktu kurun 3 hari saya lalui waktu untuk bersama Nenek Lijah, melihat kehidupan beliau. Nenek Lijah dengan nada pelan, keluar sebuah suara yang telah menganggap saya sebagai layaknya seorang cucu bagi dirinya. Selama beberapa hari itu beliau selalu memeluk saya, mencium, memegang tangan saya dan beberapa kawan saya, serta memberi nasihat layaknya seorang cucu bersama neneknya.

Akhir kata, beliau menitipkan pesan untuk tidak lupa terhadap dirinya. Nenek Lijah selalu terbuka kepada siapa saja yang datang kepadanya, itu dia katakan langsung kepada saya. Beliau telah mengganggap saya dan beberapa teman saya sebagai seorang keluarga.

Terima Kasih Nenek Lijah, kami menyayangimu.

Yudhi Kurniadhi Syam