pada suatu pagi

amsal waktu berlari — mengkonsolidasi dua pasang tubuh:

”dari puncak kalibiru kita pandang jalan-jalan yang pernah ditempuh sebelum saling bercermin di bola mata masing-masing — ikan-ikan kehabisan napas, tak ada laut biru. hanya kabut sesekali memaksa saling berdekapan (telah lingsir cemas sebab cinta telah menjadikan kita burung-burung)

di hari lain di kebun buah mangunan, tampak sungai oya dan pegunungan sewu, warna-warna hijau toska kian menambah kesejukan yang dihadirkan genggaman jemari kita. seperti ada surga lain ketika sepasang tubuh memetik buah-buah. sunset luruh lebih indah dari sore yang pernah kita lalui — kita merasa hidup.

kala libur tiba, kita mengunjungi museum, melihat potret diri menjadi hitam putih. menyimpannya di dinding-dinding kamar.

sebelum tidur kita bercerita tentang hal-hal yang dilalui sepanjang hari hingga seseorang tertidur dan seseorang lain merapikan selimut, mengecup kening lalu memadamkan lampu“.

tak ada amsal. pagi tiba dan aku menemukan sajak telah menuliskan kita.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.