memasuki pintu

kau seseorang yang membenci orang lain ketika hendak memasukimu, kau selalu menjelaskan semua hal yang menguatkan alasan mengapa kau benci seseorang mengetuk pintunya, sedangkan aku selalu membiarkan siapapun mengetuk pintu, sebab suara ketukan pintu pun ialah takdir antara pintu dan jemari seseorang, pada akhirnya yang kubiarkan masuklah yang benar-benar masuk. saat seseorang masuk aku pun tahu jika akhirnya akan berakhir menjadi senja di sore hari, atau tidak pernah ada suasana selain malam pukul larut diiringi lirik-lirik “coldplay-fix you, we are the fallen-i am only one, lifehouse-flight”, atau bahkan “evanescene-my heart is broken,james arthur-impossible, linkin park-easier to run, hoobastank-so close so far, michael buble- home”. tapi, dari sanalah aku suka diriku, aku menikmati diriku yang berdarah-darah karena sebuah peluru yang ditembakkan sebuah punggung, selalu tepat sasaran. seperti rimbaud, di mana saat seseorang merasa perlu berlari dari luka, ia justru mengundang dirinya untuk dilukai. ya, seseorang selalu ingin sembuh, tetapi apakah ada yang benar-benar tidak sakit sekalipun sehat? seperti penggalan larik-larik susah tidur abdul malik “aku ingin kamu sembuh meski sebenarnya tidak ada yang baik-baik saja”, dari lukalah lahir kata tabah. bukankah, cinta adalah mencintai seseorang dan seluruh kepedihannya? kadang, cinta seperti juga hidup, kehilangan semacam cobaan bahkan teguran bagi seseorang yang perlu didewasakan, dan orang-orang dewasa barangkali yang berhasil memasuki pintu di kepala rimbaud.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.