Garis Masa

Musim ini..
Hujan tidak hadir lagi, aromanya yang kini ku peluk, jiwa tak beku lagi.
Matamu, tidak lagi mencipta sungai kecil ke bibir manismu.

Aku duduk menatap cuaca, menyelami semesta pada sepasang matamu. Katamu, bayangkan tubuhku hanyalah kabut yang semakin dingin saat memeluk.

Musim ini.. 
Mentari tak hadir lagi, dan mendung di hatimu. Setiap pelukan masa, adalah kamu yang menjelma pada pagi, setiap ku hirup udara di antara dedaunan.
Adalah pelukmu.

Jantungmu terengah. 
Napasku berembus sangat dalam, dan kudengar suaramu menyentuh seluruhku.

Separuh degub milikmu, mengayun lembut di kelopak matamu yang sayu.
Kita beranjak ke titian masa-masa redupnya merah warna hati.

Hatiku sedang berbunga, Sayang.

Pada puisimu. Bagian-bagian hidupku yang mana tak bahagia?

Aku baik-baik saja.

Bahkan setelah kepergianmu.

Berbalas puisi bareng Dhila Paruki 😊

Like what you read? Give Moon a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.