Keluh Dari Seorang Hawa

Moon
Moon
Aug 9, 2017 · 1 min read

Langit yang tak bertepi pada perita malam pun kian berlalu

Kata-kata darimu juga paragraf yang belum lengkap
Aku dengar suaramu dengan nada-nada gelisah

Di antara hujan juga langit yang gelap
Aku masih tergugu pada lipatan-lipatan cemas
Kota ini seperti mati, mencaci tiada guna

Gelap.. gelap.. gelap aku tak bisa
Sendiri dan juga kesunyian seperti belantara
Nafasku sesak, hingga bias suaramu menyapaku

Apa kabarmu?

Ah, kita selalu memberi pertanyaan yang sama
Lipatan waktu selalu tersisip rapi pada lengan yang hangat
Ranting-ranting juga daun-daun basah embun jadi teman setiap pagi
Adakah yang lebih indah dari penantian?
Aku tidak akan pernah pandai menjawabnya,
Karena sebagian dari semua telah ada di perjalanan ini
Suara-suara binatang malam, juga angin pada ventilasi jendelaku
Udara yang letih, juga buku di samping bantalku, lelap pada gelap yang lelah
Detak jam dinding, daun yang bergesekan pada atap, juga lolongan anjing tetangga sebelah

Kota ini seperti mati, hingga suaramu menepis segala resah
Rasa itu tergenapi tak lagi mengganjal, menguap pada ruang yang hangat
Kita tak pernah berpeluk janji yang sama
Tetapi aku percaya, kita menempuh takdir yang sama
tidak semua kata harus terobati dengan itu

Aku padamu, seorang petualang yang belum kembali…

    Moon

    Written by

    Moon

    Omnivora