IF NOBODY HATES YOU, YOU’RE DOING SOMETHING BORING

Sebelumnya saya berterimakasih untuk Ulil Ilham yang sudah melakukan sedikit perubahan pada gambar di atas, hingga saya terinspirasi untuk menuliskan sepatah kata ini.
Apa benar jika tidak ada yang membenci anda, hidup anda terasa membosankan? Begitulah kira-kira pengertian judul di atas. Kalau menurut pribadi saya, bisa iya dan juga bisa tidak. Mari kita bahas.
Contoh dekat, saya sendiri. Saya sebagai manusia yang hidup pastilah melakukan hal kecil yang membuat orang membenciku. Seperti, melakukan tindakan bodoh, melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan ataupun membenci orang kemudian orang tersebut balik membenci.
Dibenci orang itu rasanya seperti tidak peduli namun selalu memikirkannya. It’s like you know ? wtf. i’m just thinking, i don’t care but it still in my mind. Even the sun goes down but tomorrow it will rise again.
Saya merupakan orang sedikit logis dalam berfikir. Ketika itu (SMA) saya telat masuk kelas, dan guru sudah berada di mejanya. Kelas penuh, hanya menyisakan 1 bangku tepat di depan meja guru. You know lah, siswa yang agak urakan dan tidak rapi, dengan baju keluar dan rambut agak panjang.
Tiba-tiba.
“silahkan keluar dahulu, masukkan bajumu sama nyalakan proyektor” guruku menghimbauku.
Himbauan tersebut menurutku sulit untuk dilakukan sendiri. Dikarenakan masih ada 31 orang dikelas namun kenapa saya sendiri yang disuruh. Hingga saya berjalan keluar sambil memasukkan baju dan menyuruh temanku untuk menyalakkan proyektor. Efektif bukan.
Tiba-tiba.
Guruku berlari dari belakang dan menjambak rambutku yang dulu mirip Justin Bieber (SERIUS COK).
“keluar kamu, ke bimbingan konseling sekarang” sambil mendorong-dorongku.
“hambok rasah jorokke (mendorong)” jawabku
Semenjak kejadian tersebut saya selalu di teror oleh guru tersebut. Entah yang berkata saya ini bakteri yang membuat virus kepada adik kelas dan ucapan-ucapan yang lain.
Namun saya sadar, bahwa dibenci itu tidak buruk, seperti judul di atas, jika kalian tidak dibenci hidup kalian membosankan.
Sekarang beralih ke dibenci namun menyebabkan depresi, saya juga bingung dengan orang satu ini kenapa orang-orang membencinya. Jika membenci ada alasan yang jelas seperti muka dua, penghianat atau melakukan tindakan kriminil mah tidak masalah namun temanku satu ini dibenci tanpa alasan.
Otes namanya. Sebagai teman satu kelas saya selalu berusaha untuk berteman dengan Otes, mengobrol ringan membeli sarapan bareng, dia membeli mie kremes sedangkan saya membeli roti hingga pada suatu hari dia terkena tifus karena kebanyakan mie kremes.
Namun gak bisa cok, memang dia itu pantas untuk dibenci tanpa alasan tentunya. Entah apapun yang dia perbuat di mata teman-teman yang lain itu nyenyengit (enak untuk dibenci). Pernah kepalanya dibenturkan ke tembok oleh temanku Donny, sering di usir oleh temanku Ardhi saat kita berkumpul. Namun apa daya, Otes sendiri, yang membenci seluruh sekolah.
Jika saya jadi Otes, saya sudah menjadi Joker.
Memang kalau dibenci hidup kita sedikit tegang dan menimbulkan impuls adrenalin, kita juga bisa merasa bodoh amat dengan semuanya. Namun, kalau jadi Otes yang sudah terlalu over benci mendingan, terserah Otes mau ngapain, orang saya aja benci kenapa harus memberikan saran yang baik wkwk.
Maaf Otes.
