Jika Ingin Mengadakan Pensi Di UIN

Kuliah di Universitas Islam Negeri atau yang lazim disebut UIN memang berbeda dengan kuliah di kampus lainnya. Dengan basis mahasiswanya yang lulusan Madrasah Aliyah ataupun pesantren menjadikan UIN selalu diidentikkan dengan kampus syar’i, islami, penuh barokah, atau tukang ngadoa dan apapun itu lah bodo amat.
Fucking all…..
Ada kesulitan bila yang masuk UIN itu berasal dari sekolah menengah atas (SMA) atau sekolah menengah Kejuruan (SMK). Di samping pelajaran agama yang kental kultur pun berbeda. Seperti kesukaan pada musik yang mungkin di dominasi lagu-lagu seperti Maher Zein, Debu, Opik, Sulis, Hadah Alwi ,Ali Sastra dan penyanyi serupa lainnya pokoknya setiap bulan seperti memiliki nuansa Ramadhan. Berbeda dengan anak-anak SMA ataupun SMK yang mendengarkan Seringai, Tcukimay, Mesin Tempur dengan becak tigulingnya ataupun tiga titik hitam dari band ujung berung Burgerkill.

Tentunya ini menjadi ironi bagi kita – kita mahasiswa UIN yang anti-anti syar’i club dikala ingin mengadakan acara pentas seni, acara musik ataupun kegitan lain seperti pesta dansa karena akan ada berbagai ganjalan, halangan dan kesulitan,ironi dan bisa berakibat pada melankolia panitianya.
Kesulitan pertama adalah mengundang artis yang bisa menarik masa karena harus disesuaikan dengan keadaan kampus dan masa jika ingin mengundang Raisa saja, apakah Raisanya harus pake jilbab atau sponsor yang selalu harus di sponsori oleh Robani (disamarkan) dan Mizon (bukan nama sebenarnya) atau Raisa yang harus pake kerudung robani sembari membaca buku mizon pas perform ?. Coba lihat tanda tanya itu!!
Atau semisal ingin mengundang rapper kondang dunia akhirat, Younglex yang di mana akan ada kesulitan dalam pemasangan banner ataupun pamplet karena penuh tato. Apakah harus pake gamis agar badannya tertutupi? .Bisa di demo aktivis masjid atau pun acara yang di boikot sebelum mulai ..haduhh. ini sulit panitia tak akan kuat
Pastinya Rugi bandar iyeu mah :( .
Boro-boro kita mau mengundang Dj untuk memainkan lagu ajep-ajep sekelas Dj Butterfly yang asoy itu kalo untuk hal yang di atas pun sulit terlaksana. Tentunya bisa dirajamlah panitia sehabis acara. Duh nauzfubillah.

Pendekatan dengan pihak kampus pun tentu akan sama alotnya seperti perundingan Linggarjati ataupun Roemroyen karena pastinya akan di tanya berbagai hal mulai dari siapa yang baca Al-fatihah sampai siapa yang baca dan membaca doa penutup nantinya di samping tektek bengek di tengah yang tidak ingin disebutkan rincinya.
Yang jelas ini menjadi sekelumit cerita dan hal yang harus dihadapi anak-anak non aliyah ataupun pesantren dalam menghadapi segala tantangan dalam membuat acara di UIN tapi insya allah pasti ada jalan untuk orang yang mau berusaha dijalan benar Amin.
Hidup panitia yang melawan 👊👊
