Kenapa Harus Aksi ?

Kegiatan aksi atau berdemo bisa dibilang menjadi kegiatan yang lumrah dilakukan di kalangan masyarakat kampus, terutama kampus yang memiliki basis aktivis didalamnya. Membawa banner berisi tuntutan bernyanyi bersama, membakar ban ataupun chaos-chaos dengan pihak keamanan menjadi pemandangan utama dan lumrah terjadi.
Lantas sebenarnya kapankah kita harus turun kejalan untuk itu dan dalam perihal apa?. Masih jadi pertanyaan yang HQQ tapi untuk sebagian mahasiswa yang tergabung dalam organisasi ekstra mungkin untuk apapun termasuk hal yang tidak diketahui asal usul atau pun inti permasalahannya.
Ini bisa bisa juga disebut krisis jati diri kedalam suatu tempat keterombang- ambingan tanpa kejelasan. Mereka dengan gagah menenteng buku berjudul “catatan seorang demonstran” karya soe hok gie, berlaga seperti gie, ikut ikutan naik gunung hanya untuk eksis dan membuat stock untuk di upload. Ini menyedihkan L.

Sebagai mahasiswa penulis pun tentunya akan mengikuti aksi bila itu jelas dan benar-benar ada kecurangan atau sesuatu yang benar benar merugikan orang banyak. Seperti aksi turun ke jalan ketika harga Energen terus naik, pengurangan porsi Sarimi isi dua atau komersialisasi pada warung tegal atau warung nasi yang menyebabkan mahasiswa semi kelaparan.
Hal-hal di atas tentunya bisa mengancam stabilitas negara untuk kedepan nantinya. Masa depan yang di titipkan pada mahasiswa bisa kacau balau seperti sticker tatan hal ini juga bisa menjadikan chaos yang berkesinambungan tanpa henti yang bisa mengakibatkan inflasi , tapi bohong ketang…
