dok.net

Si Centeh dan Kenihihilan Yang Haqiqi

Septian Setiawan
Jul 25, 2017 · 3 min read

Menulis jejak, ok jejak. Yaitu sebuah rubrik di tabloid suaka yang berisi atau menyoroti tentang sejarah. Saat pimred bertanya soal rubrik dan isiannya, tanpa banyak berpikir (da emang kitu biasana ge hemmm ☹ langsung mengusulkan sekolah dasar Centeh yaitu sekolah yang sudah ada pada masa kolonial dan dipakai untuk bersekolahnya orang-orang berdarah campuran seperti Indo Eropa. Keadaan waktu itu yang memaksa adanya penggolongan ras pada sekte-sekte tertentu menjadikan adanya sekolah itu. Seperti sebuah gedung di Bandung yang Di depannya ada tulisan “pribumi dan anjing dilarang masuk”. Ok itu keadaannya tapi ini bukan tulisan tentang ras jadi skip we nya.

SD Centeh mungkin sebuah target yang sudah digariskan meleset oleh Tuhan. Bisa dibilang seperti itu karna bisa di tandai dengan keberangkatan yang teramat sial. Jujur we nya di tilang ku hileud cau (goblog euy eta duit teh dek di pake dahar di cempaka). Tapi karena di hinggapi negtreg jeng panasaran di teruskan perjalanan ke SD Centeh.

dok.net

Pertama masuk suasa sekolah yang rindang, sejuk dan seperti membawa ingatan ke dimensi di mana sekolah dasar adalah saat yang paling bahagia. Tak ada pemilihan ketua senat nu garelut tidak ada organ ekstra nu paciweh teu puguh tidak ada nitip absen nu si Aku banget. Ya tapi itu SD di mana Nokia ek ok masih berjaya dengan game snake dan Sony dengan game Kingkongnya yang legendaris itu.

Percakapan meminta izin pun dimulai ketika bertemu dengan penjaga garda keamanan terdepan berseragam biru dongker (iya atu satpam tau di kitu keun nulisna kan ameh 3000 karakter). Alhasil berhasillah masuk ke kantor dan langsung berhadapan dengan petugas tata usaha beserta wakil kepala sekolah. Di ruangan yang tidak terlalu luas dengan warna putih yang dominan dengan kusen-kusen berwarna hijau kita berdua duduk, oh kita kan berdua. Keberangkatan itu berdua bersama Abil Adam si pencinta Bango FC. Skip we si abil mah teu penting jeng emang asa teu kudu di bahas. Tak tik tuk bunyi suara yang berasal dari sepatu pantofel yang beradu dengan keramik semakin mendekat, semakin mendekat, semakin mendekat dan arggggggh ternyata dia..... atulah da lain night mare.

Kepala sekolah pun datang menyambut dengan sedikit wejangan karena sekarang banyak wartawan bodrek yang meminta imbalan dan apalah apalah itu lah itulah kelakuannya. Dengan hasil akhir disetujui untuk peliputan sekolah. Akhirnya sekolah di kelilingi dan sekarang waktunya mencari narasumber sebagai pastinya sumber dari berita. Mendapat beberapa informasi ,jika ingin mendapat informasi tentang sekolah pergilah ke petugas kantin. Ya tanpa basa basi pergi ke kantin dan ke kekecewaan kembali ada dengan si emang petugas kantin yang tidak ada karna memperpanjang STNK plis naon atulah eta teu penting pisan. Ok iyeu gagal, yowes ganti target. Buruan kedua yaitu kantor lurah dan pegawai kantor nya ya tapi gitu gitu juga, tetap konsisten dengan nihilnya. Salah satu penjaga kantor lurah yang mengatakan bahwa ada dua yang bisa di wawancara, tapi yang pertama berusia 92 tahun dan sudah sulit di ajak berkomunikasi dan yang kedua sudah wafat beberapa bulan yang lalu, di dalam hati ok pak ku aing dek wawancara tapi ...... To be continue.