Photo by : Alex Boyd

Eka Kurniawan dan Renungan Kematian

Saya baru saja menyelesaikan buku kumpulan cerpen Eka Kurniawan yang berjudul Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi terbitan Bentang Pustaka. Seperti buku-buku Mas Eka yang lain yang sudah saya baca diantaranya Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, dan O semuanya selalu memuaskan. Mas Eka selalu membuat saya terkejut di tengah-tengah alur cerita yang deras, juga kerap kali membuat saya bingung di beberapa bagian cerita yang berjalan lambat. Buku ini terdiri dari lima belas buah cerpen yang ditulis antara tahun 2006–2014. Beberapa cerpen tersebut sudah pernah diterbitkan sebelumnya, hanya ada satu cerpen yang belum pernah diterbitkan sama sekali sebelumnya, judulnya Membuat Seekor Gajah Senang. Masing-masing dari ke-lima belas cerpen tadi menimbulkan kesan tersendiri bagi saya, beberapa cerita malah masih belum saya pahami maksudnya, seperti Tiga Kematian Marsilam dan La Cage aux Folles. Kapten Bebek Hijau memukul saya dengan pemahaman mengenai rasa syukur yang kurang atau blessing in disguise yang seringkali tidak dipahami dengan baik karena kelambatan mencerna makna. Tetapi diantara ke-lima belas cerpen tersebut, Pengantar Tidur Panjang menjadi cerpen yang paling membekas dalam diri saya — hingga akhirnya saya menulis artikel ini.

“Kata Ibu, sudah beberapa hari Bapak tak mengeluarkan suara apa pun, selain tidak bergerak. Namun, setengah jam sebelum meninggal, ia mulai mengerang lagi. Napasnya pendek-pendek. Ibu yang pernah menunggui kakek dan nenekku meninggal tahu waktunya hanya beberapa menit lagi. “Tercium dari aromanya,” begitu Ibu bilang. Aku sendiri mencium aroma itu, seperti bau bayi baru dilahirkan. Ibu meletakkan piring berisi serbuk kopi di samping Bapak, aku menyemprotkan pengharum ruangan.”

Saya tertegun sejenak setelah membaca paragraf tersebut, dada saya sesak, kemudian pikiran ini melayang jauh ke belakang, mengingat kematian-kematian yang terjadi di lingkaran keluarga saya. Kematian pertama yang saya saksikan adalah kematian almarhum kakek saya sebelas tahun yang lalu. Saat itu saya masih TK dan ingatan ini samar-samar saya ingat. Saya hanya bisa mengingat kursi roda, bau pesing, dan mobil-mobilan yang saya bawa. Kakek saya adalah purnawirawan polisi yang di usia senjanya terkena stroke sehingga mengharuskannya menggunakan kursi roda. Saya ingat, dulu saya dan sepupu saya yang seumuran senang sekali bermain dengan kakek. Kakek akan menanggapi kami dengan tertawa-tawa kecil, membuat kami semakin senang untuk menggodanya. Pernah kami saking kurang ajarnya, saat bermain mobil-mobilan hotwheels menjadikan bagian-bagian tubuh dari kakek sebagai lintasannya. Mulai dari tangan, bahu, sampai akhirnya ke kepala. Beliau hanya terkekeh-kekeh. Kami pun ikut terkekeh bersamanya, sampai akhirnya bibi saya mengetahui hal tersebut. Kami dijewer dan dimarahi, tapi tidak membuat kami kemudian takut dan tidak lagi bermain dengan kakek.

Beberapa bulan setelahnya, kondisi kakek semakin memburuk. Beliau berulangkali keluar-masuk rumah sakit. Sampai suatu hari, napasnya berhenti, tawanya tidak terdengar lagi. Kakek wafat. Saya dan sepupu yang saat itu masih TK hanya menatap bingung para bibi, paman, dan orangtua kami yang menangis sedih. Lalu kakek dikuburkan, saya hanya ikut mengangkat kedua tangan saat doa-doa dibacakan sampai gundukan tanah merah basah sempurna membenamkan jasad kakek. Setelahnya, saya pulang, kembali bermain bersama para sepupu dan tidak pernah berpikir mengenai apa yang baru saja terjadi. Di usia sedini itu, saya belum memahami kematian.


Kematian berarti juga kepergian. Kematian kedua terjadi begitu tiba-tiba, kejadiannya saat itu saya sedang bermain di rumah teman sekolah dasar selepas pulang sekolah. Saya baru duduk di kelas 3 SD kala itu. Saat sedang asyik-asyiknya bermain, tiba-tiba Mang Akim — salah seorang tetangga saya datang menjemput. Katanya saya disuruh pulang. Saya menurut saja waktu itu, tidak sedikitpun bertanya mengapa saya disuruh pulang. Mang Akim membonceng saya pulang menggunakan motornya. Beberapa meter sebelum tiba di gerbang rumah, saya melihat ada begitu banyak orang di sana — di rumah bibi saya yang letaknya persis di samping rumah saya. Saya segera turun dari motor mencari ibu, lupa mengucapkan terima kasih kepada Mang Akim. Saya menemukan ibu di sudut ruang tamu, di sebelahnya ada budhe saya, juga beberapa orang tetangga yang tidak saya kenal. Saya melihat mereka menangis. Saya mendekati ibu dan bertanya apa yang terjadi? Ibu menjawab sambil terisak bahwa hari itu bibi saya — yang rumahnya persis di samping rumah saya itu telah berpulang. Saya segera mencari sepupu saya di rumahnya, lalu menemukan mereka bersimpuh menangis di samping jenazah bibi saya yang dingin. Hari itu, saya menangis. Saya baru mengerti arti kematian.


Lalu, kematian-kematian yang lain datang. Budhe dan Pakdhe yang memberi saya nama, satu per satu pergi. Kematian memang suratan takdir. Suatu keniscayaan yang tidak pernah bisa disangkal. Dalam suatu kesempatan berbincang dengan salah seorang kakak kelas yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Madinah, saya pernah mendapatkan cerita mengenai temannya yang dengan tangannya sendiri mengurus jenazah orangtuanya. Saya merinding mendengar cerita itu, membayangkan begitu tegarnya teman kakak kelas saya ini. Lalu, di akhir perbincangan tersebut kakak kelas saya ini mengingatkan,

“Sesungguhnya semua yang pernah diberikan oleh orangtua kepada kita tidak akan pernah bisa kita balas. Sebab itulah mengapa orangtua selalu berhak atas pemuliaan dari kita dan salah satu dari bentuk pemuliaan itu, yang bisa jadi hal terakhir secara fisik yang bisa dilakukan oleh seorang anak kepada orangtuanya adalah mengurus jenazahnya. Oleh karena itu, kamu harus siap. Mati itu niscaya.”

Sampai sekarang, saya sering berkaca-kaca apabila pikiran ini melintas. Pernah suatu waktu, bapak meminta saya memijat kakinya. Saya memijatnya yang sedang khusyuk menonton TV dalam posisi tengkurap. Kegiatan itu berlangsung hening, sampai tiba-tiba bayangan itu terlintas di benak saya. Saya tidak kuasa melanjutkan memijat kaki bapak. Saya segera berhenti dan pergi dari sana, melarikan kecemasan dan pertanyaan yang mungkin saja muncul dari mulut bapak jika beliau melihat mata saya basah.


Sampai saat ini, saya rasa saya belum cukup siap. Jika kepergian itu harus tiba lagi. Terlebih terhadap orang-orang terdekat.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.