Photo by : Linda Xu

Kecantikan : Sesuatu Yang Semakin Mudah Ditemukan

“Sesuatu yang hari ini semakin banyak bertebaran di jalanan, instagram, juga banyak tempat lain. Mudah sekali menemukan kecantikan, lebih mudah juga menemukan yang lebih cantik lagi,” -Kurniawan Gunadi

Sebagai seorang laki-laki, saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kurniawan Gunadi, dewasa ini memang tidak sulit untuk menemukan perempuan berparas cantik entah karena tunjangan gaya berpakaian yang modis, make up yang necis, atau karena memang sudah dari cetakannya perempuan itu berwajah ayu. Di lini masa media sosial semua orang — tidak hanya perempuan saja, berlomba-lomba untuk menampilkan sisi paling menarik dari diri mereka, sisi yang terlihat sekali penuh dengan sandiwara dan menutupi berbagai perwatakan mereka yang sesungguhnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dewasa ini media sosial memang sudah menjadi sebuah sarana untuk mendapatkan acknowledgement, sebuah pengakuan dari orang-orang di sekitarnya. Orang yang tidak terlalu memiliki popularitas mencoba mendongkrak popularitasnya lewat media sosial, orang yang sudah populer meningkatkan kualitas kepopulerannya. Orang yang hidup di media sosial secara tidak sadar mencoba mencari dan menghidupkan eksistensi mereka di sana yang tidak atau kurang mereka miliki di kehidupan nyata, media sosial seolah-olah menjadi pelarian dari keadaan mereka di dunia nyata yang diakui keberadaannya tetapi kurang berdaya eksistensinya, dan salah satu diantara banyak cara untuk mencari dan menghidupkan eksistensi di sosial media adalah dengan memamerkan apa yang memang dianggap pantas untuk dipamerkan, kecantikan diantaranya.

Saya tidak memungkiri bahwa laki-laki adalah makhluk visual, makhluk yang suka melihat dan bisa jadi juga menilai seseorang dari kecantikannya. Di zaman yang seperti Kurniawan Gunadi gambarkan pada kutipan di awal tulisan ini, maka menjadi sebuah hal yang patut dikhawatirkan bagi laki-laki yang makhluk visual. Khawatir kalau-kalau hati ini cenderung kepada itu. Khawatir kalau-kalau iman ini luntur hanya karena riasan bedak dan gincu. Semakin mudah menemukan kecantikan, semakin mudah lagi menemukan yang lebih cantik, yang takarannya hanya perwujudan apa yang nampak di luar, dan sangat mudah untuk dinilai. Maka sebab itulah mengapa sekarang saya baru paham lebih mendalam tentang hadits Rasulullah yang berbicara tentang alasan-alasan perempuan dinikahi, mengapa beliau menekankan untuk menikahi yang baik agamanya? Karena menemukan perempuan yang baik agamanya tidak semudah membalik telapak tangan di zaman seperti ini, kalau pun sudah menemukan tidak mudah pula untuk menjatuhkan pesaing lainnya yang sama-sama memperjuangkan perempuan dengan kecantikan hati yang terpancar dari pemahaman agamanya yang baik.

Maka barangkali sebuah anekdot dari Aan Mansyur berikut ini bisa kita renungkan bersama-sama,

‘Suatu sore, dua bulan lalu, seorang perempuan bertanya, “Kamu pake kamera apa sih? Saya suka foto-fotomu di Instagram.” Pria yang ditanya itu menjawab, “Fujifilm X70. Terima kasih.” Seminggu yang lalu, Si Pria diundang makan siang di rumah Sang Perempuan. “Masakan kamu enak. Saya suka,” kata Si Pria. “Terima kasih,” kata Sang Perempuan. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. “Kalau boleh tahu, kamu pake panci merek apa sih?” tanya Si Pria. Sejak hari itu, Sang Perempuan tidak ingin mendengar nama pria itu lagi.’

Kita memang seringkali terlalu buru-buru menilai, terlalu tergesa menyimpulkan bahwa alat yang membuat sesuatu nampak cantik lah yang berharga, tetapi melupakan hakikat sumber kecantikan itu sendiri yang tidak berwujud, tidak berbentuk tetapi dapat dirasakan pancarannya, dapat diresapi kedalamannya sepanjang kita membuka mata hati kita. Sepanjang kita masih mampu menggunakan nurani kita.

Selamat memantaskan diri!