Patah Hati dan Obat Yang Diabaikan

Septian Galuh
Feb 25, 2017 · 2 min read
Photo by : Peter Hershey

“Kebodohan terbesar yang dipelihara seorang laki-laki adalah berjuang untuk merawat jodoh orang lain.”

Kurang lebih begitu perkataan salah seorang guru saya dalam suatu kesempatan halaqah setelah salat maghrib. Dalam beberapa hal saya setuju dengan pernyataan ini, tetapi dalam beberapa sudut pandang yang lain saya sama sekali menolaknya. Bukankah sebagai seorang laki-laki kita tidak pernah tahu kelak dengan siapa kita akan berjodoh dan salah satu ikhtiar yang bisa dilakukan untuk menemukan keterangan dari pertanyaan itu adalah dengan memperjuangkannya disamping cara yang paling sederhana — berdoa. Saya rasa pernyataan guru saya tadi secara implisit menggambarkan kelemahannya sebagai seorang laki-laki, melupakan hakikat perannya dalam sebuah hubungan romansa. Bahwa laki-laki lah yang bertugas mencari, bukan berdiam diri. Perkara nantinya ternyata orang yang kita perjuangkan bukanlah jodoh kita, itu hal lain. Poin utamanya yang perlu untuk selalu diingat adalah bahwa kita tidak pernah tahu dengan siapa kelak berjodoh, maka dari itu kita mesti berjuang untuk mencari tahu. Jika dengan begitu mudahnya seorang laki-laki yang sedang memperjuangkan seorang perempuan dikatakan sebagai sebuah kebodohan, apalagi secara hiperbola disebut kebodohan terbesar, lantas tidak akan pernah ada laki-laki cerdas di dunia ini bukan? Karena prinsip awalnya kembali kepada ketidaktahuan tadi.

Kebodohan yang dimaksud dalam pernyataan guru saya tadi dalam sudut pandang saya bukan terletak pada ikhtiar memperjuangkannya, tetapi pada kalimat, ‘berjuang untuk merawat jodoh orang lain,’ jadi bisa disimpulkan bahwa seorang laki-laki dikatakan bodoh adalah saat dia terus saja mengejar-ngejar seorang perempuan yang secara eksplisit sudah menyatakan penolakan. Saya sendiri bingung dengan konsep perjuangan seperti itu, yang perlu jadi perhatian dari kasus-kasus memperjuangkan jodoh orang lain ini adalah kebanyakan orang terlaru larut dalam kesedihan begitu sadar bahwa dirinya selama ini hanya menghabiskan waktu untuk merawat kekasih orang lain. Artinya, kasus merawat jodoh orang lain tidak hanya berlaku pada laki-laki, bisa juga pada perempuan, hanya saja yang seperti itu jarang. Laki-laki lebih cenderung melakukan kesalahan tersebut. Merasa bersedih setelah gagal dalam sebuah hubungan tidak pernah menjadi masalah, yang jadi masalah adalah saat seseorang terlalu larut dalam kesedihan sampai lupa bahwa dia masih punya sisa kehidupan untuk diteruskan. Saya seringkali heran melihat orang seperti itu. Jika memang dia merasa sakit dan kehilangan, seharusnya dia bisa membuktikan bahwa dirinya tidak semenyedihkan itu. Paling tidak bisa menampakkan sosok yang tegar di luar sekalipun remuk di dalam.

Kasus-kasusnya memang menyedihkan, ada yang sampai rela meregang nyawa cuma buat menampakkan kekecewaan. Kenapa orang seringkali lupa, bahwa sebenarnya patah hati bisa jadi turning point paling mujarab dalam kehidupan. Kalau merasa patah hati karena ditolak atau ditinggalkan seseorang yang kita perjuangkan, buktikan bahwa kita bisa membuat mereka menyesal karena telah membuat kita patah hati. Bukan justru terus berlarut-larut dalam kesedihan.

Bangun!

    Septian Galuh

    Pembicaraan-pembicaraan sepele.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade