VISUALISATION: Chapter 3
Coffee Shop 15.30
Sore hari ditemani secangkir mocha latte dan laptop yang menampilkan laporan-laporan yang harus kubuat dan disini tempat yang paling pas untuk mengerjakannya.
Sudah dua bulan setelah kejadian itu terjadi. Mimpi yang terputar setiap malam saat terlelapun tak pernah muncul lagi. Dari pengalamanku memiliki “kelebihan” ini, aku tak pernah sampai sejauh ini. Apa ini kebetulan? pikirku.
Bukakah aneh? Kami tak pernah bertemu namun saat melihat memorinya rasanya ingin sekali membantunya. Apa bakal ketemu lagi yah sama orang itu? begitu pikirku, dengan sedikit harapan yang ada.
Lima belas menit aku melamun mengingatkanku akan sesuatu….
“Fokus! Fokus! Laporan numpuk gini jangan mikir yang belum tentu bisa dilakuin, duh…” sambil tempeleng diri sendiri. “kerjain, kerjain” sambil fokus aku menyelesaikan tugas-tugasku.
Coffe Shop 17.00
“Selesai juga, akhirnya” saking fokusnya akan tugasku, aku sampai lupa minum kopi yang kupesan hingga kopi itu dingin.
“Ampunlah, ampe dingin begini. Diseruput juga belum 🙁” tanpa pikir panjang aku langsung memanggil pelayan.
“Mas” sambil melambaikan tangan
“Iya mba, ada yang bisa dibantu?” tanya pelayan itu dengan sopan
“emm.. kopi saya dingin. bisa dipanasin lagi ga? tadi saya terlalu serius ngerjain tugas sampe lupa diminum, di sruput aja ga sempet”
Pelayan itu bingung harus bersikap apa. Aku berprediksi sepertinya cuman aku satu-satunya pelanggan yang minta untuk manasin kopi.
“Em.. bentar ya mba” Pelayan itu pergi dan berjalan menuju barista kopi sambil berbisik, lalu kembali menghampiriku lagi.
“Maaf mba, tapi kita gabisa manasin kopinya. nanti rasa asli dari kopinya berkurang. Mungkin lebih baik pesen lagi aja, gimana mba?” kata pelayan itu dengan sopan.
“Tadinya mau gitu mas, tapi kalo pesen lagikan aku bayar lagi dong” kataku. Entah kenapa aku merasa jadi pelanggan yang nyebelin.
“Lagian sayang mas kalo kopinya di buang” lanjutku. Muka pelayan itu sudah mulai geram akan kelakuanku. Mungkin ia kesal. Duh salah ngomong nih gue ck. gumamku dalam hati.
“Maaf mba, gabisa” kata pelayan itu agak ketus.
Hampir 15 menitan kami berargumen tentang kopi yang dipanasin apa engga dan dari kejauhan seorang lelaki melihatku seperti mengamati. Laki-laki itu menggunakan kemeja rapih dan sepertinya buka pelayan, jangan-jangan itu ownernya, pikirku. Entah kenapa tiba-tiba kepalaku pusing.
“Please, jangan pusing disini. mending aku cepat keluar sebelum makin kambuh” kataku dalam hati.
“Yaudah mas gakpapa kalo gabisa, saya bayar aja” Kataku sambil mengambil uang di dompet.
“Nih mas ambil kembaliannya biar cepet” kataku. Pusing ini bikin ekspresi mukaku seperti orang marah. tapi biarlah.
Dengan sigap aku memasukan laptopku kedalam tas. Keringat dinginpun mengucur. Pusingku semakin hebat.
“Makasih mas” kataku pada pelayan.
Laki-laki tinggi yang menggunakan kemeja itu tiba-tiba berjalan semakin dekat menghampiri diriku. Saking takutnya aku tak berani melihat wajahnya dan menunduk saja. Sumpah kenapa makin sakit. harus pergi sekarang juga.
“Maaf mba, ada masalah apa ya mba?” katanya sambil tersenyum. Please, jangan nanya-nanya. Kataku dalam hati.
Tak sanggup mendongak akupun hanya bisa melihat kebawah dan berkata “gakpapa. Saya cuman mau pulang” Dengan terburu-buru aku menggendong tasku tapi rasa pusing yang hebat membuat penglihatanku kabur.
“BRAKKKK!!!!”
Kursi tempatku duduk sebelumnya jatuh. Aku terbaring. Tiba-tiba dingin. Itu rasa terakhir yang kuingat.
Tetiba gelap. Aku tak lihat apa-apa. Tapi suara-suara terus memanggil. memori datang. Kataku.
Two years ago, Coffe Shop 18.00
Entah sudah sadar atau belum. Aku melihat memori lagi. Aku duduk di dalam kafe ini. Aku tak bisa bergerak. Namun pengelihatanku sangat luas. segala sisi bisa kulihat. 360 derajat.
Kafe itu sepi. Hanya ada aku yang ditemani dengan nuansa romantis seperti lilin-lilin yang menyala di sekitarku. “Candle light dinner?” pikirku. Hentakan kakipun terdengar. Seorang laki-laki datang. Laki-laki yang kutemui ditaman itu. “Memori tentang orang yang sama?”
Laki-laki itu duduk. tepat 2 meter dariku. ujung ke ujung. Laki-laki itu tampak tenang. Dengan setelan jas hitam dan kaki yang dibalutkan sepasang sepatu kulit bertali bewarna coklat, yang membuatnya terlihat rapih tanpa menghilangkan kesan casual di dirinya.
“Proposing?” pikirku lagi. Laki-laki itu merogoh sesuatu di kantungnya dan terlihat sebuah tempat cincin yang sepertinya akan diberikan pada orang yang spesial pada malam itu.
Sudah berjam-jam laki-laki itu menunggu seseorang yang akan datang pada malam itu. Raut wajahnya berubah menjadi khawatir. Dirogohlah ponsel dari sakunya.
Jangan. Kataku. Percuma. Apa yang kukatakan tak akan terdengar olehnya. Entah firasatku buruk.
Baru laki-laki itu mau menelpon, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia pun mengangkat telpon itu. Seketika raut khawatirnya berubah menjadi sedih. campur kesal.
Tiba-tiba dadaku sesak. Entah memori ini menyakitkan. Rasanya ingin teriak. Laki-laki itupun pergi dari tempatnya. Berjalan tergopoh-gopoh menuju mobil dan pergi menuju suatu tempat. Seketika pengelihatanku gelap.
“Sudah, itu saja? Apa ini? Apa yang kudapat? Kesedihan?” Kataku bertanya-tanya di kegelapan sesenggukan.
“Arkan?” tiba-tiba suara perempuan memanggil-manggil.
“Arkan? he’s Arkan?” Kataku.
Hospital 19.00
“dek, dek… bangun” seorang perempuan memanggilku.
Seketika kesadaranku pulih. Mataku membuka. “Kak sarah…” Kataku sambil sesenggukan.
“Syukurlah dek kamu bangun” kata kakakku dengan tersenyum.
“Kak..” tanpa basa basi aku langsung memeluk kakakku. Titik-titik air matapun berjatuhan.
“Dek, kamu kenapa?” Kata kakaku bingung
“Gakpapa kak” Kataku
Arkan. Kini kutahu namanya. kejadian itu merupakan kejadian dimana wanita itu pergi? begitu pikirku. Dia kenapa? Kecelakaan? Sakit? kenapa? Pertanyaan baru terus mengusik malam itu. Tanpa sadar, aku tak tahu siapa yang mengantarku ke Rumah sakit.