VISUALISATION: Chapter 5

Hospital 07.00

Tirai jendela terbuka. Sinar Mentari menyambut pagi hari. Diriku yang terbaring lemas hanya bisa merasakan kehangatan pada pagi hari ini. Mataku mengernyit, lalu membuka mata.

Rasa sedih dari memori yang kuterima semalam, masih terbayang. Seperti beban yang bertubi-tubi datang semua menghampiriku. Rasa dingin, gemetaran, campur kesal karena hanya bisa melihat tanpa bisa membantu.

“Dek, udah bangun?” Seorang wanita menyambut pagiku.

“Ibu… ibu kok disini?” Kataku sambil memperhatikan wanita paruh baya duduk di kursi roda sambil merajut sesuatu.

“Dek, ibu kan juga dirawat disini, tadi kak Sarah berangkat pagi-pagi sekali karena disuruh pulang cepat sama suaminya, jadi ibu yang jagain kamu. Gimana dek, udah mendingan? Masih pusing?” Tanya ibuku dengan halus penuh kasih sayang.

“Baik bu” Balasku. Sambil tersenyum. Aku bohong. Sebenernya nyut-nyutan dikepalaku masih terasa. Namun aku mengira ini pasti bukan karena kondisi fisikku. Namun mentalku.

Pintu rawatku terbuka. Seorang perawat masuk dan datang menghampiri ibuku. “Bu, maaf udah waktunya ibu kembali ke ruangan ibu” kata suster itu dengan sopan.

“Wah, harus sekarang kah? Tunggu kakaknya datang dulu sus kasian nanti anak saya sendirian”. Sahut ibuku sedikit memohon.

“Sendirian?” Pikirku. Ibuku bahkan kepikiran untuk menungguku agar tak sendirian. Setelah dipikir-pikir saat aku menjenguk ibuku, aku tak pernah kepikiran bahwa ibuku pasti sering merasa kesepian saat tidak ada yang menemaninya.

“Gakpapa bu, Ibu ke kamar rawat ibu saja. Ibu belum sarapan kan? Kata dokter aku udah boleh pulang kok. Nanti aku mampir ke tempat ibu ya” Kataku sambil menenangkan ibuku.

Sambil membujuk ibu, pintu rawat terbuka kembali kini kakakku yang datang. “Pagi dek, bu. Udah waktunya sarapan kan bu? Tadi aku yang minta suster untuk jemput ibu. Ibu juga harus istirahat” Kata kak Sarah.

“Baiklah, kalo anak-anak ibu yang bilang begitu” Sahut ibuku lembut, lalu suster mengantarkannya ke ruang rawat.

“Dek, nih kakak beliin lontong sayur, pasti kamu gamau makan makanan rumah sakit kan?” Sambar kakakku langsung sambil menyiapkan sepiring lontong sayur.

“Kak Sarah, Makasih. Tau aja” Jawabku sambil mengambil lontong sayur yang sudah disiapkan kakakku. “Sayang ibu udah susah makanan yang begini” Sambarku lagi.

“Udah dek dimakan, jangan diliatin aja. Nanti dingin. Gak mau kan lontong sayurnya bernasib kayak kopi yang kamu pesen di kafe kemaren?” Ucap kakakku meledek.

“Kopi? Lah kok kakak tau?” Kataku panik. “Tau dari mana?”

“Kemarin yang nganter kamu kesini yang cerita. Konyol banget sih dek, kebiasaan”. Jawab kakakku masih meledek.

“Kak Sarah!” Ujarku sambil malu campur kesal. Lalu aku teringat malam itu. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya siapa yang mengantarku ke rumah sakit.

“Kak, sebenernya siapa yang nganterin aku ke rumah sakit kemarin?” Tanyaku sambil melahap sesendok lontong sayur.

“Pemilik kafenya yang nganterin kamu kesini. Kebetulan banget dia temen SMP kakak. Jadi dia cerita-cerita waktu kamu belum sadar semalam”.

Sesendok lontong sayur yang kukunyah hampir keluar setelah mendengarkan cerita kakakku. “Pemilik kafe? temen SMP? Namanya siapa kak?” Kataku. Agak panik. Tapi aku mencoba bertanya se-natural mungkin. Berharap nama yang sekarang terngiang dikepalaku adalah namanya.

“Arkan. Emang kenapa dek?”

“A-A rkan? Ternyata dugaanku benar”. Pikirku. Satu persatu kebingunganku mulai berkurang. “Mungkin aku bisa membantunya”. Pikirku lagi.

“Oh, Arkan. Dia seumuran sama kakak?” Kataku. Kemudian aku sadar sepertinya pertanyaanku mulai gak natural.

“Em… sebenernya dia adik kelasku tapi dia ngambil akselerasi gitu jadi lulusnya bareng, terus bisa deket karena satu organisasi” Kata kakakku spontan. Kakakku emang gampang kalo ditanya tentang masa lalunya. Pasti diceritain semua. Tapi pasti nanti dia bakal curiga. “Eh dek, kok nanya-nanya umur segala?” Kata kakakku. “Tuh kan bener, langsung nanya balik”. Gumamku

“Na-nanya aja sih kak” Jawabku . “kenapa gugup gini”. Pikirku. “Emm… aku mau berterimakasih sama temen kakak itu soalnya udah nganter aku. Aku gaenak kemaren hampir marahin pelayannya juga” Kataku dan berharap kakakku tidak menyadari apa maksud terselubung dari pernyataanku.

“Kemarin udah kakak yang bilang makasih. Jadi gausah juga gapapa”.

“Gak bisa gitu kak! Eh — “ Tiba-tiba suaraku agak meninggi. “Sumpah aku cuman pengen ketemu dengannya saja. Kenapa keliatan banget gini sih. Bodoh”. Pikirku sambil salah tingkah sendiri. “Ya — ya kayaknya kan kurang gitu — kalo bilangnya ga langsung dari aku” Sambarku langsung.

“Hmm… iya deh. ke kafenya aja kalo mau ketemu. Perlu nomornya juga?” Kata kakakku. Entah kenapa kalo masalah baca pikiran kakaku lebih pintar dariku. Padahal kakaku normal dan tak punya keanehan sepertiku.

“Udah gausah malu. Kakak ngerti kok” Lanjutnya sambil mengambil ponselku dan menuliskan nomor Arkan di kontakku. “Udah nih dek. Kakak tinggal yah. Aku mau ke ibu dulu. Lihat keadaan”. Dan kak Sarahpun langsung meninggalkan kamar rawatku.

Sekitar jam 9 pagi setelah aku menjenguk ibuku dan kakakku menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, akhirnya aku diizinkan pulang oleh dokter. Kemudian pemikiran untuk bertemu orang yang mengantarku kemarin mulai terbayang-bayang. Entah kenapa rasanya gugup sendiri saat memikirkannya.

***********

House 20.00

Setelah aku pulang dari rumah sakit hari ini, aku terus memikirkan kejadian yang terjadi sejak kemarin. Memori-memori tentang masa lalu Arkan. Ini sudah kedua kalinya, dan sebelumnya aku tak pernah mendapatkan memori orang yang sama sampai dua kali. Selain itu, memori yang datang tidak memberikan informasi yang konkrit. Aku tak tau harus melakukan apa.

Sampai berjam-jam aku memikirkan kejadian ini. Otakku mulai berputar. Aku mempertimbangkan banyak hal. Apa yang harus kulakukan, apa keuntungannya untukku, hingga akhirnya aku menghasilkan dua poin penting:

“Aku sudah punya nomornya. Tunggu apa lagi?” Gumamku. Malam itu kuakhiri dengan menelpon Arkan dan membujuknya untuk bertemu denganku.

**********

The next day, Coffe Shop 15.00

Kemarin, saat aku menelponnya, aku benar-benar bingung alasan apa yang harus kukatakan untuk bertemu dengannya. Tapi untungnya aku bisa bertemu dengannya, di cafe ini tentunya.

Sudah 15 menit aku menunggu dan orang yang janji denganku sebelumnya belum terlihat. Aku sabar menunggu hingga akhirnya seorang barista datang dengan memberikan secangir kopi untukku.

“Hot Mocca Lattenya mba..” Ujar barista sambil menyajikan kopi padaku.

“Eh, maaf. Saya kan belum pesan” Kataku bingung.

“Memang belum mba, tapi tadi disuruh oleh atasan saya langsung untuk menyajikan ini pada mba, tunggu sebentar aja ya mba, Arkan nanti juga kesini”. Ucapnya sopan.

Tak lama kemudian orang yang kutungggu datang.

“Hai, adeknya Sarah” Manusia berbadan tinggi bersuara rendah datang menyapaku. “Sorry lama”.

“It’s Okay. Halo juga… em.. Ka? Mas? Bang? Arkan” Sapaku bingung harus kupanggil seperti apa.

“Arkan aja” Jawabnya langsung.

“Oke, ka.. eh, ehm Arkan” Kataku malu-malu.

“Santai aja gausah malu-malu gitu. Senioritas gue ga tinggi kok kayak kakak lo” Ucapnya sambil senyum mencairkan suasana.

“Hahahahaa… gile baru juga nyampe udah gosipin kakakku aja” Kataku sambil meledek. Tak menyangka laki-laki berbadan tinggi ini suka menggosip. Setidaknya begitu penilaianku.

“Gakpapa lah biar lo ga gugup.” Katanya singkat. “Tuh diminum kopinya, entar kalo dingin gaada penggantinya lo”

“I-ini juga mau diminum, lagian sebenernya akuu belum pesen, tapi ada yang ngasih aku kesini”.

“Itu gue yang nyuruh. Anggap ini tanda maaf saya karena kamu ga sempet minum kopi pesanan kamu” Katanya dengan nada lembut.

“Iya kuminum kok, tapi nanti ya tunggu agak hangat, nanti kalo masih panas gini bibir gue doer” Celetukku.

“Oke, gue liatin ya sampe lo minum, biar ga lupa kyk yang kemaren-kemaren” Ujarnya lagi.

“Bahas aja terus insiden kemaren”. Lanjut celetukku

Raut wajahnya berubah. Ia tertawa, mencairkan suasana. Baru pertama kali aku bertemu seseorang dan langsung bisa tertawa dan cerita banyak hal. Benar kata Kak Sarah, Arkan memang orang yang santai dan mudah sekali diajak ngobrol. Baru lima menit aku duduk sebelahan dengannya, Arkan langsung bercerita dan bertanya macam-macam tentangku. Keseharianku. Tentang kakaku yang dulunya tomboy sekarang bisa jadi designer baju yang lumayan terkenal, menanyakan hobi, menceritakan kenapa membuat kafe ini, dan tak lupa juga menanyakan, mengapa kemarin aku terlalu serius mengerjakan tugas sampai-sampai kopiku dingin. Entah insiden kopi dingin justru lebih menarik dibandingkan tragedi pingsan mendadak.

Tapi serius deh gue heran, kenapa ga sempet diminum gitu. Lo ga capek apa di layar laptop terus sambil ngetik berjam-jam? Gue mah mana tahan”.

“Ya aku juga gak tau kenapa. Kalo udah serius gabisa diganggu. Kalo dipanggil juga boro-boro nengok”

“Hahahhahah gila. Baru pertama kali nemu cewek yang sebegininya bisa serius sampe kopi aja ga sempet diminum”

“Udah, udah. Seneng banget ngeledeknya”

“Sorry-sorry. Abis lucu banget” Katanya sambil ketawa cekikikan.

“Udah-udah capek aku bahas ini terus. Niatnya mau minta maaf karena udah ngerepotin kamu tapi malah diledek terus” Kataku serius.

“It’s Okay, kemarin juga harusnya gue lebih liat keadaan, kalo lo lagi anemia waktu itu” Katanya lugas. Ingin rasanya aku bilang tragedi pingsan kemarin bukan karena anemia, tapi aku tak bisa membahasnya sekarang.

Aku lega bahwa dia sudah tidak mempermasalahkan kejadian kemarin. Tapi aku juga tak ingin pertemuanku dengannya hanya sampai disini. Sudah berjam-jam pula aku berbicara dengannya dan tak ada satupun informasi atau clue yang bisa kudapatkan tentang masa lalunya.

“Kan, aku gaenak udah semalem nelpon mendadak minta ketemuan, nyampe sini dikasih kopi gratis pula”. Ujarku dengan nada bersalah.

Entah mungkin Arkan bisa melihat raut mukaku yang merasa bersalah ini, Ia pun terlihat seperti memikirkan sesuatu. Lalu melihat sekeliling dan setelah itu…

“Hmm, gimana kalo lo bantuin gue?” Tiba-tiba Ia bertanya padaku.

“Bantuin? Bantuin apa?” Jawabku bingung.

“Sebenernya gue mau cari referensi kue untuk kafe ini, karena banyak pelanggan yang bilang makanan-makanan pendukung buat kopi disini kurang. Dan sepertinya lo bisa bantu gue, sebagai penikmat kopi tentunya. Gimana? Mau?”

“Mau sih. Tapi aku harus apa?”

“Cari makanan lah. Jangan dibawa serius, anggap aja wisata kuliner” Ujarnya santai.

“Wisata kuliner? Jadi jalan-jalan sambil nyoba-nyoba makanan?” Tanyaku. Entah kenapa aku jadi bodoh begini. Saking bingungnya diriku karena tak menyangka Arkan akan memintaku untuk menolongnya.

“Iya… kurang lebih gitu. Anggap aja jalan-jalan sama gue. Kapan lagi kan?” Ujarnya percaya diri.

“Pede banget nih kayaknya, but well baiklah. Aku mau bantu kamu” Jawabku.

Aku tak menyangka tiba-tiba dia meminta bantuanku. Entah dia bisa baca pikiranku atau apa, tapi sungguh ini sangat membantu. Kuharap pada pertemuan kami selanjutnya, aku mendapatkan informasi untuk membantunya.

“Udah lo gausah malu-malu gitu, dengan begini seenggaknya gaada yang harus lo ‘gakenakin’ kan?” Tanyanya meledek.

“Ini nanya atau ngeledek sih? hahahha iya iya. Makasih ya udah ngerti” Jawabku.

Waktu sudah menunjukan 17.30 WIB dan kami tak sadar bahwa waktu sangat cepat berputar.

“Eh, udah jam segini. Lo ga pulang?” Tanya Arkan.

“Oiya, ga berasa lah kukira masih jam berapa. Yaudah aku pulang ya”. Jawabku. Akupun langsung mengambil kunci mobil di dalam tasku dan bersiap-siap menuju pintu keluar

“Eh eh eh. Tunggu bentar” Kata Arkan.

“Kenapa lagi?”

“Sorry, lo sadar ga dari tadi kita ngobrol, lo belum memperkenalkan diri?”

“Eh belom yah? hahahhaha sumpah ga sadar” Kataku geli sendiri.

“Lo ga sadar apa betah gue sapa ‘adeknya Sarah’ terus?” Katanya meledek.

“Wkwkwkwkwk iya iya sorry” Kataku. Aku langsung mengambil tissue yang disiapkan di meja dan menuliskan nama panjangku di tissue itu. “Nih dibaca, besok jangan panggil Adeknya Sarah lagi yaa hahaha. Cabut dulu gue. Kabarin aja rencana perginya gimana. See you!”. Sambarku langsung keluar kafe dan langsung masuk mobil. Siap untuk pulang.

Sore itu Arkan melihat kepulanganku dengan menggenggam selembar tissue yang bertuliskan nama lengkapku. Itu adalah sosok terakhirnya yang terlihat pada hari itu.