Resensi Novel “Bilangan Fu”

Photo by Monika Pejkovska on Unsplash

Yuda, pemanjat tebing yang berasal dari kota, menganggap orang desa tak cakap menggunakan akal pikiran. Takhayul, mistis, dan aliran kepercayaan yang berkembang di perdesaan dipandang sebagai cela bagi peradaban.

Pada suatu ketika, mungkin kita pernah menjadi seorang Yuda. Merasa telah memiliki kebenaran. Seakan tiada kemuliaan lain di luar pemikiran kita. Mentalitas demikian mengingatkan saya pada syair Jalaludin Rumi:

“Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan. Jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, lalu berpikir telah memiliki seluruh kebenaran.”

Rasa memiliki kebenaran itulah yang dielaborasi Ayu Utami dalam novelnya yang berjudul “Bilangan Fu”.

Kerangka ceritanya demikian: Yuda tertarik kepada Parang Jati, pemuda cerdas asal desa yang sedang menempuh pendidikan akhir di jurusan Geologi. Kebiasaan bertaruh Yuda dan minat Parang Jati pada pelestarian tebing, membawa mereka pada pelbagai pengalaman fisik dan batin yang rumit. Dari mulai penyingkapan rahasia dibalik mistisisme Kejawen, hingga pada usaha-usaha penyelamatan alam di wilayah Jawa bagian selatan.

Novel Ayu Utami yang terbit pada tahun 2008 ini mengelaborasi kritik terhadap modernisme, monotheisme, dan militerisme melalui metafora yang mudah dimengerti pembaca pemula. Setiap tokoh dalam cerita mewakili satu pandangan. Dengan demikian, pertentangan antar tokoh sesungguhnya merupakan pertentangan antar gagasan besar.

Narasi mengalir secara dialogis. Kecenderungan Yuda yang rasional dan pragmatis diuji oleh pemikiran Parang Jati yang lebih terbuka dan humanis. Melalui ikatannya dengan para elit dan tetua desa, Parang Jati mengajak Yuda untuk melihat sisi lain kebijaksanaan tradisional.

Dalam dinamika “kemahabenaran”, Ayu Utami menampilkan Yuda sebagai sosok yang bersedia dijangkiti rasa ragu. Hitam-putih pikirannya berhasil melebur dalam ruang terang. Pencapaian demikian disebut Ayu Utami sebagai kerelaan untuk menerima bahwa “kebenaran selalu bisa tertunda, karena bukti-bukti selalu bisa diperbarui”.

Kemahabenaran yang enggan dijangkiti ragu telah membawa manusia pada perpecahan. Banyak manusia menafikan ribuan jalan lain demi memilih celah sempit. Dalam Bilangan Fu, perpecahan itu ditampilkan dalam karakter Kupu, Pontiman Sutalip, dan perusahaan tambang.

Kupu merupakan seorang fanatis agama. Sementara Pontiman Sutalip dan perusahaan tambang bekerjasama mengeruk sumberdaya alam desa. Ketiga karakter tersebut memiliki kebenaran versi masing-masing, dan berusaha menjadikannya hukum yang tegak dimana-mana.

Kebenaran diposisikan sebagai subjek statis. Ia dibela lewat segala cara: darah boleh dikucurkan, alam boleh diperkosa, persaudaraan boleh dirusak. Agama maupun mistisisme dimanipulasi untuk membenarkan perilaku semena-mena.

Ironisnya, alam perdesaan justru dapat lestari oleh satu-dua takhayul yang dijaga rapi. Dalam waktu yang sama: masyarakat retak oleh keangkuhan beragama, dan alam cedera oleh pembangunan progresif yang dilahirkan rahim modernitas.

Setelah pandangan Yuda terhadap orang desa berubah, kita tahu bahwa yang menjadi cela peradaban bukanlah ke-desa-an dengan segala takhayul, mistis, dan aliran kepercayaan tradisionalnya. Yang menjadi masalah adalah sikap maha benar.

Bagaimanapun, manusia butuh meyakini kebenaran. Butuh pegangan untuk menentukan sikap-sikap selama mengisi hidup. Hasil-hasil baik maupun buruk tergantung pada cara pandang.

Matinya kebenaran bukanlah pudarnya kepercayaan manusia pada hal-hal yang dianggap benar. Kebenaran dapat dianggap mati ketika manusia merasa telah memahami segala-galanya.

Dalam Bilangan Fu, Ayu Utami mengekspos relativitas kebenaran tanpa terjebak dalam kemelut wacana pasca-kebenaran (post-truth). Ia menyajikan kepada pembaca suatu pemandangan yang dapat menggoncang pikiran. Akan tetapi, Ayu Utami tidak mengarahkan kita untuk mengenakan atribut identitas baru. Ia hanya mengingatkan kita untuk menakar ulang sikap.

Bilangan Fu menyuarakan kredo yang jernih: biarlah kebaikan yang menjelma pada hari ini. Bukan kebenaran. Mengertikah engkau? Kukira tidak. Tapi biarlah. Butuh waktu bagimu untuk mengerti.