Ketika Gerakan “Anti Toleransi” Menjamur di Media Sosial

Di zaman yang serba canggih seperti ini, manusia memang terus dimanjakan dengan berbagai kemudahan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Salah satu bentuk kemudahan yang paling sering ditemui adalah hadirnya internet sebagai sarana untuk berkomunikasi. Perkembangan internet tersebut memunculkan pola interaksi yang dapat dilakukan tanpa harus berada pada ruang dan waktu yang bersamaan. Anthony Giddens menjelaskan: dengan adanya modernitas, hubungan ruang dan waktu terputus yang kemudian ruang perlahan-lahan terpisah dari tempat [Ritzer, George dan J. Gooman, Douglas. Teori Sosiologi dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana. 2008. 617]. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kini manusia menciptakan sebuah cara interaksi baru tanpa harus bertemu secara fisik, yang salah satunya dilakukan melalui internet khususnya media sosial.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content. Dalam bahasa yang lebih sederhana, media sosial memudahkan setiap orang untuk membuat situs pribadi di internet agar dapat terhubung dengan para pengguna lain untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Media sosial hadir dalam berbagai macam bentuk seperti majalah, forum internet, weblog, blog sosial, microblogging, wiki, podcast, foto atau gambar, video, peringkat, dan bookmark sosial. Sedangkan nama-nama media sosial yang sering digunakan meliputi Facebook, Twitter, Path, Instagram, Youtube, Snapchat, Kaskus, Line, Whatsapp, Blackberry Messenger, dan lain sebagainya. Perkembangannya sendiri bisa dibilang sangatlah pesat, hal ini dibuktikan dengan ilustrasi banyaknya pengguna yang dimiliki oleh masing-masing media sosial seperti dikutip dari laman We Are Social berikut ini:

https://d26bwjyd9l0e3m.cloudfront.net/wp-content/uploads/2015/08/Statistik-pengguna-internet-terbaru-2015-6.jpg

Seperti berbagai jenis inovasi pada umumnya, penciptaan media sosial juga diharapkan dapat memberi kontribusi positif terhadap terpenuhinya kebutuhan manusia. Misal kebutuhan akan penyebaran informasi, kebutuhan akan terjalinnya komunikasi, maupun kebutuhan akan sarana promosi bisnis. Namun, rupanya media sosial juga dapat berperan sebagai dua bilah mata pedang yang tajam. Yang apabila tidak digunakan secara hati-hati, dampak buruknya dapat berbalik kepada diri sendiri. Alih-alih “memanfaatkan”, kini ada banyak orang yang justru “dimanfaatkan” oleh media sosial. Seseorang yang menggunakan media sosial secara berlebihan, akan menciptakan tempatnya sendiri di dunia maya sehingga cenderung mengurangi porsinya untuk berinteraksi secara langsung di dunia nyata. Belum lagi dampak yang ditimbulkan pada aspek kesehatan maupun munculnya berbagai macam tindak kejahatan, bahkan sampai kepada yang kerap muncul sebagai isu nasional yaitu terkikisnya toleransi antar umat beragama dan terlecehkannya keragaman budaya.

Maraknya Postingan Media Sosial yang Berisi Penistaan Terhadap Suatu Agama

Toleransi berasal dari bahasa Latin-tolerare-yang artinya menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Secara lebih jelasnya, toleransi dapat diartikan sebagai suatu sikap saling menghargai antar individu, kelompok, maupun lingkup masyarakat lainnya dalam artian melarang adanya diskriminasi atau tindakan membeda-bedakan. Tindakan toleransi yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah toleransi antar umat beragama. Sungguh miris ketika pada tahun 2015 lalu seorang pengguna media sosial facebook bernama Nando Irwansyah M’ali melakukan sebuah tindakan penistaan terhadap agama Hindu di Bali. Dalam postingan status tersebut, Nando mengecam adanya Hari Raya Nyepi yang menyebabkannya tidak dapat melihat pertandingan sepak bola tim kesayangannya. Akibat tindakan cerobohnya ini, Nando dilaporkan oleh masyarakat yang tergabung dalam Pusat Koordinasi Hindu Indonesia ke Polda Bali.

http://sosialberita.net/wp-content/uploads/2015/03/nandi-ujat-hari-nyepi.jpg

Pelecehan Terhadap Budaya juga Menjadi Salah Satu Ironi di Dunia Maya

“Kalau biasanya ada istilah Mulutmu Harimaumu, mungkin sekarang muncul istilah baru Jempolmu Harimaumu”. Begitulah celotehan Akbar, seorang stand-up comedian sekaligus co-host dalam acara Cerita Hati Ramadhan yang tayang di Kompas TV pada Jumat, 24 Juni 2016 lalu. Mengangkat tema Medsos : Manfaat atau Mudharat, acara tersebut menghadirkan Ibu Lia selaku istri Bapak Ridwan Kamil sebagai narasumber. Ibu Lia menyampaikan bahwa media sosial sangat membantu pasangan orang nomor satu di Bandung tersebut untuk lebih dekat dengan para warga kotanya. Berbicara mengenai kota, beberapa waktu lalu masyarakat sempat dihebohkan dengan adanya status Path yang isinya sangat memojokkan orang Yogyakarta. “Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal Jogja” [@florenceje-Kamis, 28 Agustus 2014]. Celotehan tersebut ditulis oleh seorang mahasiswa pascasarjana UGM asal Bandung yang sakit hati karena ditegur oleh petugas SPBU ketika dia tidak mau antre pada tempat yang telah disediakan untuk para pengguna sepeda motor. Nasi sudah menjadi bubur, meskipun beberapa saat kemudian Florence telah meminta maaf melalui akun Twitter-nya, dia tetap dilaporkan ke Polda dan harus menjalani proses hukum seperti seharusnya.

Kaburnya Batas Antara Benar dan Salah Akibat Menjamurnya Trend Hoax

“… Jangan hapus pesan ini sebelum Anda menyebarkannya ke 20 orang…” Hampir setiap orang yang menggunakan telepon genggam pasti pernah mendapatkan sms dalam format tersebut. Itu adalah hoax. Menurut Wikipedia, hoax adalah sebuah pemberitaan palsu yaitu usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal si pembuat berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Media sosial merupakan sarana yang sangat efektif bagi para penyebar hoax. Tidak hanya berupa tulisan, hoax di media sosial juga sering menyertakan video atau gambar yang bisa dianggap sebagai bukti tambahan untuk memperkuat ‘fakta’ dari sang penyebar. Di bawah ini merupakan gambar dari salah satu artikel hoax yang pernah beredar di dunia maya beberapa waktu lalu. Artikel tersebut menyebutkan bahwa istri kaisar Austria berhijab. Bagi muslim yang kurang awas, sangat mudah bagi mereka untuk terjebak dalam confirmation bias. Artinya tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu, para pengguna media sosial sudah merasa bangga dan langsung menyebarluaskan kembali berita tersebut. Padahal ketika ditelisik lebih dalam, pakaian yang mirip niqab tersebut sebenarnya adalah Funeral Protocol Dress Code atau pakaian yang memang sering digunakan pada acara pemakaman budaya Eropa.

https://albadrln.files.wordpress.com/2015/07/89778165-e1445609254139.jpg?w=840

Penggunaan media sosial yang tidak sesuai jalur merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam hilangnya rasa toleransi antar umat beragama dan terlecehkannya suatu budaya. Bukan merupakan suatu hal yang baru ketika muncul banyak imbauan agar tidak terlalu melekat pada media sosial, senantiasa berpikir ulang terhadap hal-hal yang akan dibagikan, serta selalu mengecek terlebih dahulu informasi yang diterima sebab bisa jadi belum tentu benar adanya. Setiap orang boleh mengekspresikan diri secara bebas, namun jangan sampai menjadi bablas.

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Diyah Setiawati’s story.