Kau Menolak Berdamai dengan Rasa Cemburu, Itu Sebabnya Aku Memilih untuk Meninggalkanmu

Sungguh mengejutkan ketika sore itu kau memintaku untuk menjadi kekasihmu. Aku ingat, waktu itu kau sedang asyik berbincang dengan teman-temanmu di dekat area parkir meskipun sudah lama terdengar bunyi bel tanda jam pelajaran telah berakhir. Sebagai anak SMA yang masih tergolong murid baru, aku menurut saja ketika dipanggil mendekat olehmu dan teman-temanmu. Lalu tanpa banyak bicara dan berpikir, kau berlutut sembari mengutarakan seluruh perasaan cintamu padaku yang senantiasa berdiri terpaku sejak kalimat awal hingga akhir. Saat itu aku beranggapan betapa beruntungnya diriku ditembak oleh seorang kakak senior yang sangat digilai oleh seluruh perempuan di sekolah itu. Sehingga tanpa dihinggapi sedikitpun rasa ragu, aku langsung mengiyakan permintaanmu.

Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri ketika pada jam istirahat kau selalu mengajakku untuk turut bergabung di meja kantin khusus bagi para anggota tim basketmu. Juga terasa sangat menyenangkan apabila di tempat parkir anak-anak lain secara otomatis mempersilakanmu yang sedang berboncengan denganku untuk lewat terlebih dahulu. Belum lagi saat melihat pandangan iri dari para perempuan lain yang kebetulan melihatku sedang berjalan bergandengan tangan denganmu. Namun belum sampai satu bulan, kemesraan itu tiba-tiba lenyap seperti hantu. Segalanya berubah ketika lama-kelamaan semua rasa manis tergantikan dengan munculnya sifat aslimu.

Kau adalah pusat dunia, tidak boleh ada orang lain di antara kita

Setiap ada kesempatan untuk bertatap muka, bukan kabarku yang pertama kali kau tanya. Namun kau selalu memaksa untuk tahu di mana ponselku berada. Seakan menjadi sebuah kewajiban bagimu untuk mengecek dengan siapa saja aku bertukar pesan dan panggilan suara. Kau akan marah besar apabila aku mencoba menghapus beberapa di antaranya. Belum lagi ketika kau menemukan nomor asing atau adanya laki-laki lain yang sempat menghubungiku. Acara pertemuan kita pun hanya akan diwarnai dengan meledaknya amarahmu dan aku yang mencoba menjelaskan semuanya sembari tersedu-sedu. Kau memang tidak pernah pandang bulu. Selalu cemburu pada siapa pun termasuk teman kelompok belajar bahkan saudara sepupuku. Dan selalu pada akhirnya kau akan berkata bahwa usahamu ini adalah salah satu cara untuk melindungiku.

http://static.imujer.com/sites/default/files/imujer/Lo-que-hay-que-saber-sobre-el-maltrato-en-noviazgos-adolescentes-1.jpg

Kau berhak memutuskan segalanya, aku hanya perlu bilang YA

Kau mulai bertindak tidak biasa. Bukankah pada awalnya kau berjanji untuk menerimaku apa adanya? Tapi kini seakan hanya kau yang berhak mempunyai kehendak atas segalanya. Kau mengatur pakaian yang harus aku kenakan ketika kita akan pergi jalan berdua. Di tempat makan, kau memilihkan menu sehat agar nantinya tidak membuat badanku melar kemana-mana. Kau juga sering menegurku ketika di depan teman-temanmu aku terlalu banyak ikut bicara atau bercanda. Belum lagi tindakan-tindakan lain yang terkesan memaksa. Kau tidak pernah mau tahu betapa banyak pekerjaan rumahku yang tertunda ketika kau menyuruhku untuk menemanimu menonton pertandingan bola atau berbelanja kemeja. Dan seperti biasa, ketika sekali waktu aku berkata bahwa aku tidak bisa, kau menganggapku terlalu egois karena lebih memprioritaskan hal-hal lainnya.

http://www.womensweb.in/wp-content/uploads/2016/03/angry-boyfriend.jpg

Kau yang gagal dalam berencana, aku yang harus menanggung akibatnya

Aku harus terbiasa ketika kau melampiaskan segala kekesalan yang kau alami kepadaku. Entah itu karena kau dihukum oleh guru, orang tua mengurangi jatah uang saku, atau saat kau terlibat perselisihan dengan teman sebangku; pada akhirnya selalu aku yang menanggung seluruh umpatan dan caci makimu. Tidak jarang kemarahanmu disertai dengan terlontarnya kata-kata kasar dan adegan melempar atau merusak segala sesuatu. Kesalahan-kesalahan kecil yang pernah aku buat di masa lalu pun tidak luput dari perhatianmu. Seakan kau sengaja mengungkit masa lalu agar aku turut berempati terhadap penderitaanmu. Anehnya, aku sebagai korban tidak pernah mendapat penyelesaian yang jelas darimu. Setelah puas meledakkan amarah, kau meminta maaf padaku. Keesokan harinya juga seperti itu. Ya, setelah puas meledakkan amarah, kau meminta maaf padaku. Selalu.

http://www.themodernman.com/wp-content/uploads/possessive-boyfriend.jpg

Kau membuatku merasa berdosa, meskipun tidak begitu seharusnya

Pernah sekali waktu aku memergokimu berjalan mesra di pusat perbelanjaan bersama dengan seorang perempuan. Ketika aku bermaksud mempertanyakan, kau malah sibuk membolak-balikkan kenyataan. Tanpa merasa berdosa, rupanya hal itu sengaja kau lakukan untuk memberiku pelajaran agar tahu bagaimana rasanya cemburu terhadap pasangan. Setelahnya kau menuduhku kurang member perhatian. Terlalu sibuk dan jarang ada ketika kau membutuhkan bantuan. Dekat dengan seorang teman laki-laki pada jam pelajaran keterampilan yang padahal sudah pernah kuutarakan bahwa dia hanyalah partner kelompok saat ada tugas kerajinan tangan. Sungguh kau sangat pandai beralasan sehingga selalu aku yang patut dipersalahkan.

http://content14.popxo.com/wp-content/uploads/2016/05/FB-boyfriend-blackmailed-me.jpg

Jujur saja, aku semakin tersiksa dengan anehnya hubungan kita berdua. Batinku dipenuhi oleh rasa takut ketika tidak sengaja berbuat salah atau membuatmu marah. Rasa senang yang seharusnya aku rasakan ketika menjadi pacar seorang idola sekolah, justru malah diganti dengan kekerasan psikis yang setiap hari bertambah parah. Kulewati hari-hari dengan penuh pertimbangan sebelum pada akhirnya aku berani untuk memutuskan. Lebih baik aku pergi untuk mencari kebahagiaan daripada terus memaksa bertahan. Aku selalu menyayangimu. Tapi kau hanya ingin memilikiku. Maaf. Kau menolak berdamai dengan rasa cemburu, itu sebabnya aku memilih untuk meninggalkanmu.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.