define “homesick”
Story ini ditujukan untuk anak rantau di mana pun kalian berada dan dari mana kalian berada. Serta untuk kalian yang merasa punya kegundahan hati untuk merantau.(Kalian berada di posisi yang sama seperti saya pada 9 bulan yang lalu)
Sudah 9 bulan lamanya aku berada di kota Bandung, kota yang penuh berbagai jenis keindahan dari keindahan alam sampai keindahan urban. Bahagia nampaknya tinggal di kota ini dan terasa bakal nyaman tinggal di kota seindah ini. Rupanya, kenyamanan yang diidam-idamkan itu juga tidak akan mencegah perasaan untuk kembali ke rumah di kampung halaman atau yang sering disebut “homesick”.
Sesampai di bandara Husein Sastranegara, aku sudah siap sekaligus gugup menghadapi kehidupan yang akan aku jalani. Berawal dari keputusan yang aku ambil pada saat hasil seleksi keluar, untuk keluar merantau dari Kota Medan untuk menuntut ilmu di sebuah PTN di Bandung, aku mulai mempersiapkan segalanya. Mulai dari menghitung pengeluaran kira-kira, mencari tahu tentang perkuliahan, mempelajari beberapa kosakata Sunda, dan men-list daftar destinasi wisata kuliner dan alam di Bandung untuk pelarian sesaat. Bahkan aku mencoba untuk menghilangkan logat daerah dalam berbicara bahasa Indonesia. Alasannya simple, untuk menghindari stereotipe Tionghua Medan di Indonesia yang mengucapkan “Glodok” seperti “glodog” dan stereotipe yang lain. Dengan tekad yang bulat, saya berani keluar dari zona nyaman, meninggalkan orang tua, dan melawan saran kerabat dekat dan jauh untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Kota Medan saja. Pendapatku saat itu seperti “boro-boro kuliah di Medan, ga ada kampus yang bagus, ga ada tantangan lagi cuma di Medan.”
Pemikiranku saat itu yang polos dan YOLO, segera disesali sesaat setelah berbagai realita yang terjadi pada beberapa hari pertama di Kota Bandung. Mulai dari tempat tinggal di mana kos yang berjarak beberapa ratus meter dari mulut gang, kamar kos yang sempit, redup dan masih bau cat karena baru dibangun. Kuharap kamar kos yang dingin seperti hawa kota Bandung pada malam hari yang kadang dinginnya menusuk, tetapi kos saya dibangun dengan hawa yang sedikit pengap.
Dari segi makanan, ketika gorengan yang layaknya dijadikan snack petang hari di kotaku menjadi sarapan yang sudah wajar di kota ini. Bubur yang seharusnya makanan orang sakit juga jadinya sarapan. Dan aku baru sadar bahwa jarang ada makanan Chinese/Medan di sekitar kosku. Kalau pun ada, rasanya sama sekali tidak mirip dengan makanan rumah yang setiap harinya kadang saya abaikan atau berusaha untuk makan di luar karena bosan yang sekarang sangat dikangeni karena terlalu sering makan dari luar.
Alih-alih mobilitas orang Bandung ketika jarak ratusan meter ditempuh dengan berjalan, ketika jarak puluhan meter saja harus memakai motor di kotaku. Beberapa hari pertamaku, kakiku sakit karena berjalan tetapi masih bersemangat karena idealisme yang masih tinggi.
Semua orang di sini juga mengatakan Bahasa Indonesia, dan kadang bahasa Sunda. Untungnya aku sudah sadar keadaan linguistik ini sejak awal dan dapat bertahan dengan kurangnya logat daerah yang membuat saya tidak terkucil dari pergaulan. Kadang saya suka tertawa terkekeh-kekeh mendengar logat daerah yang masih menempel dengan identitas tersebut, serasa menonton Kelas Internasional. Tapi tidak apa-apa, namanya juga keunikan. Tetapi sekarang aku sudah jauh lebih jarang mendengar bahasa ibuku yang notabene jauh berbeda dari Bahasa Indonesia baik dari segi struktur dan kosakata.
Dari segi akademik, kehidupan akademik di PTN ini sangat kompetitif. Tahun pertama dikenal sebagai Tahap Persiapan Bersama di mana IP bisa jadi parameter untuk menentukan jurusan seseorang. Minggu-minggu pertamaku berjalan lancar, sampai UTS melanda. Nilai UTS yang tidak pernah serendah seluruh nilai ulangan di SMA tentu membuat aku terkejut dan merasa kuliah itu berat. Titik ketika Indeks Prestasi keluar di situs akademik membuatku sadar bahwa IP 4.0 hanyalah idealisme yang semu di kampus ini.
Realita yang jauh dari ekspetasi tersebut membuatku merasa kangen rumah. Ingin rasanya punya seseorang yang bisa diajak obrol ketika pulang ke tempat tinggal. Aku jauh lebih menghargai adanya orang tua dan teman daripada aku sebelum kuliah. Setiap pembicaraan telepon dengan orang tua terasa lebih dekat dan berharga, walaupun dengan jarak ribuan kilometer dan satu pulau. Untungnya terdapat unit yang mewadahi mahasiswa dengan satu asal dan satu bahasa ibu, setidaknya mengurangi sedikit perasaan kangen rumah.
Pertengahan semester 1, aku punya keinginan untuk pulang hanya untuk bertemu orang tua dan teman-teman semasa SMA, mencoba kuliner kota Medan yang kaya rasa, berbicara bahasa ibu yang sudah lama kuidamkan. Tetapi, rupanya aku tidak bisa pulang dengan alasan ekonomi. Kesal dengan situasi ini, aku memutuskan untuk mengambil liburan seminggu di Kota Yogyakarta dan Magelang dan meng-explore kebudayaan Jogja serta makanannya yang khas. Titik homesick terbesarku muncul ketika aku tidak bisa merayakan Imlek yang seharusnya dirayakan di kotaku dengan riuh ramai dengan nuansa Imlek yang kental budaya.
Tetapi dengan sadar aku memahami beberapa hal selama 9 bulan aku di sini. Aku merasa mendapatkan banyak hal dan pengalaman yang berharga yang tidak bisa aku dapatkan ketika di kampung halaman. Orang-orang Bandung sangat ramah dan easy-going sehingga bisa diajak berteman dengan cepat. Dalam waktu sebulan, aku sudah mendapat beberapa teman yang sering diajak obrol atau chat. Berbeda dengan kondisi mentalku saat di kotaku ketika aku lebih introvert dan lebih jarang berteman. Kondisi kampusku yang diverse secara kebudayaan, agama dan ideologi juga membuat mataku terbuka melihat dunia yang kukenal sebelum kuliah masih sempit. Hal itu membuat keingintahuan ku semakin besar terhadap banyak hal, seperti budaya dan kebiasaannya dan pandangan yang berbeda. Menariknya, karena kampus yang diverse, jadi banyak anak rantau yang menjadi penghuni kampus, jadi bisa saling melemparkan keluhan rantau ke teman seperjuangan.
Kini aku lebih bisa melakukan banyak hal sendiri ketika diriku saat sebelum merantau tidak bisa apa-apa. Jarak yang dekat antara kos dan kampus mengharuskanku kadang berjalan untuk mengurangi biaya transportasi, hitung-hitung olahraga. Dan aku merasa lebih sering ke luar daripada sebelumnya di kotaku di mana sekolah, rumah, dan mall adalah tempat yang aku kunjungi. Aku juga lebih menghargai pentingnya uang dan waktu untuk kehidupan dan memprioritaskan kegiatan.
Aku juga berhasil pergi ke beberapa destinasi alam dan urban yang sudah ku-list menjadi tempat pelarian. Tangkuban Perahu, Braga, Jalan Asia Afrika di Bandung sampai Jalan Malioboro di Yogyakarta. Perjalananku ke Yogyakarta bahkan aku tempuh sendiri melalui kereta ekonomi dengan hanya izin orangtua.




Aku sadar bahwa aku sudah jauh lebih berani daripada diriku sebelumnya di Medan ketika aku masih menjadi anak rumahan dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu kosong di rumah. Keputusanku untuk keluar zona nyaman ini kini kusadari sebagai keputusan yang tepat. Bahkan aku ingin mengeksplorasi daerah lain di Pulau Jawa khususnya rangkaian pegunungan di Pulau Jawa yang selalu ingin aku daki. Aku ingin mencoba kerja paruh waktu di restoran cepat saji selepas kuliah semester 2 selesai selama 3 bulan libur kuliah. Aku ingin lebih meng-explore diriku melalui seni gambar. Aku ingin mengembangkan skill kepemimpinan dan komunikasiku untuk mengenal lebih banyak orang dan dapat memimpin dengan baik. Aku ingin mengenal diriku lebih dalam dengan mengenal kepribadian dan SWOT. Aku ingin student exchange ke Jepang. Semakin lama, semakin banyak tujuan yang ingin dipenuhi seiring aku menempuh jalan ini.
Aku sadar bahwa tidak setiap orang memiliki kesempatan untuk merantau ke luar. Tetapi aku ingin menitipkan pesan ini ke kalian yang mempunyai tekad merantau :
“Mungkin bakal ada tantangan dan hambatan ketika merantau, baik segi ekonomi, psikologi, akademis dan sosial. Tetapi, selalu ada cara untuk mengakali masalah tersebut dan tidak semua masalah harus dihadapi dengan rasa sesal, marah ataupun sedih, tetapi dengan rasa tenang dan bahagia, semua masalah bisa diatasi. Cari dan rangkul temanmu yang bermasalah, karena bisa jadi mereka yang akan sangat membantumu dalam kehidupan berikutnya. Lingkungan mungkin tidak cocok denganmu, tetapi keluarlah dari zona nyaman untuk beradaptasi dengan mereka, atau solusi lain, carilah lingkungan yang nyaman untukmu sebagai pelarian masalah. Jika homesick, carilah teman terdekatmu untuk menceritakannya, pulang juga boleh. Carilah pelarian yang tepat, dan jangan terlalu lama bertahan di sana, karena tempat pelarian memang seharusnya menjadi tempat untuk berlari dari kenyataan. Jika hilang motivasi, carilah orang tua. Mereka kadang dan memang lebih mengerti dirimu daripada dirimu sendiri. Explore dirimu, karena banyak potensi yang worth dikembangkan dan dimanfaatkan.”
Sekian cerita (curhatan) ini. Pengalamanku di post ini hanya kecil, tidak bisa dibandingkan dengan pengalaman teman-temanku yang terpisah negara dan kontinen dengan kampung halamannya. Aku hanya menulis ini sebagai wujud kenyamananku dengan kota Bandung. Diriku sekarang jika ditanya “Lu balik Medan gak?”, bakal aku jawab dengan “Belum tau, ntar gue liat lagi deh”.

(Untuk motivasi tambahan, mungkin bisa menonton video ini)
