“tetap dalam jiwa” & menikah muda(h)

Ah… Tak disangka angkot juga mengikuti kekinian.. Walaupun drivernya berkumis ala “foke” dan rambut sebagian sudah memutih disertai dengan wajah “garang”… Lagu yang diputar di tape mobil tipe sederhana namun sudah memiliki usb ini, melantunkan lagu “Tetap dalam Jiwa” yang di populerkan oleh Nona Isyana.

Apakah ini suatu gaya pemasaran baru yang dilakukan supir angkot tersebut atau supir ini sedang galau juga? Ah…mari kita lupakan jika itu gaya pemasaran baru… Hihihi… Kita fokus dengan Cinta yang tidak mengenal usia. Siapapun butuh cinta. Cinta akan bisa membahagiakan manusia dan bisa membuat manusia menderita dalam hidupnya.

Apakah ini suatu gaya pemasaran baru yang dilakukan supir angkot tersebut atau supir ini sedang galau juga? Ah…mari kita lupakan jika itu gaya pemasaran baru… Hihihi… Kita fokus dengan Cinta yang tidak mengenal usia. Siapapun butuh cinta. Cinta akan bisa membahagiakan manusia dan bisa membuat manusia menderita dalam hidupnya.

Cinta dan “Menikah Muda”. Yah, menikah muda bukan menikah muda(h). Menikah di usia muda. Dikala teman sebaya sedang menikmati keindahan dan kebebasan serta kenakalan masa muda bersama dengan teman sebaya. Maka menikah muda menjadi suatu tantangan tersendiri. Namun ada juga yang memilih menikah muda dan menjalani diluar harapan yang pernah didengar sebelumnya.

Ada hal baik yang didapat dari menikah muda. Yang pasti kita dapat menikmati hari tua tanpa beban yang lebih mudah pula. Karena disaat usia produktif kita, disaat itu pula anak-anak kita beranjak dewasa. Sehingga kelak ketika kita sudah memasuki usia pensiun, kita sudah enih mudah didalam berjuang dalam hidup. Dan akan lebih tepatnya kita bisa menikmati hidup.

Selain hal diatas, ada yang mengatakan akan lebih bahagia. Menurut penelitian yang dilakukan National Marriage Project’s 2013 di Amerika Serikat (AS) menunjukkan, persentase tertinggi orang yang merasa sangat puas dengan kehidupan pernikahan adalah mereka yang menikah di usia 20-28 tahun. Memang secara umum mereka belum memiliki banyak ego. Dan karena hal itu pasangan muda akan dapat menerima pasangan hidupnya. Bahkan ketika mereka datang dari kondisi yang belum mapan secara “ekonomi”, mereka akan tetap bisa menikmati kondisi tersebut secara bersama-sama. Namun apa yang salah dari pasangan yang menikah muda namun tidak mendapatkan kebahagian. Yah, ternyata mereka yang menikah muda mungkin berbeda usia. Di mana perbedaan usia juga membuat kebahagian akan menjadi terhambat. Di tambah salah satu pasangan ada kemungkinan tidak di usia yang sama atau dalam interval yang cukup dekat.

Hasil studi sosiolog Norval Glenn dan Jeremy Uecker (2010) menyimpulkan pasangan muda mereka lebih cenderung dapat mengontrol emosi selain bermanfaat dari sisi kesehatan. Namun mengapa ada pasangan yang tidak dapat mengontrol emosi? Yah karena mereka lebih superior dan secara usia terjadi perbedaan sehingga menikah muda… Harus dengan pasangan muda yang seusia. Jika terjadi perbedaan mungkin akan ada kendala yang akan di hadapi. Namun dilain sisi, dengan bisa saling mengontrol emosi, maka kebersamaan mengejar mimpi akan tercipta dengan baik. Dan keberhasilan yang dicapai akan membuat kedua pasangan semakin bahagia.

Ada juga yang mengatakan, menikah di usia muda akan membuat lebih mudah beradaptasi satu sama lain. Apakah demikian benar adanya? Pasangan berusia muda akan memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan dan kebiasaan tidak baik dari pasangan. Kembali lagi.. Hal ini sebenarnya akan terjadi seperti itu, jika pasangan memang muda. Jika hanya salah satu yang muda, mungkin yang terjadi diawal pernikahan yang lebih muda akan selalu mengalah dan mencoba menerima kebiasaan yang tidak baik dari pasanganya. Yah karena yang melakukan adaptasi hanya satu pihak, maka seiring berjalanya waktu. Ini akan menjadi timing bomb yang akan meledak suatu saat secara tiba-tiba. Ketika salah satu pihak sudah tidak tahan dengan kondisi yang ada. Namun apakah akan hancur lebur ketika bom tersebut meledak? Yah semua itu tergantung dari pasangan tersebut. Yang pasti “tetap dalam jiwa” akan menjadi suatu pilihan. Dan menikah muda bukanlah suatu menikah mudah.

Apapun semua yang terjadi, baik itu menikah muda dengan pasangan yang sama-sama muda ataupun menikah di usia senior serta menikah dengan pasangan dengan selisih usia diatas 5 atau bahkan 10 tahun. Semua kebahagian akan dapat dicapai karena masing-masing pasangan memiliki attitude yang baik. Tidak ada ego masing-masing yang dipertahankan, namun bersatu padu menjadi sesuatu yang hebat karena kebersamaan.

Semoga menikah muda(h) bukanlah hal yang salah, namun proses menuju kepada putusan itulah yang perlu menjadi perhatian sehingga kebahagian akan dicapai. Dan keputusan “tetap dalam jiwa” dapat di pikirkan dengan baik. Namun jika sudah tidak dapat dipertahankan, maka ambilah putusan yang terbaik untuk semua. Dan tetaplah “keep being you”. Untuk siapapun yang berpikir tulisan ini bermanfaat untuk memberikan pencerahan.

Antara 05A dan Starbucks #ggpmall

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.