When Love is Not Enough -1

Suatu cerita lama yang masih tetap menarik untuk dituliskan di media ini. Semua cerita dan nama yang ada, hanyalah khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan cerita. Hal tersebut hanya suatu kebetulan.

Bagian 1

Handphone-ku bergetar.
Dengan enggan kubaca nama penelponnya. Private number..
Setelah beberapa saat aku menimang-nimang, akhirnya kuputuskan untuk mengangkat telpon itu.

“Hallo.” sapaku.
“Hallo Ca, ini Rosa.”
“Rosa?” ucapku agak terkejut.

“Sudah terima undangannya?” tanya Rosa agak terburu-buru. Suasana hiruk pikuk disekitarnya terdengar samar-samar.

“Undangan?” Buru-buru aku berjalan ke arah meja ruang tamu, menahan rasa pusing yang langsung muncul ketika aku bangun dari tempat tidur, langsung mencari-cari undangan yang disebut oleh Rosa. Ternyata house-mateku menaruhnya di bawah tumpukan koran.

“Iya, aku post beberapa hari yang lalu. Harusnya sudah sampai tadi pagi.”

“Oh, iya.. ada nih.. Undangan siapa sih ini?” kubuka undangan itu dan terkesiap melihat nama pengantin perempuannya. “Rosa! Kamu mau married? Kenapa nggak pernah cerita di email? Ngagetin banget..” aku masih belum pulih dari keterkejutanku. Kulihat nama pengantin prianya, memang pria yang Rosa pacari dua tahun terakhir ini.

Rosa tertawa senang mendengar keterkejutanku. “Ca, itu undangan belum disebar loh.. Aku kasih kamu duluan sekalian bikin kejutan supaya kamu orang luar pertama yang tahu..” ucapnya senang.

“Ya ampun Sa.. Kamu hampir bikin aku jantungan, tau nggak?” ucapku tanpa bisa menyembunyikan kesenangan yang juga aku rasakan saat itu.

“Ca, aku lagi buru-buru nih.. Nanti aku kirim email lagi yah..” Lalu Rosa mengakhiri percakapan singkat kami.

Aku merebahkan diriku di atas sofa. Kupandangi lagi undangan yang masih kupegang. Rosa.. berapa umurnya sekarang? 23? Waktu memang cepat sekali berlalu.. Aku sendiri sudah 27 tahun.. Sudah bisa kutebak reaksi mama kalau tahu tentang hal ini nanti. Pernikahan Rosa memang alasan yang tepat untuk menyuruhku cepat-cepat cari pacar dan menikah. Aku tahu maksud baik mama..tapi entah mengapa hati ini masih tidak bisa untuk menerima cinta yang lain. Hati ini seolah-olah masih diikat olehnya, oleh pria yang selalu ada di setiap sudut benakku, yang berada nun jauh di sana.. Umurku kira-kira sama dengan Rosa waktu papa mama mengenalkanku dengannya.