When Love is Not Enough -10
Suatu cerita lama yang masih tetap menarik untuk dituliskan di media ini. Semua cerita dan nama yang ada, hanyalah khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan cerita. Hal tersebut hanya suatu kebetulan.
Bagian 10
“Kamu kenal yang pengantin pria atau pengantin wanita?” tanyanya tajam.
“Aku sahabat Rosa. Kamu?” Entah mengapa, aku tidak suka dengan sikapnya yang menurutku agak sedikit kurang sopan.
“Jadi kamu yang bekas tunangannya Jason..” gumamnya pelan. Aku merasa agak tersinggung ketika mendengarkannya mengatakan kata ‘bekas’.
“Jadi kamu yang bekas pacarnya Jason..” balasku tak mau kalah walaupun tetap kuusahakan agar nada bicaraku tetap terdengar bersahabat.
Ia berdiri dan menghampiriku. “Ya, tepatnya, aku cinta pertama Jason.”
Aku membalas tatapannya. Aku merasa marah, terluka dan terkalahkan..
“Kamu memang cinta pertamanya.. Namun apakah ia masih mencintaimu sekarang?” balasku.
“Aku rasa kamu pun tahu jawabannya.” Ia tersenyum. “Kamu dulu bisa
mendapatkannya karena aku pergi dari hidupnya.”
“Ia tidak pantas mencintaimu setelah kamu meninggalkannya begitu saja.”
Aku merasa emosiku sudah naik ke ubun-ubun.
“Terserah kalau kamu mau menyalahkanku. Namun satu hal yang pasti, aku masih mencintainya dan akan kubuktikan padamu, aku bisa memilikinya kembali..” ucapnya sinis.
Suasana makan malam itu menjadi dingin. Aku tidak mengucapkan sepatah
katapun. Stanley yang sibuk mengajak Sarah ngobrol dan mencoba mencairkan suasana. Tampaknya Stanley sudah bisa menduga apa yang terjadi.
Sarah sendiri bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Aku tidak menyangka
Jason bisa menyukai orang seperti dia.. Sungguh munafik.. Atau mungkin Jason tidak pernah mengetahui sisi lain dari perempuan ini?
Setelah mengantar Sarah pulang, Stanley kembali lagi ke rumahku untuk
menanyakan apa yang terjadi. “Aku nggak nyangka deh anaknya rese begitu..” ucapku setelah aku menceritakan percakapanku dengan Sarah tadi.
“Jadi gimana donk? Sekarang kamu sudah tahu dengan pasti, dia adalah Sarah yang mantan pacarnya Jason.. Lalu?”
Aku termenung mendengar pertanyaan Stanley. “Aku nggak tahu Stan.. Aku hanya tidak rela melihatnya merebut Jason dariku.. Dia tidak pantas mendapatkan Jason lagi..” ucapku dengan mata menerawang. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
“Kalau begitu, buktikan padanya, Jason lebih memilih kamu..”
Aku menatap Stanley lama sekali.. Sejujurnya aku agak ragu apakah Jason akan memilih diriku. Aku tahu, seberapa besar pun luka yang pernah ditinggalkan ditinggalkan Sarah, Jason akan selalu memaafkannya. Aku pun pernah terluka karena alasan yang sama. Benarkan Jason akan memilihku?
Seperti bisa membaca pikiranku, Stanley menggenggam tanganku erat. “Ambillah cinta yang menjadi hak kamu sebelum kamu menyesal..” ia meyakinkanku.
Ucapan Stanley seperti memberiku sebuah keyakinan. Aku mengangguk, “Kamu benar, Stan.. Mungkin ini sudah saatnya..”
Esoknya, aku memutuskan untuk menelpon Sarah.
“Ini aku, Bianca..” ucapku dingin.
“Oh.. ada apa?” tanyanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa antara kami.
“Katamu, kamu bisa merebut Jason kembali. Aku minta kamu buktikan itu..”
Ia terdiam sebentar. “Bagaimana kalau kita ubah permainannya. Kalau kamu
bisa buktikan, Jason lebih memilihmu daripada aku, aku yang akan pergi..”
“Caranya?” tanyaku.
“Simple saja. Aku tunggu kamu di pesta pernikahan Rosa..”
“Apa kamu bilang? Kamu juga diundang?” tanyaku kaget.
“Bukan urusanmu..” jawabnya dingin.
Kini aku yang terdiam sebentar. “Baik.. Aku harap kamu tepati ucapanmu..” Ia
lalu menutup telpon itu begitu saja.
Tidak lama setelah kejadian itu, aku dengar dari Stanley, Sarah kembali ke
Jakarta. Aku sendiri tidak pernah berbicara lagi dengannya. Aku tidak pernah
merasakan kebencian yang begitu dalam terhadap seseorang sebelumnya. Bukan hanya karena aku merasa ia adalah sainganku, namun juga karena sikapnya yang terlalu meremehkanku.
“Ca, kamu yakin, kamu akan back for good?” tanya Stanley selagi kami makan
malam bersama. Lagu Forever Love-nya Gary Barlow menemani kami.
“Cepat atau lambat aku tetap harus kembali kan?” aku memain-mainkan nasi di piringku dengan tidak selera.
“I’ll miss you..” ucapnya. Aku tertawa.
“Ca..” panggilnya lagi. “Apakah kamu dah siap bertemu dengan Jason?”
Aku spontan mengangkat bahuku. “Aku agak takut Stan.. Tapi kehadiran Sarah seperti mendorong aku untuk menerima kenyataan bahwa aku masih mencintai Jason.. Ia seperti memberi aku keberanian untuk mengambil keputusan yang tidak pernah berani aku ambil sebelumnya..” aku menatap Stanley kosong.
“Bagaimana kalau nanti Jason ternyata memilih Sarah?” tanya Stanley
seketika. Aku agak kaget dengan pertanyaan Stanley. Aku selalu takut memikirkan kemungkinan itu.
“Aku doakan ia bahagia dengan Sarah..”
“Lalu bagaimana denganmu?”
“Entahlah..”
Stanley menggenggam tanganku hangat. “Kalau itu terjadi, kamu harus ingat,
aku selalu di sini, mendukungmu..”
“Terima kasih Stan..”
Stanley tersenyum. “Jangan khawatir. Hal itu takkan terjadi karena Jason
pasti memilihmu..”
“Bagaimana kamu bisa begitu yakin?”
“Karena aku tahu, Jason bukan laki-laki bodoh yang mau melepaskanmu begitu saja..”
Aku tersenyum. Aku mempererat genggaman tangan kami. Saat bersama Stanley, aku menemukan apa yang disebut orang sebagai suatu ketenangan..
“Jadi Stan.. Kamu sendiri bagaimana?”
“Aku? Yah begini-begini saja..” jawabnya dengan gayanya yang lucu..
“Kamu nggak cari pacar? Aku tahu kok ada beberapa bule yang demen sama
kamu..” ledekku.
“Wah.. males aku ama bule, nanti kalo dah nikah pasti pada melar.. Aku butuh
yang kurus donk, supaya nggak berebut makanan.. Sekalian memperbaiki
keturunan.. Masa dari generasi ke generasi keluarga besar-besar semua sih??”
Aku tertawa mendengar komentarnya. “Stan, kayaknya yang jadi istri kamu
pasti lama-lama juga gendut soalnya dimasakin yang enak-enak terus sih..”
“Ah.. tuh kamu aja makan dari tadi kaga abis-abis.. Nggak enak yah?” gaya
sok ngambeknya mulai keluar.
“Maap deh.. Abisnya lagi nggak enak badan nih.. Tau sendiri kan?” aku
mengedipkan mataku.
“Nggak, nggak tahu.. Aku kan LAKI-LAKI!” lagi-lagi ia membuatku tertawa.
“Aduh Stan.. aku nggak bisa bayangin nih.. di Jakarta nanti bakalan nggak ada kamu..” ucapku serius..
“Siapa bilang?”
“Hah? Kamu juga ke Jakarta?” tanyaku kaget.
Ia tersenyum nakal, namun aku tahu, senyumannya itu berarti ‘iya’. Aku
langsung berteriak kegirangan dan memeluknya.
“Eh, jangan kesenengan dulu.. Aku cuma liburan di sana..”
“Nggak pa-pa.. Pokoknya kamu mesti nemenin aku pas pestanya Rosa..” paksaku.
“Memang itu tujuanku kok.. Aku mau kamu berbagi kebahagiaan denganku..
Pokoknya, jangan mentang-mentang dah jadian lagi ama Jason, aku
ditelantarkan yah! Awas!” ancamnya sambil sok mengacung-acungkan tinjunya.
“Beres boss!” sorakku gembira..
Stanley memang selalu tahu kapan aku membutuhkannya..
Waktu kepulanganku ke Indonesia semakin mendekat. Sudah dari jauh-jauh hariaku mempersiapkan semuanya. Karena kali ini kepulanganku adalah untuk selamanya, aku mempersiapkan semuanya dengan begitu cermat.
Dengan dibantu Stanley, aku sudah siap pulang sekarang.. Ia bukan hanya
membantuku secara fisik, ia juga menguatkan diriku, terus menerus
meyakinkanku bahwa ini adalah keputusan yang benar..
Di saat aku takut dan bimbang, pelukannya terbuka lebar untuk
menenangkanku.. Di saat aku mulai membayangkan perpisahanku yang menyakitkan dengan Jason, tawa dan lelucuon konyolnya akan membuat semua itu sirna seketika.
Di saat aku sedih karena akan berpisah darinya, senyum dan genggaman
tangannya meyakinkanku bahwa ia selalu ada di setiap langkahku.. Bahwa ia
selalu berdiri di sampingku dan siap menopangku kapan saja aku terjatuh..
Aku tak tahu mengapa, semuanya itu malah membuatku semakin sedih dan takut.. Membayangkan perpisahanku dengannya, aku merasa seperti anak kecil yang akan dipisahkan dari mainan kesayangannya.. Aku tahu ini adalah perasaan yang bodoh.. Aku akan memulai hidupku yang baru, bersama dengan cinta pertamaku, sesuatu yang aku pendam dan aku nantikan selama ini..Aku harus bahagia kali ini.. Harus….
Tiba di Jakarta, semuanya terasa familiar. Seperti déjà vu rasanya ketika
aku melihat tempat-tempat yang aku datangi dulu. Saat-saat ini begitu
menyenangkan. Ditambah dengan kehadiran Stanley di sampingku, aku merasa begitu bisa gembira bisa pulang ke rumah.
Papa dan mama langsung menyukai Stanley, terutama mama. Ia dan Stanley
langsung jadi akrab. Mereka sering masak dan shopping bersama. Kadang aku jadi geli sendiri melihatnya. Untung saja papa tidak cemburu..
Akhirnya saat itu tiba. Besok adalah pernikahan Rosa. Rosa tidak tahu kalau
aku sudah ada di Jakarta. Ia berpikir aku tidak akan datang karena aku tidak
bisa mendapat cuti dari kantor tempat aku bekerja.. Mungkin begitu lebih
baik, jadi kalau Jason memilih Sarah, aku bisa pulang begitu saja tanpa Rosa
perlu tahu bahwa aku pernah datang.. tanpa perlu ada masalah lagi tercipta..
“Ca, gaun buat besok udah disiapin?” tanya Stanley ketika ia masuk ke
kamarku.
“Bingung nih Stan.. Gaunku nggak banyak.. Pilihin donk..” aku menunjuk ke
lemari baju tempat aku menyimpan semua gaun pestaku. Stanley langsung
menyortir isi lemari tersebut.
“Aduh Ca.. seleramu jelek banget sih.. Harusnya kita beli pas shopping sama
mama kamu kemaren..” ucapnya setengah mengomel.
Aku hanya tersenyum mendengar komentarnya.
“Eh, yang ini bagus.. Simple tapi anggun..” Stanley mengeluarkan sebuah gaun dan menunjukkannya padaku.
Aku terdiam.. Gaun itu.. “Itu gaun pertunanganku dulu Stan..” sahutku pelan.
Raut wajah Stanley langsung berubah. Hening sesaat.. Lalu raut wajahnya
kembali ceria, “Ya nggak pa-pa.. Sekalian sebagai tanda bahwa kamu jadi
tunangan dia lagi..” sambungnya setengah bercanda.
“Norak ah..” balasku dengan senyum dipaksakan.
Stanley mengembalikan gaun itu ke tempatnya. Ia lalu menghempaskan dirinya, duduk di sebelahku. “Jangan bete gitu donk..” ia mencoba membuatku tersenyum.
“I’m ok, Stan..” aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Ia berbalik
menyadarkan kepalanya di atas kepalaku.
“Gini aja.. Besok kita coba cari gaun yang bagus yah tapi aku yang pilihin..
Dijamin nggak kalah dari gaun pilihan dia deh..” Aku hanya mengangguk tak
bersemangat.
Aku hanya berharap aku dapat melewati semua ini secepatnya.. Itu saja.. Saat
itupun tiba. Mobilku berhenti di depan pintu lobby utama hotel megah itu.
Aku turun ragu-ragu. Aku bisa merasakan jantung ini berdebar kencang. Bodoh sekali.Tidak lama Stanley sudah berdiri di sampingku. Ia menggandeng tanganku.. mau tidak mau kulangkahkan kakiku.
Grand ballroom itu sudah cukup ramai. Aku memang sengaja datang agak sedikit terlambat. Dengan ada banyak orang, aku berharap Jason tidak melihatku. Aku yang ingin melihatnya duluan. Dan perkiraanku tak meleset..
Aku menangkap sosoknya di tengah kerumunan orang. Ia sibuk berjalan sambil sesekali berhenti dan berbicara dengan beberapa pegawai hotel, tampaknya memberi instruksi kepada mereka. Terkadang ia juga menyapa tamu dan berbicang sebentar. Aku tidak bisa melihatnya wajahnya begitu jelas. Ia tidak banyak berubah.. Ia masih tampan seperti dulu. Tubuhnya masih tegap dan tinggi menjulang. Sosok pria yang benar-benar sempurna. Aku bisa merasakan diriku sendiri bergetar saat itu. Aku terus mengikutinya, dan lupa bahwa aku telah meninggalkan Stanley sendirian.
Mataku terus terpaku pada dirinya sampai aku melihat sesuatu yang lebih
menarik perhatianku. Sarah.. Ia melambaikan tangannya padaku, mengisyaratkanku untuk datang ke sana. Ia berdiri tak jauh dari Jason. Aku
tak ingin Jason melihat Sarah jadi aku buru-buru menghampiri wanita itu.
“Kita bicara di luar saja..”
Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung melangkah ke luar. Aku memilih
tempat yang agak sepi, berhenti dan membalikkan tubuhku. Ia tepat berada dihadapanku. Tersenyum.. Senyumnya terlihat begitu tulus.. Namun pandangan matanya kosong, hampa..
“Kenapa kamu tidak menghampirinya? Kenapa hanya memandanginya dari jauh?” tanyanya seraya berjalan mendekatiku lalu menyandarkan dirinya di kaca yang menjadi pembatas gedung ini dengan dunia di luar sana.
“Kamu sendiri?” tanyaku.
“Aku memang tidak akan menghampirinya..” ia meneguk minumannya.
“Lalu untuk apa kamu ke sini?” tanyaku antara kesal dan bingung.
Ia tersenyum. “Untuk melihat kebahagiaan kalian..” Ia menatapku tepat di
bola mataku. Nada suaranya begitu tenang..
“Aku nggak ngerti..”
“Aku tahu kalian berdua saling mencintai. Aku ingin melihat kalian
bersatu..” kali ini ia mengucapkannya begitu pelan.. begitu ragu-ragu.
“Kamu jangan membohongku lagi..” aku mendesah kesal, muak dengan sikap
pura-puranya.
“Aku tahu kamu pasti membenciku.. Kalau tidak begitu, kamu tidak mungkin
kemari kan?” ucapnya penuh arti.
Aku tersentak. Aku menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Permainan apa lagi ini?
“Maafkan aku.. Hanya itu satu-satunya cara untuk membuatmu mengambil
keputusan. Apakah kamu tidak bosan hidup dengan ketidakpastian?” sambungnya tanpa menunggu jawabanku.
Aku berupaya mencerna kata-katanya. “Apa untungnya bagimu?” tanyaku akhirnya.
“Tidak ada.. Hanya merugikanku..”
“Lalu kenapa kamu melakukannya?”
“Stanley..” jawabnya singkat.
“Stanley? Jadi ia tahu semua permainanmu ini?” kekecewaan terbersit dalam
hatiku.
“Kamu tahu Ca.. Kalau aku mau memiliki Jason, aku bisa mendapatkannya dari dulu, bahkan sebelum ia bertemu denganmu.. Aku tidak perlu menunggu saat seperti ini..”
Ia tak memperdulikan pertanyaanku.. Ia membalikannya tubuhnya, menatap ke luar. Gerimis tampak menyirami kota Jakarta.
“Tapi aku tidak pernah melakukannya karena aku tahu aku tidak pantas
memilikinya setelah apa yang aku lakukan padanya..Bahkan setelah pertunangan itu dibatalkan sekalipun.”
“Apa yang terjadi waktu itu?”
“Tunanganku menghubungiku. Ia mengatakan, ia tidak bisa menikahiku karena ia mencintai perempuan lain.. Aku marah sekali. Bukan marah karena perempuan lain itu tapi karena ia memberitahuku di saat aku telah meninggalkan dan menyakiti Jason.. Aku tidak pernah mencintai tunanganku.. Melihatnya pun aku belum pernah.. Aku melakukan semua itu dulu semata-mata karena orang tuaku yang pernah berhutang budi kepada orang tuanya. Seperti cerita Siti Nurbaya ya?” ia tertawa sinis.
“Semenjak itu, aku hanya bisa menyesal. Bertemu dengan Jason pun rasanya aku sudah tidak punya muka. Lalu aku dengar cerita tentangmu.. Sejujurnya, aku iri setengah mati sewaktu tahu Jason melamarmu. Aku ingin menghancurkan hubungan kalian..”
“Jadi kamu yang mengatur agar Jason mendengar lagi kabar tentangmu?” tanyaku geram.
Ia mengangguk. “Awalnya aku puas.. Aku berhasil membuat Jason teringat akan diriku, membuat keyakinannya goyah.. Namun aku salah.. Ia malah semakin menyadari cintanya sewaktu ia kehilanganmu.. Aku kalah..” suaranya terdengar parau.
“Lalu bagaimana kamu bisa datang ke San Fransisko dan bertemu denganku?
Apakah ada hubungannya dengan Stanley?” tanyaku cepat. Entah kenapa, aku lebih ingin tahu tentang hubungan Stanley dengan semua hal ini ketimbang masalah Jason..
Ia menggeleng. “Awalnya itu kebetulan.. Tampaknya kita memang berjodoh,
Bianca.. Kita memang harus bertemu.. Kalau tidak, aku tidak akan pernah
merasa setenang ini melepaskan Jason..”
“Kapan Stanley tahu tentang ini?”
“Malam ketika ia menjemputku untuk makan di rumahmu.”
Aku menghampiri Sarah. Berdiri di sampingnya, kami berdua sama-sama menatap ke luar.
“Saat itu aku baru merasa pasti bahwa kamu adalah Bianca yang dicintai
Jason. Ketika mengetahuinya, aku rasanya ingin menghilang saat itu juga. Aku tidak ingin bertemu denganmu. Cemburu, marah, sedih dan perasaan bersalah semuanya bercampur aduk..” ia mendesah.
“Lalu?”
“Lalu Stanley mengucapkan sesuatu yang merubah semuanya..”
“Apa itu?”