When Love is Not Enough -11
Suatu cerita lama yang masih tetap menarik untuk dituliskan di media ini. Semua cerita dan nama yang ada, hanyalah khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan cerita. Hal tersebut hanya suatu kebetulan.
Bagian 11
“Mencintai seseorang tidaklah cukup..”
Ia berhenti sebentar, memainkan gelasnya lalu meneguk minumannya lagi.
“Cintaku takkan pernah membahagiakan Jason.. Justru dengan membantunya menjadi bahagia, aku bisa buktikan cintaku padanya, sekalipun ia tidak pernah tahu..” suaranya mulai bergetar.
“Karena aku begitu mencintainya.. Hati ini terlalu sakit.. Maafkan aku
Bianca.. Aku tadinya berjanji pada diriku untuk memberi kalian berdua senyum restuku tapi aku rasa aku tak akan bisa.. Tapi percayalah.. aku rela..” ia mengusap air mata dari pelupuk matanya. Aku bisa melihat cintanya yang
tulus.. Penderitaan yang mengalir bersama air matanya..
Kesedihan seorang perempuan yang tidak bisa bersama pria yang ia cintai
karena sesuatu yang bukan kesalahannya.. Kesedihan seorang perempuan yang rela menyerahkan orang ia cintai demi kebahagiaan orang tersebut.. Kesedihan seorang perempuan yang selama ini hidup dalam penyesalan, bahkan sampai saat ini sekalipun.. Mampukah aku mencintai Jason seperti Sarah mencintainya?
Mampukah aku melepaskan Jason di depan mataku sendiri seperti yang ia
lakukan? Mungkin benar, mencintai seseorang tidaklah cukup..
“Stanley benar.. Ia yakin kamu akan bangkit dan memperjuangkan kembali
cintamu.. Itu juga sebabnya ia mencintaimu, karena keberanian dan
kesetiaanmu.. walaupun justru itu yang membuatnya menderita..” ucapan Sarah kali ini benar-benar seperti sambaran petir di tengah-tengah bunyi hujan yang terdengar samar-samar.
“Apa katamu?” tanyaku seolah tak percaya akan apa yang baru saja kudengar..
“Kamu tidak sadar selama ini Stanley mencintaimu?” Sarah menatapku tidak
mengerti.
“Ia sendiri yang mengatakannya kepadamu?”
“Tanpa kata-kata pun aku tahu ia mencintaimu.. Pengorbanannya, meskipun
senyap, bagiku lebih jelas daripada bunyi guntur sekalipun..”
Sarah menunggu komentar dariku namun bibirku tetap terkunci rapat.
“Ia yang mebuatku yakin bahwa aku bisa melewati semuanya.. Melihatnya
tersenyum dan matanya berbinar ketika membayangkan dirimu bisa berbahagia dengan Jason terlihat begitu tulus.. Tapi aku tahu, hatinya pasti sakit.. Lebih sakit dariku.. Karena pengorbanannya jauh lebih banyak.. Karena
sedikitpun ia tidak pernah merasakan cintamu.. Karena ia harus terlihat
lebih tegar darimu sementara penderitannya jauh lebih berat darimu.. Karena
ia tidak bisa menceritakannya kepada siapapun.. Karena..”
“Hentikan.. kumohon.. hentikan..” Aku berbalik memunggunginya.
Aku menutup mulutku, menahan isakan tangis yang sebentar lagi akan meluap..
Air mataku mulai mengalir.. Stanley.. Mengapa selama ini aku tidak
menyadarinya? Ia mencintaiku..Semua kata-kata hiburannya, semua senyumnya, semua dukungannya..Semuanya ia berikan dengan penderitaannya sendiri sebagai gantinya..Dan aku? Sedikitpun tidak pernah memperdulikan perasaannya.. Sedikitpun tidak pernah kuhargai semua itu..
Aku telah buta.. buta karena pikiranku hanya terpusat kepada Jason seorang.
Aku menutup diriku.. Aku tidak menyadari ada seseorang yang lebih berarti
yang telah dihadirkan Tuhan untukku..
Sekarang ia di mana? Aku harus mencarinya. Aku mengangkat kepalaku, bersiap melangkah mencari Stanley.
Namun sosok yang berdiri di depanku menghentikan niatku. Jason.. Ia berdiri. Terpaku menatap kehadiranku dan Sarah.
Aku menatapnya, sama kagetnya.. Namun matanya tidak hanya menatapku
seorang.. Aku melirik ke arah Sarah. Ia berdiri diam, aku melihat ia memasang wajah kerasnya lagi, seolah tidak terpengaruh oleh kehadiran Jason di hadapan matanya. Namun aku tahu, tubuhnya sedikit gemetar..
“Sarah? Bianca? Bagaimana kalian bisa di sini?” Jason mendekati kami,
menatap kami bergantian dengan padangan kebingungan yang tidak bisa
diungkapkan.
Bagiku ucapan Jason sudah menunjukkan siapa yang sebenarnya ia nanti.
Dugaan Stanley dan Sarah salah.. Aku yang benar.. Ia masih mencintai Sarah.. Aku tahu tatapan matanya.. Aku tahu ke mana ia sebenarnya ingin melangkahkan kakinya..
“Pergilah Ca.. Jangan sia-siakan pengorbananku dan Stanley.. Aku mohon..
cepatlah pergi sebelum aku menangis..” bisik Sarah lirih..
Aku tak menjawab ataupun beranjak dari tempatku.. Dalam keheningan yang sesaat itu, aku membuat suatu keputusan dalam hatiku.. Aku meraih tangan Sarah, menariknya dan memaksanya berjalan mendekati Jason. Ketika Jason sudah tepat berada di depanku, aku meraih tangan pria itu. Sekilas aku teringat sentuhan-sentuhan kami dulu.. Buru-buru aku hilangkan bayangan konyol itu. Lalu aku menaruh tangan Sarah dalam genggaman tangan pria itu..
“Jason.. Tampaknya percintaan kita dulu benar-benar adalah suatu kesalahan.. Yang benar-benar kamu cintai adalah perempuan ini.. Ia juga mencintaimu.. Selama ini ia hidup dalam kesedihan yang tidak pernah kamu tahu.. Ia berhak untuk kau cintai..”
Aku menggerakkan tanganku ke leher belakangku, melepaskan kalung yang sudah tiga tahun ini menemaniku. Di kalung itu tergantung cincin pertunangan yang selama ini aku simpan, yang selama ini mengikat dan menahan hidupku..
“Aku kembalikan ini.. Sebagai tanda bahwa semua ini benar-benar berakhir..”
Aku menyelipkan kalung itu di sela-sela tangan Sarah dan Jason.
Lalu aku melangkah pergi.
“Bianca!” panggil Jason.. Aku berhenti dan menengok ke arahnya.
Ketika melihat kedua mata itu, ingin rasanya aku berlari kembali..memeluknya.. dan menciumnya dengan segenap kekuatan yang aku masih miliki..
“Aku tak mengerti apa yang terjadi.. Namun.. Terima kasih..” ucapnya tulus.
Sejujurnya aku tidak mengharapkan ia mengucapkan kata-kata itu.
“Aku berterima kasih karena kamu memudahkanku untuk memilih antara dirimu dan dirinya.. Tapi kau harus tahu, kamu benar-benar ada dalam hatiku, bahkan sampai sekarang.. Aku tak akan menahanmu kali ini.. Aku tahu kamu telah menemukan seseorang yang lebih baik dari diriku.. Seseorang yang cintanya tak pernah terbagi..” sambungnya.
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Aku menatapnya dalam-dalam, seolah-olah aku tidak akan menatapnya dengan tatapan yang sama lagi..Kenangan-kenangan kami bergantian terlintas dalam benakku, begitu jelas.. Perkenalan kami.. Pertunangan itu.. Dan perpisahan yang seharusnya mengakhiri semuanya, namun yang aku takut untuk akhiri..
“Terima kasih karena telah mengenalkanku pada cinta..” sahutku pelan.
Jason menatapku dengan tatapan yang hanya kami berdua yang mengerti. Kami sama-sama tahu, kenangan antara kami biarlah tersimpan dengan baik di tempat yang terbaik.. Karena kami sama-sama belajar dari situ..
“Bianca..” kini Sarah memanggilku “Kenapa?” tanyanya dengan mata
berkaca-kaca. Aku memalingkan tatapanku kepada perempuan itu, meyakinkan diriku bahwa menyerahkan Jason kepadanya adalah tindakan yang benar.. “Kamu yang mengatakan alasannya padaku tadi.. Terima kasih untuk membuka mataku..Aku harap kalian bahagia..”
Aku tersenyum sekali lagi kepada mereka berdua lalu aku membalikkan tubuhku. Aku sama sekali tidak menangis. Sebaliknya, aku merasa ada suatu beban yang lepas dari diriku.. Aku merasa seperti dilahirkan kembali.. Bebas dari kekangan dan bayang-bayang masa lalu..Dan aku merasa bangga karena aku telah membuat diriku begitu berarti bagi seseorang yang pernah aku cintai dengan setiap tetes darah ini..
Dan juga bagi perempuan yang mengajarkanku arti cinta yang sebenarnya.