When Love is Not Enough -2

Suatu cerita lama yang masih tetap menarik untuk dituliskan di media ini. Semua cerita dan nama yang ada, hanyalah khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan cerita. Hal tersebut hanya suatu kebetulan.

Bagian 2

Aku sedang kuliah tahun terakhir saat itu. Ia sedang liburan di Jakarta, dan orang tuanya yang merupakan teman baik orang tuaku membawanya ke rumah kami. Aku masih ingat kesan pertama yang kudapat sewaktu melihatnya. Tampan namun angkuh.

Bianca, kenalan sini sama Jason.” Aku baru saja pulang dari kampus waktu mama memanggilku. Aku duduk di sebelah mama dan mengulurkan tanganku kepada laki-laki yang dimaksud mama itu.

“Bianca” ucapku singkat. “Jason” ia membalas uluran tanganku singkat lalu melepaskannya lagi. “Bianca, Jason ini lagi liburan dari Sydney. Kuliah kamu kan juga sebentar lagi libur, bisa kan kamu temenin Jason kalau dia mau jalan-jalan?” Aku menatap mama heran karena permintaan mama terdengar janggal sekali.

“Ok” jawabku singkat, malas memperpanjang percakapan di depan orang yang tidak kukenal. “Jason, kamu catet donk nomor telponnya Bianca..” mama Jason tiba-tiba angkat bicara.

Aku baru ingat bahwa aku belum berkenalan dengan dua orang lagi yang duduk di sebelah Jason. Buru-buru aku berdiri dan menyalami mereka. “Kayaknya kita yang tua-tua ngobrol di belakang aja yuk..” papa lalu membawa orang tua Jason ke taman belakang, meninggalkanku dan Jason berduaan. Sejujurnya aku merasa canggung sekali karena aku memang bukan orang yang mudah bergaul.

“Bianca..” panggilannya membuatku sedikit terkejut. “Ya?” Ia lalu melambai-lambaikan handphone-nya. Nomormu?” tanyanya singkat seraya memberikan benda itu kepadaku. “Oh..” jawabku gugup. Kusimpan nomor handphone-ku di memori buku telponnya.

“Kamu miss call ke handphone kamu aja supaya kamu juga punya nomorku” ucapnya sewaktu aku hendak mengembalikan handphone-nya. “Oh..” ucapku lagi. Aku benar-benar merasa bodoh sekali. Malu mungkin lebih tepat. Lalu kudengar tawanya meledak. Aku menatapnya heran. “Untung mama kamu dah bilang kalau kamu anaknya pendiam dan pemalu..” ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri yang kecoklatan.

Aku dapat merasakan pipiku memerah saat itu. Anaknya ternyata cukup menyenangkan, tidak angkuh seperti yang aku bayangkan. Kami ngobrol cukup lama. Walaupun aku agak kaku pada awalnya, ia berhasil membuat suasana lebih santai dengan cerita-cerita konyolnya.

Jason Tjiputra. Ia besar di Sydney dan jarang pulang ke Jakarta. Ia sudah menyelesaikan kuliahnya dan sedang mencoba mencari pekerjaan. Papanya sebenarnya menginginkan ia membantu usaha keluarga mereka namun ia bersikeras ingin mencari pengalaman dulu di sana. Sementara ia menunggu lamarannya diterima, ia pulang kembali ke tanah air.

Dimulai dengan telpon-telponan tiap malam dan sesekali pergi bersama keluarganya, kami mulai jadi dekat. Sekali waktu, Ia bahkan nekat menjemputku di kampus. Sesuatu yang membuat geger anak-anak di kampusku. Kejadian itu masih segar dalam ingatanku, karena pada hari yang sama itulah, sesuatu merubah hidupku. Ia bersandar ke mobil mewahnya dengan gayanya yang angkuh. Tangannya dimasukkan ke saku celananya dan dari balik kacamata hitamnya, matanya seperti sibuk mencari-cari sesuatu. Aku hampir tidak percaya ketika melihatnya di lapangan parkir kampus sore itu. Buru-buru aku menghampirinya.

“Jason? Ngapain di sini?” sapaku sambil tertawa kecil, menyembunyikan rasa grogiku. “Ca, aku mau ajak kamu jalan.” Ucapnya dengan senyum lebar tersungging di bibir merahnya. Aku terkesiap mendengarnya. Ini pertama kalinya dia mengajakku pergi berdua saja. Aku melirik ke mobilnya, mencari-cari supirnya. “Supirnya mana?” tanyaku polos.

“Aku yang nyetir donk!” ucapnya bangga. “Hah? Nggak mau ah.. Kamu kan nggak bisa nyetir di sini..” sahutku pura-pura panik. “Jangan takut, aku dah latihan dari kemaren..” ia lalu berjalan melewatiku dan membukakan pintu mobil untukku. “Silahkan masuk, tuan putri.” Aku bisa merasakan tatapan tatapan yang tertuju padaku saat itu.

Bagaimana tidak, sore itu lapangan parkir sedang ramai-ramainya dan
tiba-tiba saja ia datang dengan semua keglamourannya. Ditambah lagi statusku yang memang kurang mengenakkan di kampus ini. Merasa tidak enak, aku memilih untuk buru-buru masuk ke mobil sebelum mereka menganggap aku sedang pamer cowok.

“Kok diem aja Ca?” tanya Jason sedikit tidak enak.

“Lain kali nggak usah jemput aku..” jawabku pelan.

“Kenapa sih memangnya? Nggak enak ama anak-anak di kampus? Biarin aja ah..” sahut Jason cuek. Ia sibuk mencari-cari lagu yang bagus dari CD changernya.

“Nanti aku diomongin yang macem-macem..”

“Diomongin apa sih?” tanyanya, kali ini agak lebih serius.

“Yah.. apa kek gitu.. Kamu kan tahu bagaimana sikap mereka sama aku.. Mereka tuh nggak suka sama aku..” jawabku, agak sedikit sedih mengingat-ingat celaan apa saja yang pernah ditujukan kepadaku..

“Mereka cuma sirik sama kamu.. Udah pinter, kaya, cakep lagi.. Plus dijemput ama cowok keren begini.. Kayaknya emang mereka bakalan makin sebel sama kamu sih..” Tanpa kusadari, aku tersenyum sendiri mendengar ucapannya. Entah kenapa, Jason bisa membuatku merasa dihargai dan berarti meskipun ia tidak pernah mengatakannya secara langsung