When Love is Not Enough -9

Suatu cerita lama yang masih tetap menarik untuk dituliskan di media ini. Semua cerita dan nama yang ada, hanyalah khayalan penulis. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan cerita. Hal tersebut hanya suatu kebetulan.

Bagian 9

“Biancaaaaaa..” Kudengar ia berteriak memanggil namaku. Kulihat jam weker di samping tempat tidurku. Sudah 30 menit berlalu, ia pasti sudah selesai
masak. Stanley adalah koki tercepat dan terhebat yang pernah aku kenal.
Tidak ada yang bisa menyaingi masakannya.

Waktu aku keluar dari kamar, kulihat ia sedang menata piring di meja makan.
Aku segera menghampiri dan membantunya.
“Ini ravioli dengan cheese cream-nya tuan putri..” ucapnya sambil menghidangkan makanan kesukaanku itu. Seperti biasa, Stanley tidak langsung makan. Ia selalu menyalakan musik. Katanya, kalau sambil mendengarkan musik yang romantis, makan apapun akan jadi enak. Malam ini ia memasang lagu First Love-nya Nikka Costa.

“Stan, malem ini kamu nggak jemput kakakmu?” tanyaku sewaktu ia sudah duduk bersama-samaku di meja makan.
“Tadi dia juga pulang cepet soalnya mesti jemput temennya yang baru datang
dari Jakarta.”
“Oh ya? Kenalin donkkk. cewek atau cowok?”
“Eh.. ganjennya kumat nih anak. Yang ini cewek, pokoknya jatahku..” balas
Stanley tak mau kalah.
“Ambil gih.. Dianya juga belum tentu mau sama kamu..” aku mencibirkan
bibirku.
“Udah.. serius nih.. Weekend ini kita disuruh temenin dia jalan-jalan
soalnya kakakku ada tugas di luar kota.”
“Oke, aku juga free kok..” jawabku senang. “Ngomong-ngomong, siapa namanya? Tau nggak?”
“Sarah.” Jawaban Stanley langsung membuat suasana hatiku kacau.
Sarah.. Mungkinkah Sarah yang itu? Aku melirik Stanley. Ia tampak biasa saja, sibuk mengunyah makanan di mulutnya yang penuh itu sambil sesekali bersenandung.

Weekend yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Aku tidak sabar ingin bertemu
dengan yang namanya Sarah. Aku ingin tahu apakah ia adalah Sarah yang selama ini membakar kecemburuan dalam diriku. Sarah yang selama ini membuatku ingin melupakan Jason selamanya. Ia muncul di hadapanku. Tepat seperti yang aku bayangkan, ia begitu cantik.. Jika ia adalah Sarah yang selama ini aku ingin temui, maka tidak salah Jason begitu tergila-gila padanya. Tubuhnya begitu sempurna, membuatku merasa minder seketika itu juga. Semua gerak-geriknya begitu sopan dan feminin, mencerminkan wanita yang sesungguhnya..Jika aku bukan wanita, mungkin aku juga akan jatuh cinta padanya.. Ketika Stanley meninggalkan kami berdua saja, kuberanikan diri untuk memancing-mancingnya menceritakan masa lalunya.

“Kamu berapa lama rencananya di sini?” tanyaku membuka percakapan.

“Sampai semua tempat sudah aku kunjungi..” jawabnya sambil menyibakkan
rambut panjangnya yang berwarna kecoklatan ke belakang dan tersenyum manis padaku.

“Kalau kamu? Apa sudah pasti menetap di sini?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Rasanya aku harus kembali ke Jakarta.”
“Oh.. udah ada yang nungguin di sana yah?” senyumnya nakal.
Kebetulan.. pikirku. “Wah.. nggak ada lah.. Emangnya kamu ada yah?”
Air wajahnya berubah sedikit, terlihat agak sedih. “Tidak ada yang
menungguku..” jawabnya.. misterius..
Aku terdiam, otakku berputar keras, mencari pertanyaan lain yang bisa aku
ajukan padanya.
“Kenapa kamu ama Stanley nggak pacaran aja? Kalian keliatannya cocok
sekali..” ia berbicara lagi.
Aku tertawa. “Stanley dan aku sudah seperti kakak adik. Kami nggak mungkin pacaran..”
“Atau apakah karna kamu masih mencintai orang lain?” tanyanya, tidak dengan nada yang terlalu serius.
Aku terhenyak. Tidak kusangka ia akan bertanya hal seperti itu pada
perjumpaan pertama kami walaupun aku tahu ia tidak bersungguh-sungguh dengan pertanyaannya.

Ia tersenyum. “Tidak perlu dijawab. Aku sudah tahu jawabannya..”
Aku menatapnya heran. Ia tidak membalas tatapanku.
“Kalau kamu?” tanyaku memberanikan diri.
“Aku? Semua orang pasti memiliki seseorang yang dicintai..” kini ia
menatapku. Tatapan matanya begitu tajam, namun indah..

“Ohh..” jawabku kikuk. “Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa kenal dengan kakaknya Stanley?” tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan. Mungkin lain kali baru aku coba membahas hal ini lagi.

“Kami berkenalan waktu aku sekolah di Sydney.”
Jantungku mulai berdetak cepat. “Oh ya, kapan kamu lulus?”
“Aku tidak pernah lulus kuliah.. Aku harus menikah.” matanya menerawang.
Ia lalu tertawa kecil. “Jangan pikir aku menikah karna sudah hamil duluan yah..”
“Kalau begitu, kenapa kamu menikah?”
“Dijodohkan..”
Tidak salah lagi.. Dia pasti adalah Sarah yang mantan kekasih Jason. Belum aku sempat bertanya lagi, Stanley sudah muncul. Percakapan kami terputus..

“Kamu yakin?” tanya Stanley sewaktu aku memberitahukannya tentang kesimpulan yang aku dapatkan tentang Sarah.
“Ya abisnya kan aneh kalau bisa ada dua kejadian mirip seperti itu..”
“Tapi dari yang aku dengar, dia masih single kok.. Lihat aja, emangnya dia
kelihatan kayak orang udah nikah? masih seksi begitu..” Stanley bersuit.

Aku melemparkan bantalku ke kepalanya.. Kesal dengan sikapnya yang tidak
serius. Ia malah membalas lemparanku dan perang bantalpun dimulai. Belum
sampai lima menit..

“Nyerah.. nyerah..” ucap Stanley akhirnya dengan napas terengah-engah.

“Makanya.. diettt!! Kegendutan sih..” aku tertawa lepas.
“Ca..” panggil Stanley serius. “Aku akan tanyakan pada kakakku tentang
Sarah.”

“Thank you, Stan.. You are the best!” aku memeluk sahabatku itu.
Menurut Tania, kakaknya Stanley, Sarah batal menikah dengan pria yang
dijodohkan oleh orang tua mereka. Alasannya simple saja, pihak pria yang
memutuskan perjodohan tersebut. Selebihnya Tania tidak pernah bertanya
banyak, takut hal tersebut akan membuatnya sedih. Sarah juga agak tertutup.
Tania bahkan tidak pernah mendengar nama Jason.

Aku agak sedikit kecewa karena tidak banyak informasi yang bisa diberikan
oleh Tania. Namun aku belum menyerah.

Malam ini house mate-ku menginap di rumah temannya jadi Stanley akan datang dan masak makan malam untukku. Ia juga akan mengundang Sarah untuk bergabung bersama kami. Menurut Stanely, aku bisa manfaatkan kesempatan ini untuk bertanya lebih banyak tentang masa lalunya. Stanley dan Sarah datang bersama. Stanley langsung mulai memasak sementara aku diminta menemani Sarah ngobrol. Aku mengajak Sarah untuk berbincang-bincang di kamarku.

“Wah, kamarnya rapih ya..” puji Sarah. Ia lalu duduk di dekat meja
belajarku. Belum aku sempat berbicara, kudengar Stanley memanggilku. Aku memutar bola mataku. ‘Ada apa lagi sih..’ gumamku. “Bentar yah Sar..” aku meninggalkan dia sendirian. Ketika aku kembali ke kamar, aku terkesiap melihat Sarah sedang memegang undangan pernikahan Rosa.

“Kamu kenal yang pengantin pria atau pengantin wanita?” tanyanya tajam.
“Aku sahabat Rosa. Kamu?” Entah mengapa, aku tidak suka dengan sikapnya yang menurutku agak sedikit kurang sopan.
“Jadi kamu yang bekas tunangannya Jason..” gumamnya pelan. Aku merasa agak tersinggung ketika mendengarkannya mengatakan kata ‘bekas’.

“Jadi kamu yang bekas pacarnya Jason..” balasku tak mau kalah walaupun tetap kuusahakan agar nada bicaraku tetap terdengar bersahabat.

Ia berdiri dan menghampiriku. “Ya, tepatnya, aku cinta pertama Jason.”
Aku membalas tatapannya. Aku merasa marah, terluka dan terkalahkan..
“Kamu memang cinta pertamanya.. Namun apakah ia masih mencintaimu sekarang?” balasku.
“Aku rasa kamu pun tahu jawabannya.” Ia tersenyum. “Kamu dulu bisa
mendapatkannya karena aku pergi dari hidupnya.”
“Ia tidak pantas mencintaimu setelah kamu meninggalkannya begitu saja.”
Aku merasa emosiku sudah naik ke ubun-ubun.
“Terserah kalau kamu mau menyalahkanku. Namun satu hal yang pasti, aku masih mencintainya dan akan kubuktikan padamu, aku bisa memilikinya kembali..” ucapnya sinis.

Suasana makan malam itu menjadi dingin. Aku tidak mengucapkan sepatah
katapun. Stanley yang sibuk mengajak Sarah ngobrol dan mencoba mencairkan suasana. Tampaknya Stanley sudah bisa menduga apa yang terjadi.

Sarah sendiri bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Aku tidak menyangka
Jason bisa menyukai orang seperti dia.. Sungguh munafik.. Atau mungkin Jason tidak pernah mengetahui sisi lain dari perempuan ini?

Setelah mengantar Sarah pulang, Stanley kembali lagi ke rumahku untuk
menanyakan apa yang terjadi. “Aku nggak nyangka deh anaknya rese begitu..” ucapku setelah aku menceritakan percakapanku dengan Sarah tadi.

“Jadi gimana donk? Sekarang kamu sudah tahu dengan pasti, dia adalah Sarah yang mantan pacarnya Jason.. Lalu?”
Aku termenung mendengar pertanyaan Stanley. “Aku nggak tahu Stan.. Aku hanya tidak rela melihatnya merebut Jason dariku.. Dia tidak pantas mendapatkan Jason lagi..” ucapku dengan mata menerawang. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Kalau begitu, buktikan padanya, Jason lebih memilih kamu..”
Aku menatap Stanley lama sekali.. Sejujurnya aku agak ragu apakah Jason akan memilih diriku. Aku tahu, seberapa besar pun luka yang pernah ditinggalkan ditinggalkan Sarah, Jason akan selalu memaafkannya. Aku pun pernah terluka karena alasan yang sama. Benarkan Jason akan memilihku?

Seperti bisa membaca pikiranku, Stanley menggenggam tanganku erat. “Ambillah cinta yang menjadi hak kamu sebelum kamu menyesal..” ia meyakinkanku.

Ucapan Stanley seperti memberiku sebuah keyakinan. Aku mengangguk, “Kamu benar, Stan.. Mungkin ini sudah saatnya..”
Esoknya, aku memutuskan untuk menelpon Sarah.
“Ini aku, Bianca..” ucapku dingin.
“Oh.. ada apa?” tanyanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa antara kami.
“Katamu, kamu bisa merebut Jason kembali. Aku minta kamu buktikan itu..”
Ia terdiam sebentar. “Bagaimana kalau kita ubah permainannya. Kalau kamu
bisa buktikan, Jason lebih memilihmu daripada aku, aku yang akan pergi..”

“Caranya?” tanyaku.
“Simple saja. Aku tunggu kamu di pesta pernikahan Rosa..”
“Apa kamu bilang? Kamu juga diundang?” tanyaku kaget.
“Bukan urusanmu..” jawabnya dingin.
Kini aku yang terdiam sebentar. “Baik.. Aku harap kamu tepati ucapanmu..” Ia
lalu menutup telpon itu begitu saja.

Tidak lama setelah kejadian itu, aku dengar dari Stanley, Sarah kembali ke
Jakarta. Aku sendiri tidak pernah berbicara lagi dengannya. Aku tidak pernah
merasakan kebencian yang begitu dalam terhadap seseorang sebelumnya. Bukan hanya karena aku merasa ia adalah sainganku, namun juga karena sikapnya yang terlalu meremehkanku.

“Ca, kamu yakin, kamu akan back for good?” tanya Stanley selagi kami makan
malam bersama. Lagu Forever Love-nya Gary Barlow menemani kami.

“Cepat atau lambat aku tetap harus kembali kan?” aku memain-mainkan nasi di piringku dengan tidak selera.
“I’ll miss you..” ucapnya. Aku tertawa.

“Ca..” panggilnya lagi. “Apakah kamu dah siap bertemu dengan Jason?”
Aku spontan mengangkat bahuku. “Aku agak takut Stan.. Tapi kehadiran Sarah seperti mendorong aku untuk menerima kenyataan bahwa aku masih mencintai Jason.. Ia seperti memberi aku keberanian untuk mengambil keputusan yang tidak pernah berani aku ambil sebelumnya..” aku menatap Stanley kosong.

“Bagaimana kalau nanti Jason ternyata memilih Sarah?” tanya Stanley
seketika. Aku agak kaget dengan pertanyaan Stanley. Aku selalu takut memikirkan kemungkinan itu.
“Aku doakan ia bahagia dengan Sarah..”
“Lalu bagaimana denganmu?”
“Entahlah..”
Stanley menggenggam tanganku hangat. “Kalau itu terjadi, kamu harus ingat,
aku selalu di sini, mendukungmu..”
“Terima kasih Stan..”
Stanley tersenyum. “Jangan khawatir. Hal itu takkan terjadi karena Jason
pasti memilihmu..”
“Bagaimana kamu bisa begitu yakin?”
“Karena aku tahu, Jason bukan laki-laki bodoh yang mau melepaskanmu begitu saja..”
Aku tersenyum. Aku mempererat genggaman tangan kami. Saat bersama Stanley, aku menemukan apa yang disebut orang sebagai suatu ketenangan..

“Jadi Stan.. Kamu sendiri bagaimana?”
“Aku? Yah begini-begini saja..” jawabnya dengan gayanya yang lucu..
“Kamu nggak cari pacar? Aku tahu kok ada beberapa bule yang demen sama
kamu..” ledekku.
“Wah.. males aku ama bule, nanti kalo dah nikah pasti pada melar.. Aku butuh
yang kurus donk, supaya nggak berebut makanan.. Sekalian memperbaiki
keturunan.. Masa dari generasi ke generasi keluarga besar-besar semua sih??”

Aku tertawa mendengar komentarnya. “Stan, kayaknya yang jadi istri kamu
pasti lama-lama juga gendut soalnya dimasakin yang enak-enak terus sih..”

“Ah.. tuh kamu aja makan dari tadi kaga abis-abis.. Nggak enak yah?” gaya
sok ngambeknya mulai keluar.
“Maap deh.. Abisnya lagi nggak enak badan nih.. Tau sendiri kan?” aku
mengedipkan mataku.
“Nggak, nggak tahu.. Aku kan LAKI-LAKI!” lagi-lagi ia membuatku tertawa.
“Aduh Stan.. aku nggak bisa bayangin nih.. di Jakarta nanti bakalan nggak ada kamu..” ucapku serius..
“Siapa bilang?”
“Hah? Kamu juga ke Jakarta?” tanyaku kaget.
Ia tersenyum nakal, namun aku tahu, senyumannya itu berarti ‘iya’. Aku
langsung berteriak kegirangan dan memeluknya.
“Eh, jangan kesenengan dulu.. Aku cuma liburan di sana..”
“Nggak pa-pa.. Pokoknya kamu mesti nemenin aku pas pestanya Rosa..” paksaku.
“Memang itu tujuanku kok.. Aku mau kamu berbagi kebahagiaan denganku..
Pokoknya, jangan mentang-mentang dah jadian lagi ama Jason, aku
ditelantarkan yah! Awas!” ancamnya sambil sok mengacung-acungkan tinjunya.

“Beres boss!” sorakku gembira..
Stanley memang selalu tahu kapan aku membutuhkannya..

Waktu kepulanganku ke Indonesia semakin mendekat. Sudah dari jauh-jauh hariaku mempersiapkan semuanya. Karena kali ini kepulanganku adalah untuk selamanya, aku mempersiapkan semuanya dengan begitu cermat.

Dengan dibantu Stanley, aku sudah siap pulang sekarang.. Ia bukan hanya
membantuku secara fisik, ia juga menguatkan diriku, terus menerus
meyakinkanku bahwa ini adalah keputusan yang benar..

Di saat aku takut dan bimbang, pelukannya terbuka lebar untuk
menenangkanku.. Di saat aku mulai membayangkan perpisahanku yang menyakitkan dengan Jason, tawa dan lelucuon konyolnya akan membuat semua itu sirna seketika.

Di saat aku sedih karena akan berpisah darinya, senyum dan genggaman
tangannya meyakinkanku bahwa ia selalu ada di setiap langkahku.. Bahwa ia
selalu berdiri di sampingku dan siap menopangku kapan saja aku terjatuh..

Aku tak tahu mengapa, semuanya itu malah membuatku semakin sedih dan takut.. Membayangkan perpisahanku dengannya, aku merasa seperti anak kecil yang akan dipisahkan dari mainan kesayangannya.. Aku tahu ini adalah perasaan yang bodoh.. Aku akan memulai hidupku yang baru, bersama dengan cinta pertamaku, sesuatu yang aku pendam dan aku nantikan selama ini..Aku harus bahagia kali ini.. Harus….